Kaum Sumbu Pendek

Published 14 Januari 2016 by endangkurnia

image

Satu ciri khas yang sangat masyhur dari kaum sumbu pendek adalah malas berpikir dan bertabayyun tapi paling jago dalam menjustifikasi.

Secara ringkas, jika anda berani menentang mereka, bersinggungan dengan pemikiran mereka, atau sekedar mengkritik idola mereka maka anda harus bersiap-siap mendapat gelar kehormatan “Syi’ah” dan “Liberal”. Contohnya dalam banyak kasus seperti rubuhnya Crane di Masjidil
Haram dan tewasnya ribuan jemaah dalam tragedi Mina saat haji kemarin lalu anda dengan berani-beraninya mengkritik pemerintah Saudi yang mereka puja itu maka bersiaplah untuk segera mendapat gelar-gelar
“kehormatan” tersebut. Dan satu contoh yang lain. Dalam membahas konflik Suriah, jika anda berani-beraninya membuka kedok Pro-Zionis para “mujahidin” idola mereka, maka detik itu juga tanpa ampun anda akan mendapat gelar Syi’ah.

Ya, jangankan saya atau anda, bahkan para ulama (yang jelas-jelas) Sunni sekaliber Prof. Dr. Quraish Shihab, Said Agil Siradj, Habib Ali al Jufri, Syaikh Ahmad Badruddin Hassun, Gus Dur, Gus Mus dll yang hanya sekedar mengajak ukhuwah Islamiyah antara Muslim Sunni & Syi’ah dan menolak segala aksi pengkafiran terhadap Syi’ah, maka mereka pun dengan gampangnya diberi gelar Syi’ah dan Liberal oleh anak-anak kemarin sore yang masih “imut-imut” dalam beragama.

Anda tahu apa sih maksud di
belakang semua penyematan gelar
ini ? “Thinking is difficult, that’s why most people judge.” >> Berpikir itu sulit, itu sebabnya kebanyakan orang men-judge.
Satu hal yang harus anda sadari, jika anda sudah ‘di-Syi’ahkan’ dan ‘di- liberalkan’ oleh mereka, itu artinya argumen anda kuat dan argumen mereka lemah sehingga “hujjah” mereka akan ambruk bila diajak diskusi.

Dan hanya dengan cara penyematan gelar-gelar tersebut mereka bisa menyelamatkan diri dari ide mereka dan ter-eksposnya rasa malu mereka. Semboyan mereka adalah, “Bila kita sudah terpojok, Syi’ah-kan lawan
anda. Maka anda akan menang tanpa perdebatan.”

Karena bila lawan sudah di Syi’ah-
kan, itu artinya “Kamu kafir dan
sesat. Akulah yang benar. Titik. Tidak terima diskusi lagi!”
Mau sehebat apapun argumen anda terhadap mereka, maka mereka akan kembali kepada Rumus: “Kamu Syi’ah. Syi’ah itu sesat dan kafir. Semua yang kamu katakan adalah taqiyyah. Titik! No discussion”. Bubar jalan!

Bila anda sudah “dianugerahi”
gelar Syi’ah dan Liberal ini, artinya
mereka sudah “menang” tanpa harus berperang, perang argumen dan perang intelektualitas. Dan untuk orang-orang seperti ini
saran saya maklumi saja, karena
mereka hanya sibuk hidup dalam
fantasi mereka. Didebat, dikritisi dan hancurnya argumentasi bukanlah pilihan bagi mereka. Dan kebanyakan pecundang memang tidak siap dan tidak akan pernah siap untuk itu. Pernah dengar kan pepatah, “People don’t want to hear the truth, because they don’t want their illusions destroyed.” >> Kebanyakan orang tidak mau mendengar kebenaran karena mereka takut ilusi mereka
hancur.

Ya, itulah yang terjadi bila anda
berargumen dengan kaum sumbu pendek. Dan kebenaran itu hanya untuk mereka yang menghargainya. Berdebat dengan kaum sumbu pendek itu ibarat
main catur dengan burung dara.
Mereka hanya akan buang kotoran di atas papan, lalu terbang dan merasa menang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: