BERIMAN PADA KATA-KATA INDAH

Published 7 Juni 2016 by endangkurnia

IMG0010110

Salah satu ciri keawaman adalah beriman kepada kata-kata indah dan segala yang terdengar indah. Yang penting enak didengar dan agak-agak logis walau tanpa didalami, semua hal akan dianggap sebagai kebenaran. Saat mendengar kata egaliter, manusia mana yang tak menyukainya? Karena semua orang kepingin dianggap dan diperlakukan sama. Padahal sejak awal Islam mengumumkan dirinya tidak egaliter saat Allah berfirman kepada malaikat dan jin untuk bersujud kepada Adam as.

Islam bersifat egaliter. Sebagai manusia semuanya sederajat, dalam pengertian bahwa semua manusia memiliki hak-hak yang sama, yang harus dihargai dan dihormati, baik yang menganut Islam dan yang tidak. Perbedaan derajat hanya terletak pada tingkat keimanan dan tingkat pengamalan agana dan hanya Tuhan yang paling mengetahuinya.
Lalu akan engkau bilang apa agama Islam ini? Atau benar thesisnya Ramadhan al-Buthy bahwa sejak lama pemikir Islam sudah dipenjara oleh term-term Barat dan berusaha menyamakan diri dengan mereka. Apakah akan engkau salahkan juga saat Allah menfirmankan Qur’an Surat Al-Syura ayat 23 dimana Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar mengatakan bahwa Nabi SAW tak meminta upah atas perjuangannya membela Islam dan kaum muslimin kecuali agar manusia menyayangi keluarganya? Akankah kau bilang Islam itu demokratis padahal dalam shalat saja kalian tak boleh bermusyawarah dalam memilih imam.

Imam harus lebih pandai daripada jamaahnya dalam Al-Quran, lalu hadits, paling tua, dan terakhir yang paling ganteng. Banyak sekali hukum Islam yang tak enak didengar jika dicoba sandingkan dengan istilah-istilah modern baik yang berasal dari Barat maupun modernisme itu sendiri.

Di Iran, kebiasaan lama Indonesia yang melarang orang-orang makan-minum-merokok di tempat umum di siang hari Ramadhan, sampai sekarang masih dijalankan. Itu bukan tidak menghargai orang yang tak puasa, tapi justru menghargai mereka dengan menyediakan tempat tertutup bagi mereka untuk menyantap makanan dan minuman di siang hari bulan Ramadhan. Memang tidak enak untuk didengar peraturan ini, tapi seingat saya, suasana puasa yang seperti itu memang syahdu distinctive. Namun begitu, merazia warung-warung yang buka di siang hari pada bulan Ramadhan itu juga tak ada kebaikan di dalamnya.

Islam memang agma yang sangat unik. Para penganut dan yang tidak menganutnya memiliki pandangan yang relatif berbeda-beda. Pada hakikatnya Islam hanya satu, namun keunikannya, diantaranya memberikan kebebasan mutlak untuk mempercayainya atau tidak, menimbulkan berbagai paham dalam Islam itu sendiri. Tingkat kepemahaman terhadap Islam sangat bergantung kepada tingkat kecerdasan atau pendidikan dalam pengertian yang luas dan latar belakang lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang.

Satu hal yang sangat ditekankan, meskipun terdapat berbagai paham yang mutlak benar, istilah relatif tidak berlaku di sini, khususnya dalam akidah, keyakinan terhadaop keberadaan Tuhan, sifat-sifat dan kehendak-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: