Satu Kisah di Pesantren

Published 29 Desember 2015 by endangkurnia

bergaul

Niat untuk memakai kerudung setelah lulus SD sangat kuat. Kuputuskan menulis pilihan pesantren untuk study lanjutan pada kertas yang diberikan kepala sekolah SD. Kepala sekolah memanggil orang tuaku menanyakan perihal tersebut untuk meyakinkan. Keputusanku bulat, “Ingin nyantri”.

Keluargaku bukan ahli agama dan cukup menjalankan perintah Tuhan saja. Alhasil keputusan ingin nyantri ditahan. Aku memberi alternatif, “Kalau tidak diizinkan nyantri, masuk sekolah SMP swasta yang mewajibkan pakai kerudung.”
Alternatif itu malah ditolak langsung, keluarga menginginkan aku masuk SMP negeri begitupun kepala SD yang berharap muridnya masuk ke sekolah negeri karna nilaiku tertinggi di sekolah. Aku bersikeras ingin masuk SMP Islam swasta yang wajib pakai kerudung karna zaman itu anak SMP negeri yang memakai kerudung hampir tidak ada.

Dengan berat hati keluarga mengizinkankanku nyantri di pesantren salaf di Babakan Ciwaringin, Ponpes Assalafiat. Dengan catatan aku harus lulus tes masuk SMP negeri di Ciwaringin. Deal dan lulus masuk SMP negeri yang letaknya jauh dari pesantren sedangkan ratusan santri lainnya masuk MTS.

Tiap 3 hari sekali ibuku menjenguk, masih belum rela melepas aku nyantri. Tiga bulan kemudian, aku sakit keras dan dibawa pulang. Boyong.

Ya, hanya tiga bulan nyantri. Aku belum fasih mengaji Quran dan belum bisa Bahasa Arab seperti anak santri lainnya. Tapi tiga bulan itu mengajariku banyak ilmu dan yang terpenting aku berhasil beralasan dan meyakinkan semua orang bahwa aku harus pakai kerudung karena lulusan pesantren.

Tiga bulan nyantri itu sering kutemui hal unik. Hal unik yg tidak ditemukan di tempat lain namun hanya ada di pesantren salaf. Ini sebagai catatan pelipur rindu akan suasana pondok pesantren, bagi yang pernah nyantri paling ga pernah mengalami hal ini.

Pesantren adalah dunia dimana yang namanya sifat bakhil dan egois sangat diharamkan sekali. Bukan tanpa alasan, karna di pesantrenlah yang namanya orang susah dan orang kaya ga bisa dibedakan semua sama, yaitu sama-sama butuh akan yang namanya ilmu agama. Hanya di pesantren ada aturan tidak tertulis yang menyatakan susah senang harus dipikul bersama, kalau ada yang lapar maka semua harus merasakan hal yang sama. Jadi intinya apapun barang atau makanan yang kita miliki akan menjadi milik bersama. Jangankan makanan, yang paling sering dijadikan barang milik bersama adalah sandal malah kadang-kadang baju, kerudung ataupun handuk kadang menjadi milik bersama. Ga heran kalau kita punya sandal ditaruh di luar kamar, pasti ga lama akan raib dan tau-tau sudah ada di teras masjid atau dipake santri lain ke kamar mandi. Hanya satu yg ga bakal diakui sebagai barang bersama, yaitu celana dalam.

Hal seperti itu kalau dilihat dari kacamata awam pasti dikatakan kurang beradab, tapi beginilah cara pesantren mendidik para santrinya untuk belajar ikhlas, qona’ah, melawan hawa nafsu, melenyapkan bakhil dan yang paling utama memupuk rasa solidaritas antar sesama santri. Satu hal, jangan berani coba-coba berlaku bakhil di pesantren atau kepada teman satu kamar kalau ga bakal dicuekin oleh teman-teman. Yang utama adalah jangan pernah emosi bila kita menjumpai ada barang kita yang hilang atau dipinjam tanpa permisi, anggap ini latihan buat melawan hawa nafsu. Maka ga heran dengan pendidikan mental semacam ini santri akhirnya menjadi kuat mental emosi dan spiritualnya, karna telah terdidik untuk menghadapi segala tantangan mulai dari kesulitan ekonomi sampai kesulitan jodoh. Belum pernah terjadi yang namanya tawuran antar santri dengan santri lainnya, tentu berbeda dengan sekolah umum atau universitas yang selalu terjadi tawuran bahkan demo anarkis. Dan bagi yang mau pesantren persiapkan diri untuk menjumpai hal seperti ini. Semoga sukses sebagai santri yang akan menjadi pilar utama negara.

Berharap pemimpin negara adalah lulusan pesantren.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: