Puisi

All posts in the Puisi category

Menulis Sajalah

Published 23 Agustus 2017 by endangkurnia

Apin memberiku lima buah puisi untuk diberi penilaian. Katanya, dia siapkan lima puisi itu untuk dikirim ke redaksi surat kabar nantinya. Dia ingin sekali bisa menembus redaksi halaman sastra surat kabar. Setahu saya, Apin ada beberapa kali puisinya dimuat di surat kabar. Sebenarnya, motivasi menulis puisi untuk dimuat di sebuah atau beberapa harian itu motivasi yang keliru, sebab tanpa perlu dimuat di media massa, puisi juga bisa berdaya di media sosial atau blog seperti yang saya lakukan. Tidak dimuat pun tidak mengapa. Tak perlu gundah. Menulislah saja terus. Atau berhenti pun tak apa. Dan sebenarnya, lebih banyak, dimuat atau tidak puisi di surat kabar, sangat tergantung dari selera redaksinya.

Lima buah puisi Apin, semuanya bertema cinta. Tema yang umum, sebenarnya, dan tidak istimewa. Maka bertaburan kata cinta, rindu, juga hati. Begini puisinya yang pertama:

DIBASUH RINDU 
Kasih, saat cinta ini ku ucapkan dulu
asaku begitu lusuh dibasuh rindu
dalam penantian
tak berkesudahan
malam selalu menyapu ragu
Ketika malam berbintang
aku pun lelap setiap menatap rindu
hingga kini masih tersimpan
di sini
Ya Allah, hanya Engkau
sebagai Pelindung abadi
*** (2016)

Ya. Saya menduga yang disebut sebagai (ke)Kasih di bait pertama kemungkinan besar adalah Allah. (Pernyataan) Cinta yang diucapkan kepada Allah kemungkinan besar berarti Syahadat. Itulah mengapa bait ke tiga yang seperti sebuah bagian dari doa itu muncul. Perlu diingat bahwa puisi memang dulu secara tradisi ada pada puja/pujian/doa, maka puisi yang seperti doa pun tak masalah. Namun akan menjadi masalah ketika berdoa malah seolah bercerita atau bertele-tele. Seperti yang dilakukan Apin ini, dia bercerita tentang perasaannya setelah (menyatakan) cinta yang lusuh penuh kerinduan panjang, dan setiap malam mengingatkannya pada kerinduan aku-lirik pada Allah / Kekasihnya itu.

Mari kita bandingkan puisi itu dengan Doa-nya Chairil Anwar;

Doa Sunyi
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
13 November 1943

Atau bandingkan dengan Mazmur (15) berikut ini;

Mazmur Daud.
TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?
Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela,
yang melakukan apa yang adil
dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
yang  tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
yang tidak berbuat jahat  terhadap temannya
dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
yang  memandang hina orang yang tersingkir,
tetapi memuliakan orang yang  takut akan TUHAN;
yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
yang  tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba
dan tidak menerima suap  melawan orang yang tak bersalah.
Siapa yang berlaku demikian, tidak akan  goyah selama-lamanya.

Perbedaan mencolok antara puisi Apin dengan Doa-nya Chairil atau Mazmur Daud No. 15 adalah Apin menceritakan sesuatu yang ada di antara Aku lirik itu dengan “doa”-nya. Doa yang ada pada puisi Dibasuh Rindu itu hanya ada pada bait ke tiga saja. Dua bait di atasnya adalah sebuah cerita atau pengantar. Chairil menggunakan seluruh larik, dan kalimatnya sebagai dialog intens antara Aku lirik dengan Tuhan. Daud dalam Mazmur 15 itu melakukan “tanya-jawab.” Lalu, apakah “bercerita” itu salah? Puisi jelas bukan dongeng yang perlu dibuka dengan “pada suatu hari…” Puisi sebaiknya langsung mengarah pada inti. Puisi imajisme, kelihatannya seperti memberi pengadeganan atau menjelaskan situasi, tapi coba perhatikan betul apa benar begitu? Atau puisi naratif itu (seolah) bercerita, apakah benar demikian? Puisi, jelas berbeda dengan pantun yang memerlukan sampiran, di mana lebih banyak sampiran itu tidak punya makna.

Jikalau bait terakhir dianggap sebagai inti puisi pada puisi Dibasuh Rindu tadi, masih ada satu persoalan. Ingatlah bahwa kaidah puisi adalah utuh dan kompleks, maka bait terakhir yang sebenarnya hanya satu kalimat yaitu “Ya Allah, hanya Engkau sebagai Pelindung Abadi” itu masih menyisakan pertanyaan untuk dianggap utuh. Pelindung Abadi terhadap apa/siapa? Rindu? Ragu? Kalimat terakhir pada puisi itu juga bisa dikatakan tidak efisien. Kata “sebagai” rasanya bisa dihilangkan saja. “Ya Allah, Engkau Pelindung Abadi” sudah cukup.

Apin, sebagai teman, saya hanya bisa memberi saran — Jika sudah mencintai puisi, jangan tanggung-tanggung, cintai sepenuhnya. Bacalah karya penyair-penyair pendahulumu, sebagai pembanding dari apa yang sudah kautulis. Jangan sedih jika belum dimuat di surat kabar, puisi ditulis bukan untuk dimuat di surat kabar saja. Belajarlah lagi untuk membuat kalimat-kalimat efektif dan efisien, sebab puisi itu sebaiknya padat kata, bukan sebuah cerita yang diindah-indahkan atau sebuah perasaan yang dikemas dalam bunga-bunga bahasa. Jangan terburu nafsu mengejar rima. Rima itu hadiah, kata Hasan Aspahani, sebuah puisi bukan berarti merangkai kalimat dengan akhiran yang berbunyi sama atau mirip.

Pada dasarnya, puisi itu adalah buah pemikiran dan perasaanmu. Pahami lebih dahulu apa yang ingin kaukatakan sebelum menulis puisi. Jika ingin berdoa, berdoalah. Jika ingin memaki, memakilah dengan baik. Kata makian itu seperti puisi juga lho. Ada kata yang digunakan untuk mewakili pihak lain (biasanya kata-kata dari dunia binatang, atau kata-kata yang berkonotasi kedegilan), itu semacam metafora juga, jangan salah! Namun, puisi bukan makian, bukan ungkapan langsung seperti “Lapar, aku ingin makan!” Berpuisilah untuk menggambarkan rasa lapar itu. Berpuisilah untuk menggambarkan keinginan besar untuk makan. Seperti itulah puisi.

Sekali lagi, jangan putus asa kalau naskah-naskahmu belum dimuat di Surat Kabar. Bergembiralah, karena masih ada kesempatan untuk belajar lebih lagi. Sekadar gambaran, sekali pun puisi saya sudah pernah dimuat di Kompas dan Koran Tempo kemarin-kemarin, saya masih belum bisa menembus surat kabar yang lain seperti Indopos, Jawa Pos, Suara Merdeka, dan masih banyak lagi. Percayalah, setiap puisi punya nasibnya sendiri-sendiri.

Menulis sajalah. Anggap saja dimuat itu sebagai bonus.

Salam,

Endless Kurnia

Iklan

Bunga Tanpa Cela

Published 20 Januari 2016 by endangkurnia

image

Mementaskan warna ke hadapan mata kata. “Ini dukaku, buatlah peringatan atasnya,” dia meminta.

Embun meneteskan luka ke ribaan kata. “Ini rinduku,minumlah. Dan kau tak akan merasa haus lagi.” Begitu saja.

Tangan kata menggerakkan dunia. Daun-daun menggidikkan aku tanpa cela.

Endless Kurnia,

Angin

Published 29 Desember 2015 by endangkurnia

images2

Angin yang menebarkan duka di punggung pintu, ujar Jendela. Angin pula yang menaburkan kata-kata tak menentu di beranda. Bukan! Bukan aku! Bunga-bunga memawarkan aku. Hingga semua seolah menawarkan makna, jeritnya mencabik sepi di telingaku.

Endless Kurnia,

Dari Haluan

Published 29 Desember 2015 by endangkurnia

p

Dari hati yang hancur
Adalah pelaut
Tidak pernah tertidur
Berlayar di laut kenangan

Bibir tergetar angin sambil melancar terus
Tetap lagu daratan harap
Yang lama tenggelam sudah

Pada jenak-jenak tertentu
Memandang dari haluan boleh bermisal
Laut wajah umpama menatap
Jauh langit berjarak

Dalam kerling sekilas pula
Lantas biasa melepas pandang
Ke buritan terus jauh sampai

Tinjauan kaki langit tertangkap
Laut langit saling berdekap
Tidak akan terpisah seolah karna doa

Endless Kurnia,

Sejak Malam Ini

Published 29 Desember 2015 by endangkurnia

a

Sejak malam ini
Aku putuskan untuk berhenti
Menjadi seorang jago tembak

Bulan sungguh putih
Seputih tudung karavan
Milik tukang obat keliling

Aku melangkah lambat
Menyusur gurun
Misalkan gerobak sirkus keliling
Merasa lelah dan kesepian

Aku ingat sebuah bar di jantungmu
Dengan pajangan kepala menjangan
Di dinding kayunya yang kokoh

Sejak malam ini
Aku putuskan
Bahwa hati harus lapang dan sepi

Bulan sungguh putih
Lengannya terulur menyentuh
Kembang kaktus yang mekar

Angin menghimpun bisikan
Rumputan dan semak liar
Dari sebuah tanaman yang ditinggalkan

Dengan pagar kayu yang lapuk
Dengan sepucuk senapan berburu
Mengintip dari rimbun mata

Sejak malam ini
Aku putuskan untuk menjadi
Penulis roman picisan
Seharga beberapa keping sen

Tentang koboi penyendiri
Yang berkuda menyongsong matahari
Yang terbenam

Endless Kurnia,

Godaan Diri

Published 25 September 2015 by endangkurnia

2

Dengarlah alunan seruling dunia
Merdu mendayu menyapa sukma kelana
Nikmat memikat diri khianat
Dengan pesta menutup jalan langit

Di padang fatomargana tempat berburu
Memetik cinta menghijab nafsu
Ketika setan iblis berpesta menebar mimpi
Diri terjepit
Bumi menghimpit langit

Dengarlah suara langit menghardik
Membangunkan diri dari mimpi-mimpi
Menangkal jampi-jampi sang peri
Menuntun diri ke jalan hakiki

Efek rindu dapat ilmu.
Endless Kurnia,

Ada Allah

Published 23 September 2015 by endangkurnia

2

Jika sendiri jangan merasa sepi, ada Allah yang mengawasi.

Jika sedih jangan dipendam dalam hati, ada Allah tempat berbagi.

Jika marah jaga pikiran dan hati, ada Allah tempat menenangkan diri.

Jika susah jangan merasa pilu, ada Allah tempat mengadu.

Jika gagal jangan berputus asa, ada Allah tempat meminta.

Jika bahagia jangan menjadi lupa karena Allah, segalanya ada.

Ada Allah.
Endless Kurnia,