Krisis, Jokowi, dan Kita

Published 29 Desember 2015 by endangkurnia

2

Dolar semakin melambung. Apa yang bisa kita lakukan? Tak banyak. Karena kita bukan pemain dalam hal ini. Pemerintah? Pemerintah berusaha, tapi juga tak banyak hal yang bisa dilakukan. Setidaknya tidak bisa segera. Krisis ini baru dirasakan gejalanya oleh banyak orang sejak setahun terakhir. Tapi akar masalahnya sudah sejak lama. Fondasi ekonomi sebenarnya sudah bermasalah sejak lama.

Salah siapa? Jokowi? SBY? Ya, tentu saja mereka punya kontribusi kesalahan. Tapi masalahnya bukan soal Jokowi atau SBY. Ini masalah ekonomi yang tidak ditentukan oleh faktor tunggal.
Saya berharap krisis ini segera berlalu. Bagaimana caranya? Saya tidak tahu. Sebagai karyawan perusahaan yang ada kaitannya dengan harga dollar, saya hanya bisa berkontribusi menguatkan lembaga tempat saya bekerja. Saya lakukan itu. Itu saja.

Saya khawatir krisis semakin memburuk, lalu merambat ke krisis lain seperti krisis politik dan sosial seperti tahun 98 menurut recording ekonomi Indonesia, saya rasakan krisis itu sampai harga jajan di warung karna saat itu saya masih bocah. Semoga itu tidak terjadi.

Tapi tahukah Anda bahwa ada begitu banyak orang yang bergembira dengan semua ini? Ya, semakin parah krisis semakin senang mereka. Apakah mereka spekulan valuta asing? Ya, mungkin ada spekulan yang senang. Tapi yang saya maksud bukan mereka. Ada sejumlah orang yang bahagia, karena krisis ini membuat mereka punya bahan untuk mengumpat. Ya, mengumpat Jokowi dan orang-orang yang mendukung dia pada pilpres tahun lalu. Bahkan ada yang tega menyebar rumor, berharap agar orang-orang panik, menyerbu bank untuk menarik tabungan. Ada yang berharap bank-bank kita hancur seperti dulu.

Orang-orang ini tidak mendapat keuntungan sepeserpun dari krisis ini. Boleh jadi mereka akan ikut menderita. Tapi mereka puas dan bahagia, karena merasa telah berhasil membuktikan kebenaran. Tidak memilih Jokowi adalah sebuah kebenaran bagi mereka.

Apakah memilih Jokowi itu sebuah kesalahan? Kesalahan siapa? Kalau iya, itu adalah kesalahan ratusan juta rakyat. Tapi kalaupun iya, apakah memilih Prabowo itu menjadi sebuah kebenaran? Apa yang benar? Apa yang sekarang terbukti benar?

Saya dulu mendukung dan memilih Prabowo. Done! Saya tidak akan menganggapnya kebenaran karna Prabowo bukan Tuhan yang Maha Benar, apapun wujud dan hasil pemerintahan Jokowi. Tugas saya memilih, kemudian mengawal. Kalau ada yang tidak beres, saya akan mengritik tanpa menghina tapi dengan mengoreksi. Kalau ternyata pemerintahan ini gagal, 2019 nanti kita pilih calon lain. Dukungan kepada Jokowi atau Prabowo adalah dukungan politik saja, bukan penyembahan.

Jadi bagaimana sekarang? Berbuatlah sesuatu kalau Anda kebetulan berada pada posisi bisa berbuat. Kalau tidak, diamlah. Bersorak gembira atas situasi yang buruk, hanya menunjukkan bahwa jiwa mereka sedang sakit. Memprovokasi agar keadaan jadi lebih buruk, menunjukkan bahwa jiwa mereka sakit parah. Jika tidak bisa berbuat, tidak usah ikut mencela, lebih baik berdoa untuk Indonesia.

Semoga Allah selalu menyayangi Indonesia.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: