Puisi

All posts in the Puisi category

Libur Jadi Penyair

Published 3 Mei 2015 by endangkurnia

niat

Sekali waktu,

aku libur jadi penyair.

Menyaru sebutir apel,

tapi pisau sepi membelahku.

Aku jadi kupu-kupu,

Sepi jadi ulat masa lalu.

Ada baiknya aku jadi biji saja.

Eh, dasar! Ada lalat

menghisap-hisap sisa manisku.

Kukemas diriku jadi kanvas.

Pucat putih itu.

Endless Kurnia,

Bertemu Tenang

Published 10 Januari 2015 by endangkurnia

Bertali arus dugaan tiba
Menakung sebak airmata
Namun tak pernah pun setitis
Gugur berderai di pipi
Tidak ditempah hidup sengsara

Suratan nasib yang melanda
Menongkah badai bergelora
Diredah bersendirian
Bagaikan camar pulang senja
Patah sayapnya tetap terbang jua
Sekadar secicip rezeki

Buat yang sedang rindu menanti
Segenggam tabah dipertahankan
Buat bekalan di perjalanan
Kau bebat luka yang berdarah
Kau balut hati yang calar

Telah tertulis suratan nasibmu
Derita buatmu ada hikmahnya
Terlukis senyum di bibir lesu
Tak siapa tahu hatimu

Biarpun keruh air di hulu
Mungkinkah jernih di muara
Biarpun jenuh hidup dipalu
Pasti bertemu tenangnya

Ling, Surga Semakin Dekat Saja

Published 10 Januari 2015 by endangkurnia

Ling, surga semakin dekat saja
Bergema menyebut nama-nama
Menggambar wajah-wajah
Yang pernah singgah
Menyemat sejarah

Ling, surga semakin dekat saja
Rupa-rupa yang pernah ada
Berbenah, merebut impian
Merebut keakraban
Selepas meninggalkan tanah kelahiran

Ling, surga semakin dekat saja
Membentangkan lembar-lembar pengetahuan
Merekatkan perjalanan

Ling, surga semakin dekat saja
Aku serasa menatapnya
Menikmati desir yang menepis anyir

Matamu, Ling
Mata yang puisi
Mata yang melahirkan diksi-diksi
Mata yang menampung mimpi

Ling, betapa rindu
Mata beradu
Mata menyusuri surga
Yang kau sebut ibu

Aku masih bertarung
Melerai sakit
Di tanah yang aku sebut ibu
Tanah yang mengasuh
Betapa perjuangan tak pernah
Terlerai dari sejarah

Ling, selalu ada keriangan
Tiap kudengar namamu
Tiap kudengar surga
Keriangan yang menghapus peta rindu
Mendengar namamu dan surga
Pengobat rindu yang berdentum di sana

Ling, betapa ingin aku rekatkan
Hati dan surga
Supaya semakin dekat saja

Endless Kurnia,

My Dearest….

Published 3 September 2014 by endangkurnia

Without your warmth, without your smile. Without you by my side. The world so cold, I felt so lost.

A thousand miles I’d rund walk, a thousand time I’d slip n fall but for you, I’d do it again a thousand time.

You gave me hope, you let me dream made me beleive I can still trust. You raised me up, you gave me wings just like a kite in the sky.

No words are enough to convey all the things I want to say. I won’t even try cause I know deep down you feel how much I care. Now I hold my head up high.

I see my dreams coming true, peace be with you my dearest…… In my heart u will remain.

IeKey

Rindu Surga Dunia

Published 18 Juni 2014 by endangkurnia

Rindu adalah tali yang tak pernah putus

Merentang di tiang hati, di tiang mimpi

Kadangkala disinggahi burung yang mengelakkan kabut

Pada pagi dingin yang mengaburkan sinar matahari

Aku rindu mendengar suaramu, riuh renyah tawamu, maupun tatapan dalam diammu, rindu sisa harum tubuhmu yang tertinggal, nasehat-nasehat kecil yang kau lontarkan padaku.. Aku rindu surga duniaku…

Rindu adalah tiang yang tak pernah tumbang

Tegak dilorong kehidupan, disepanjang labuh usia

Disitu tergantung lampu kenangan dan ingatan

Biarpun hari semakin tua dan kelam sudah bermula

Aku rindu melihat senyummu, rindu kehadiranmu disampingku, nyanyian kecil yg selalu kau senandungkan. Aku rindu surga duniaku…

Rindu adalah lorong yang tak pernah tertutup

Dari musim ke musim ia menjadi laluan

Pengembara yang mencari cintanya yang hilang

Disitu rumput yang telah lama bertukar warna

Bunga dan daun silih berganti segar dan kuncup

Aku rindu efek yang kau timbulkan ketika kita bersama, juga rasa sepi yang kau tinggalkan ketika kita berpisah… Aku rindu surga duniaku…

Rindu adalah musim yang tak pernah tentram

Resah datang gelisah berulang mengusik nasib

Hanya dzikir dan do’a menjadi penawar mereda pedih dan sakit

Dan sesekali puisi menjadi nyanyian yang mengharukan

Dalam senyap air mata perlahan-lahan menitik

Aku rindu surga duniaku, PJ.

.

Tak Kulihat Sutera Disana…

Published 20 Mei 2012 by endangkurnia

Hanya pakaian dunia…

Menutup humanisme

Membungkus resah

Dalam pencarian definisi nyaman

Menyelimut gundah

Saat mata lelah berharap nyenyak

Kegelisahan merong-rong

Kala arogansi bermutasi dalam gen-gen hewanis

Metaforfosis…

Dalam progesifitas kanibalis

Tak abadi

Lapuk…dalam degenerasi

Lusuh.. diatas lantai bermerk kain pel

Terinjak..

Tercampak usang dalam kotak sampah

Terbakar dalam tungku kebosanan

Hangus tak berharga

Punah dalam keharusan prosesi

Sendiri dalam dingin

Berdialog empat mata dengan penjaga tanah

Kala palu raksasa menghantam keras

Memecah sombongnya kepala

Rengkah…

Berkawan tanah dan papan liang

Kala belatung dan cacing tanah bermain

Menggrogot pelan..

Bersama ratapan..yang tak berujung

Tak kulihat Sutera disana..

Hanya kafan dan tulang-belulang kesombongan

cuma kafan…!!!

Ya Rasul, Aku Kangen

Published 20 Mei 2012 by endangkurnia

Diantara kesendirianku
Diantara kelelahanku
Sosoknya selalu tergambar dalam lensa mata ini
Walau ku pejam sampai letih mataku ini
Namun semakin jelas tergambar dalam kesendirianku
Ku tatap langit
Ku pandang senja dan bisikan sang bayu
Tentang jalan yang teramat panjang

Sejuta tanya ku ucap pada rumput yang menghijau
Mungkinkah apa yang kurasakan kau rasakan jua
Mengapa ada batas waktu
Mengapa ada jarak yang memisahkan
Terasa berat kupikul perasaan ini

Ingin kutitipkan sebuah kalimat “Ya Rasul, aku kangen…”
Agar kau pun tenggelam dalam kerinduan akan hadirku

Allahumma sholli ala Muhammad wa ala Muhammad

Untuk: SATU JAM MENULIS SERENTAK MILAD FLP
Endang Kurnia, Koord. Kaderisasi FLP Cirebon
11:17 WIB / 26-02-2012

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.084 pengikut lainnya.