AlQur’an

TAFSIR SURAT AN-NASHR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (١)
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (٢)
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (٣)
1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.
3. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat.
Surat an-Nashr, dikenal juga dengan sebutan surat at-Taudi’.1 Surat yang berjumlah tiga ayat ini disepakati oleh para ulama sebagai madaniyyah. Maksudnya, turun setelah peristiwa hijrah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah.
Ibnu Rajab rahimahullah menyimpulkan bahwa surat ini turun sebelum Fathu Makkah. Karena firman Allah
{ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ }
menunjukkan dengan sangat jelas kalau penaklukan kota Mekkah belum terjadi.4

PENJELASAN AYAT
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (١)
(Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan).
Kata nashr, artinya al ‘aun (pertolongan).5
Yang dimaksud dengan nashrullah dalam ayat ini, menurut Ibnu Rajab rahimahullah ialah pertolongan-Nya bagi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam saat berhadapan dengan musuh-musuhnya, sehingga berhasil beliau menundukkan bangsa ‘Arab semuanya dan berkuasa atas mereka, termasuk atas suku Quraisy, Hawazin dan suku-suku lainnya.
Secara eksplisit, surat ini memuat bisyarah (kabar gembira) bagi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin. Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata,”Dalam surat ini terdapat bisyarah dan perintah kepada Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallam pada saat kemunculannya. Kabar gembira ini berupa pertolongan Allah bagi Rasul-Nya dan peristiwa penaklukan kota Mekkah dan masuknya orang-orang ke agama Allah Ta’ala dengan berbondong-bondong.”
Dalam menjelaskan pengertian ayat di atas, Syaikh Abu Bakr al Jazairi mengungkapkan: “Jika telah datang pertolongan Allah bagimu wahai Muhammad, hingga engkau berhasil mengalahkan para musuhmu di setiap peperangan yang engkau jalani, dan datang anugerah penaklukkan, yaitu penaklukan kota Mekkah, Allah membukanya bagi dirimu, sehingga menjadi wilayah Islam, yang sebelumnya merupakan daerah kekufuran”.
Adapun pengertian al fathu pada surat ini adalah fathu Makkah. Yakni penaklukan kota suci Mekkah. Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Yang dimaksud dengan al fathu yaitu fathu Makkah. (Ini merupakan) sebuah pendapat yang sudah bulat.”
Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath Thabari rahimahullah , Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dan Imam al Qurthubi rahimahullah juga menegaskan pendapat senada.

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (٢)
(Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong).
Disebutkan dalam Shahihul-Bukhari, dari ‘Amr bin Salimah, ia berkata: (Dahulu) bangsa Arab menunggu-nunggu al Fathu (penaklukan kota Mekah) untuk memeluk Islam. Mereka berkata: “Biarkanlah dia (Rasulullah) dan kaumnya. Jika beliau menang atas mereka, berarti ia memang seorang nabi yang jujur”. Ketika telah terjadi penaklukan kota Mekkah, setiap kaum bersegera memeluk Islam, dan ayahku menyegerakan keIslaman kaumnya .
Menurut Imam al Qurthubi, peristiwa tersebut terjadi ketika kota Mekkah berhasil dikuasi.
Bangsa Arab berkata: “Bila Muhammad berhasil mengalahkan para penduduk kota suci (Mekkah), padahal dulu mereka dilindungi oleh Allah dari pasukan Gajah, maka tidak ada kekuatan bagi kalian (untuk menahannya). Maka mereka pun memeluk Islam secara berbondong-bondong”.

Tidak berbeda dengan keterangan itu, Ibnu Katsir rahimahullah juga memberi penjelasan: “Saat terjadi peristiwa penaklukan Mekkah, orang-orang memeluk agama Allah secara berbondong-bondong. Belum lewat dua tahun, Jazirah Arab sudah tersirami oleh keimanan dan tidak ada simbol di seluruh suku Arab, kecuali simbol Islam. Walillahil-Hamdu wal minnah”. 13
Ayat ini juga menandakan, bahwa kemenangan akan terus berlangsung bagi agama ini dan akan semakin bertambah saat dilantunkannya tasbih, tahmid dan istighfar dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam . Ini merupakan bentuk syukur. Faktanya yang kemudian dapat kita jumpai pada masa khulafaur-rasyidin dan generasi setelah mereka.
Pertolongan Allah Ta’ala itu akan berlangsung terus-menerus sampai Islam masuk ke daerah yang belum pernah dirambah oleh agama lainnya. Dan ada kaum yang masuk Islam, tanpa pernah ada yang masuk ke agama lainnya. Sampai akhirnya dijumpai adanya pelanggaran pada umat ini terhadap perintah Allah, sehingga mereka dilanda bencana, yaitu berupa perpecahan dan terkoyaknya keutuhan mereka.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (٣)
(Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat).
Imam al Qurthubi rahimahullah menurutkan penafsirannya: “Jika engkau shalat, maka perbanyaklah dengan cara memuji-Nya atas limpahan kemenangan dan penaklukan kota Mekkah. Mintalah ampunan kepada Allah”. Inilah keterangan yang beliau rajihkan.

Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha , ia berkata: “Tidaklah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat setelah turunnya surat ini, kecuali membaca Subhanaka Rabbana wa bihamdika Allahummaghfirli (Maha Suci Rabb kami dan pujian kepada-Mu, ya Allah ampunilah aku)”.
Sejumlah sahabat mengartikan ayat ini dengan berkata: “(Maksudnya) Allah memerintahkan kami untuk memuji dan memohon ampunan kepada-Nya, manakala pertolongan Allah telah tiba dan sudah menaklukkan (daerah-daerah) bagi kita”. Pernyataan ini muncul, saat ‘Umar bin al Khaththab radhiallahu’anhum mengarahkan pertanyaan kepada mereka mengenai kandungan surat an-Nashr.17
Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari penjelasan ini dengan berkata: “Makna yang ditafsirkan oleh sebagian sahabat yang duduk bersama Umar radhiallahu’anhum ialah, bahwa kita diperintahkan untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya ketika Dia telah menaklukkan wilayah Madain dan benteng-bentengnya, yaitu dengan melaksanan shalat karena-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya merupakan pengertian yang memikat lagi tepat. Terdapat bukti penguat, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat delapan raka’at pada hari penaklukan kota Mekkah. Dalam Sunan Abu Daud termaktub bahwa beliau mengucapkan salam pada setiap dua raka’at di hari penaklukan kota Mekkah. Demikianlah yang dilakukan Sa’ad bin Abil Waqqash radhiallahu’anhu pada hari penaklukan kota Mada-in”.
إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
(Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat).
Maksudnya, Allah Maha menerima taubat orang-orang yang bertasbih dan memohon ampunan. Dia mengampuni, merahmati mereka dan menerima taubat mereka. Apabila Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam saja yang sudah ma’shum (terpelihara dari dosa-dosa) diperintahkan untuk beristighfar, maka bagaimanakah dengan orang lain?
PELAJARAN DARI SURAT AN-NASHR
– Banyaknya anugerah Allah yang dikaruniakan kepada umat Islam.
– Kewajiban bersyukur manakala kenikmatan tercurahkan. Di antaranya dengan sujud syukur.
– Kewajiban untuk selalu beristighfar setiap saat.

TAFSIR SURAT AL-KAUTSAR (SUNGAI DI SURGA)

Allah SWT berfirman (artinya),
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.[1] Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah.[2] Sesungguhnya orang-orang yang membeci kamu dialah yang terputus.[3]

Allah SWT berfirman kepada nabi-Nya, Muhammad SAW mengingatkan nikmat yang telah diberikan kepadanya:

1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu sungai yang besar di surga yang dinamakan AL-KAUTSAR. Ia adalah telaga yang panjangnya perjalanan satu bulan dan lebarnya juga perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Bejanannya sbanyak dan semengkilap bintang-bintang di langit. Baunya lbih harum dari minyak kasturi. Siapa yang meminum seteguk darinya, maka dia tidak akan merasa haus selamanya. Dan sungai ini adalah bagian darinikmat yang banyak, yang diberikan Allah kepadanya.

2. Setelah menyebutkan nikmat-Nyya yang diberikan kepada nabi-Nya, Muhammad SAW, Dia SWT memerintahkannya untuk mensyukuri nikmat itu dengan menjadikan shalat dan sembelihannya haya untuk Allah SWT, tidak seperti orang-orang musyrik yang bersujud dan menyembelih (binatang) untuk selain Allah, seperti patung, para wali dan lain sebagainya.

Dua macam ibadah ini secara khusus disebut karena keduanya merupakan ibadah yang paling utama dan yang paling mulia. Shalat mengandung ketundukan kepada Allah SWT, di hati dan di anggota badan. Sedangkan menyembelih adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah dengan harta berharga ang dimiliki manusia, yaitu onta, sapi dan kambing. Padahal jiwa manusia itu secara kodrati amat mencintai harta.

3. Kemudian Allah SWT berfirman, ‘wahai Muhammad, sesungguhnya orang yang membenci dan mencelamu itulah yang terputus dari semua kebaikan, terputus amal dan nama baiknya.

Sedangkan Muhammad SAW, maka dialah yang benar-benar sempurna, yang memiliki kesempurnaan yang mungkin dicapai oleh makhluk. Karena Allah telah mengangkat derajat dan namanya dan memperbanyak pengikutnya sampai hari Kiamat.

Ya Allah, ya Rabb kami, kami memohon kepada-Mu untuk dapat menyertai nabi-Mu di surga, dan meminum dari telaganya seteguk air yang menjadikan kami tidak akan merasa haus unutk selamanya.

(SUMBER: at-Tafsiir al-Yasiir karya Syaikh Yusuf bin Muhammad al-Owaid)

TAFSIR SURAT AT-TIIN (Keutamaan Buah Tiin)

TAFSIR AYAT

(1) Allah SWT bersumpah dengan dua pohon yang terkenal ini, yaitu Tin dan Zaitun, karena buah dan pohonnya mempunyai banyak manfaat. Dan juga karena keduanya berada di tanah Syam, tempat kenabian Isa ibn Maryam AS

(2) Dan Allah SWT bersumpah dengan bukit Sinai (tempatnya di Mesir), tempat kenabian Musa AS

(3) Kemudian Allah bersumpah dengan Makkah Al-Mukarramah tempat kenabian Muhammad SAW yang telah dijadikannya sebagai tempat yang aman dan dijamin aman pula orang yang berada di dalamnya. Allah SWT telah bersumpah dengan tiga tempat suci itu yang telah Dia pilih dan Dia munculkan darinya sebaik-baik dan semulia-mulia kenabian

(4) Sedangkan obyek yang disumpahkan adalah firman-Nya berikut ini, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, anggota badannya serasi dan tegak, tidak kehilangan sesuatu yang dibutuhkannya baik lahir maupun batin

(5) Meskipun terdapat nikmat-nikmat yang besar itu, yang seharusnya wajib disyukuri, tapi kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Mereka justru sibuk dengan permainan, mereka lebih memilih hal-hal yang tidak berguna dan akhlak yang rendah. Maka kelak di akhirat, Allah SWT akan mengembalikan mereka ke dasar neraka, tempat orang-orang bermaksiat yang membangkang kepada Rabb mereka

(6) Kecuali orang yang telah Allah berikan kepadanya anugerah iman, amal shalih dan akhlak yang mulia. Maka dengan itu mereka akan mendapat tempat yang tinggi di surga dan pahala yang tiada putus-putusnya. Yang ada adalah kelezatan yang melimpah, kesenangan yang tak henti-henti dan kenikmatan terus bertambah, untuk selama-lamanya. Buahnya tak ada henti-hentinya, demikian pula dengan naungannya

(7) Lalu Allah SWT menutup surat ini dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada hamba-Nya: Wahai manusia, apa gerangan yang menyebabkan kamu mendustakan hari pembalasan atas semua amal perbuatan? Sedangkan kamu telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang dapat memberimu keyakinan dan nikmat-nikmat Allah yang menuntut kamu untuk tidak ingkar terhadap setiap sesuatu yang Dia kabarkan kepadamu

(8) Bukankah Allah SWT adalah Hakim yang paling adil yang memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya? Dia tidak menzhalimi mereka dan tidak berbuat curang. Apakah pantas Kemahabijaksanaan-Nya lalu berarti membiarkan mereka sia-sia begitu saja; tidak diperintahkan dan dilarang serta tidak diberi pahala dan tidak disiksa? Atau bahwa Dzat yang telah menciptakan manusia jenjang demi jenjang, melimpahkan bagi mereka nikmat dan kebaikan yang terhingga dan mendidik mereka dengan sebaik-bainya, harus mengembalikan mereka ke suatu tempat yang menjadi tempat menetap mereka, yang kepadanya mereka menuju?

(SUMBER: at-Tafsiir al-Yasiir karya Yusuf bin Muhammad al-Owaid, tafsir surat at-Tiin)

TAFSIR SURAT AL-KAFIRUN

Teks Ayat

Katakanlah:”Hai orang-orang kafir!” [1].aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.[2] Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah.[3] Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.[4] dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah.[5] Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.”[6]

Info Umum

Surat ini diturunkan di kota Mekkah dan jumlah ayatnya 6 ayat.

Keutamaannya

Terdapat banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan surat ini, di antaranya:

– Ia Senilai Seperempat al-Qur’an

Imam at-Turmudziy meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Mâlik bahwasanya Rasulullah SAW., berkata kepada seorang shahabatnya, “Bukankah kamu hafal [Qul Yâ Ayyuhal Kâfirûn].?” Orang itu menjawab, “Benar.” Beliau menjawab, “[Ia senilai] seperempat al-Qur’an.” (HR.at-Turmudziy, no.2895, beliau berkata, Hadîts Hasan)

– Ia Membebaskan Diri Dari Kesyirikan

Hal ini berdasarkan riwayat ath-Thabaraniy dengan sanadnya dari Jibillah bin Hâritsah bahwasanya Nabi SAW., bersabda, “Bila kamu telah bergegas ke tempat tidurmu, maka bacalah [Qul Yâ Ayyuhal Kâfirûn] hingga kamu membacanya sampai akhir, sebab ia membebaskan diri dari kesyirikan.” (al-Mu’jam al-Kabîr, jld.II, h.278. Al-Haytsamiy berkata di dalam Majma’ az-Zawâ`id, jld.I, h.121, “Para periwayatnya telah dinilai Tsiqah.”

– Disunnahkan Membacanya Bersama Surat al-Ikhlash Dalam Shalat

Disunnahkan membacanya dalam shalat dua raka’at sebelum Thawaf. Hal ini berdasarkan riwayat Imam Muslim di dalam Shahîh-nya dari Jabir bahwasanya Rasulullah SAW., pernah membaca keduanya. (Shahîh Muslim, no.1218)
Demikian juga, disunnahkan membaca keduanya pada shalat sunnah Qabliyyah shubuh berdasarkan hadits dari Abu Hurairah dalam Shahîh Muslim.

Keduanya juga boleh dibaca pada shalat sunnah ba’diyyah Maghrib. Hal ini berdasarkan riwayat Ahmad dengan sanadnya dari Ibn ‘Umar RA., bahwasanya Rasulullah SAW., membaca keduanya duapuluh-an kali atau belas-an kali pada shalat qabliyyah shubuh dan ba’diyyah Maghrib.

Terakhir, ia (surat al-Kâfirûn) juga boleh dibaca ketika akan tidur sebagaimana telah disinggung mengenai keutamaan surat ini tadi.

Sebab Turunnya

Ibn Abi Hâtim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas RA., bahwasanya orang Quraisy telah mengundang Nabi SAW., untuk memberinya harta yang banyak sehingga beliau bisa menjadi orang terkaya di Mekkah, lalu mengawinkannya dengan wanita mana saja yang beliau sukai. Mereka berkata, “Inilah untukmu, wahai Muhammad tetapi (sebagai imbalannya) kamu berhenti menghina tuhan-tuhan kami dan tidak menjelek-jelekkannya. Jika kamu tidak bersedia, maka mari kita bergiliran; kamu menyembah tuhan-tuhan kami selama setahun, lalu setahun berikutnya giliran kami yang menyembah tuhan-mu.” Maka, Rasulullah SAW., menjawab, “Nanti dulu hingga wahyu diturunkan Rabbku kepadaku.” Lalu Allah menurunkan, [Qul Yâ Ayyuhal Kâfirûn] dan juga turun ayat lainnya, yaitu [Qul Afaghairallâhi Ta`murûûni A’budu Ayyuhal Jâhilûn; “Katakanlah, ‘maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan.’”]-az-Zumar:64

Renungan Bersama Surat Ini

Surat ini adalah surat pembebasan diri dari perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang Musyrik dan memerintahkan agar berbuat ikhlash. Karena itu, ia disebut juga dengan surat al-Ikhlash.

Rasulullah SAW., diperintahkan agar mengatakan dan mengumumkan kepada setiap orang kafir di seluruh muka bumi ini bahwa beliau telah berlepas diri dari ibadah dan tuhan-tuhan yang mereka sembah selain-Nya, baik secara zhahir maupun bathin sebagaimana firman-Nya, “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” Di sini, beliau berlepas diri secara total dari agama mereka; berhala-berhala dan sekutu-sekutu. Beliau seakan mengatakan, “Aku hanya menyembah Allah berdasarkan cara yang disukai dan diridlai-Nya.”

Dengan gaya pengulangan yang ada di dalam ayat ini, beliau telah berhasil memupuskan keinginan mereka agar memenuhi ajakan mereka untuk menyembah tuhan-tuhan mereka itu. Hal ini, sebagai bentuk penegasan akan perlunya berbuat ikhlash di dalam beribadah, semata karena Allah Ta’ala dan membuang selain-Nya.

Pesan Moral Surat Ini

1. Menjelaskan keterjagaan Rasul dan penyucian dirinya dari mengikuti orang-orang Musyrik.

2. Bahwa jalan Mukmin tidak akan bertemu dengan jalan orang kafir sebab si Mukmin mengikuti jalan Allah sedangkan si Kafir mengikuti jalan syaithan.

3. Betapa menjulang dan tingginya derajat seorang Mukmin di mana ia tidak akan sujud kepada berhala dan tidak akan ridla beribadah kepada selain-Nya.

4. Perlunya penegasan ucapan dengan cara mengulang-ulanginya terhadap hal-hal yang maha penting.

5. Balasan terhadap semua perbuatan akan didapat kelak pada hari Kiamat. Firman-Nya, “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.”

(SUMBER: Silsilah Manâhij Dawrât asy-Syar’iyyah- at-Tafsîr- Fi`ah an-Nâsyi`ah oleh Dr.Ibrâhim al-Huwaimil, h.50-53)

TAFSIR SURAT AL-IKHLASH

Allah Ta’ala berfirman,
“Katakanlah:”Dialah Allah, Yang Maha Esa,[1]. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan,[2]. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan,[3]. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”[4]

Informasi Umum

Surat ini dinamakan dengan surat al-Ikhlash, ash-Shamad dan Qul Huwallaahu Ahad.

Sedangkan jumlah ayatnya adalah 4 ayat, diturunkan di kota Mekkah. Menurut riwayat, ia diturunkan di kota Madinah.

Tema Surat

Surat ini mengangkat tentang masalah Tauhid

Keutamaan Surat

Surat ini memiliki keutamaan yang besar, di antaranya:
– Bahwa ia setara dengan sepertiga al-Qur’an. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan al-Bukhary dari Abu Sa’id, dia berkata, Rasulullah SAW., bersabda kepada para shahabatnya, “Apakah ada salah seorang di antara kamu tidak mampu membaca sepertiga al-Qur’an dalam semalam.?” Maka hal itu pun menyulitkan mereka sehingga mereka pun bertanya, ‘Siapa di antara kami yang mampu melakukan itu, wahai Rasulullah.?’ Lalu beliau menjawab, “Allaahul Waahid ash-Shamad (surat al-Ikhlash-red.,) senilai sepertiga al-Qur’an.” (Shahih al-Bukhary, no.5015)

– Bahwa ia dapat menumbuhkan kecintaan Allah. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan al-Bukhary mengenai kisah seorang yang mengkhatamkan shalatnya dengan surat ini. Tatkala Rasulullah SAW., bertanya kepadanya, dia menjawab, “Karena ia merupakan sifat ar-Rahmaan dan aku suka membacanya.” Lalu Nabi SAW., bersabda, “Beritahulah kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (Shahih al-Bukhary, no.7375)

Sebab Turunnya

Di antara sebab turunnya adalah sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Ubay bin Ka’b bahwasanya kaum musyrikin berkata kepada Nabi SAW., “Wahai Muhammad, tolong sifatkan kepada kami Rabb-mu.” Maka turunlah ayat, Qul Huwallaahu Ahad. (al-Musnad, Jld.V, h.133)

Menerut riwayat lain, “Sesungguhnya yang menanyakan kepada Nabif mengenai hal tersebut adalah orang-orang Yahudi.”

Kapan Ia Dianjurkan Dibaca

Pada pembahasan mengenai surat al-Kaafiruun disebutkan beberapa letak dan shalat-shalat di mana surat ini dianjurkan dibaca, yaitu pada dua raka’at sebelum thawaf, dua raka’at sebelum shalat shubuh dan dua raka’at setelah shalat maghrib (ba’diyyah maghrib)

Makna Kosakata

ÇáÕøóãóÏ : Dzat tempat para makhluk bersandar kepada-Nya di dalam memenuhi kebutuhan dan permintaan mereka. Dia adalah Dzat Yang telah sempurna kemuliaan-Nya, Dia lah Allah SWT. Sifat ini tidak layak kecuali hanya untuk-Nya, tiada yang setara dengan-Nya dan Tidak sesuatu pun yang seperti seperti-Nya.

——– Huruf Arab ——– : Yakni Dia tidak memiliki anak, ayah atau pun pendamping (isteri)

——– Huruf Arab ——– : Yakni yang sebanding dan semisal-Nya, tidak ada sesuatu pun yang seperti sepertinya-Nya, Dan Dia lah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Melihat.

Sebagian Pesan Yang Dapat Diambil

1. Bahwa surat ini memiliki keutamaan, yaitu setara dengan sepertiga al-Qur’an, hal ini karena ia berbicara tentang tauhid.

2. Batilnya menisbatkan Allah beranak atau berayah. Dia adalah Dzat Yang Maha Kaya secara mutlak (absolut). Artinya, ini merupakan bantahan terhadap klaim orang-orang Yahudi dan Nashrani bahwa Dia beranak.

3. Mengukuhkan tauhid Uluhiyyah

4. Wajib hukumnya menyucikan Allah dari memiliki pendamping (isteri) atau pun anak. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang seperti seperti-Nya, Dia lah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Melihat

(SUMBER: Silsilah Manaahij Dawraat al-‘Uluum asy-Syar’iyyah –at-Tafsiir Li an-Naasyi`ah- karya Dr.Ibrahim bin Sulaiman al-Huwaimil, h.54-56)

Iklan

7 comments on “AlQur’an

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: