Untukmu yang masih Sendiri

Published 29 Desember 2015 by endangkurnia

Bila kita membaca perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, kita akan temukan bahwa sosok yang pernah merindukan dirimu dan diriku itu banyak mengalami fase sepi dalam hidupnya. Sejak dalam kandungan ia telah ditinggal wafat sang ayah, di usia yang belum cukup 5 tahun ibunya pun pergi, selanjutnya diikuti sang kakek, paman beliau Abu Tholib dan Khadijah, istri yang paling dicintainya. Ia pun pernah mengalami fase dimana kaumnya berpaling darinya, terusir dari negeri sendiri dan terluka oleh lemparan batu penduduk Thoif. Benar-benar perjuangan yang berat.

Pada hakikatnya kesepian dan kesendirian bukan duka atau jesusahan. Sejarah banyak mencatat kesendirian orang-orang besar. Seperti kesendirian Hajar ibunda Idmail ‘alaihissalam ditengah lembah bakkah, kesendirian Yusuf ‘alaihissalam saat dilempar ke dalam sumur, kesendirian Maryam saat mengandung bayi Isa ‘alaihissalam, kesendirian Imam Ahmad di hari-hari fitnah. Juga kesendirian Ibnul Jauzy di dalam penjara dan masih banyak lagi. Namun lihatlah buah dari kesendirian itu.

Dari Hajar Allah menciptakan bangsa yang besar. Dari gelapnya sumur, Nabi Yusuf diangkat menjadi mentri urusan pangan di Mesir. Kepada bunda Maryam Allah menganugrahinya kedudukan yang tinggi di surga. Setelah fitnah reda, ketokohan Imam Ahmad rahimahulla semakin kokoh. Ia menjadi imam ahli ilmu di zamannya. Tak ketinggalan Imam Ibnul Jauzy, dalam kesepiannya ia berhasil menguasai qiroah sab’ah.

Kenyataan ini seperti memberi makna lain pada kita, bahwa kesendirian atau kesepian bukan duka yang harus ditangisi. Sebab ada saat dimana kesendirian akan jauh lebih berarti dari kebersamaan.

Tak sedikit orang-orang besar yang berhasil mengukir prestasi di tengah kesunyian dan kesendirian. Kok bisa..? Bisa saja, karena orang-orang besar meyakini bahwa tak ada sepi bagi mereka yang terus mengingat Allah. Mereka juga menyadari bahwa dalam sepi, ada Dzat yang takkan membiarkan mereka sendiri, Dia akan selalu mendengar munajat mereka, Dia bahkan tak pernah tidur atau lengah sedikitpun dari mengurusi hamba-hamba-Nya. Itulah mengapa kesendirian dan kesepian mereka menjadi berarti, sehingga melahirkan kekuatan yang mampu mengurai rantai prestasi.

Itulah makna kesendirian yang terkandung dalam esan Ibnu Mas’ ud, radhiallahu anhu: “Engkau adalah jamaah sekalipun engkau sendiri”.

Untukmu yang masih sendiri, tak perlu bersedih karena ada makna lain dari kesepian seorang mukmin.

Hanya bersama Allah.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: