Kaana Kullu Amrihi Ajaba

Published 29 Desember 2015 by endangkurnia

u

Stephen Covey menjelaskan prinsip kedua dari “7 Kebiasaan Orang Efektif” yaitu “Berawal di akhir” dengan mengajak orang membayangkan suasana pemakaman dirinya sendiri.

Hari itu beberapa orang akan menyampaikan penilaian tentang si mayit. Kesan apa yang hendak ia sampaikan? Bagaimana orang-orang di sekitar kita akan mengenal kita? Apa kata kedua orang tua dan keluarga kita tentang kita? Apa kata bawahan, atasan, tetangga, teman, kerabat, dan lain-lain? Apakah kita orang yang menyenangkan, memberi inspirasi, bermanfaat bagi orang lain? Atau sebaliknya, apakah kita ini seorang yang menyebalkan, menurunkan semangat, dan merusak kebahagiaan orang lain? Dengan membayangkan hal itu, tulis Covey, kita atur mind-set serta peri laku kita agar kita menjadi orang yang dikenang dengan kebaikan-kebaikan kita.

Ketika ditanya tentang almarhum suaminya, Aisyah berkata, “Kaana kullu amrihi ajaba.” Semua perilakunya indah.

Ah, Nabi Muhammad Saw itu seorang nabi, semua perilakunya dikawal Allah. Tentulah semua indah. Mungkin banyak yang berpikir begitu.

Tapi saya melihatnya berbeda. Menurut shirah, ada konflik rumah tangga dilalui oleh Aisyah. Ia seorang pencemburu. Mayoritas perempuan begitu. Ia cemburu pada istri-istri Nabi yang lain.

Di zaman itu lumrah bila seorang lelaki punya lebih dari satu istri. Apalagi bila ia seorang tokoh penting seperti Nabi Muhammad Saw. Tapi sepertinya sejak kapanpun dan sampai kapanpun hal ini sulit diterima oleh perempuan. Keberatan dalam berbagai bentuknya muncul. Salah satunya berwujud pada kecemburuan Aisyah.

Aisyah pernah cemburu kepada almarhum Khadijah. Sewaktu dia menjadi istri Nabi Muhammad, Khadijah sudah meninggal. Ia pun pernah cemburu kepada Safiyyah binti Huyay, perempuan Yahudi yang cantik dan menjadi istri Nabi Muhammad Saw. Ia bahkan sampai berkata. “Bukankah engkau Rasulullah? Tapi mengapa tidak adil?”

Tapi ketika Aisyah mengenang Nabi Muhammad Saw, ia mengenangnya dengan indah. “Kaana kullu amrihi ajaba…”

Apakah Aisyah sedang berbasa-basi, memanipulasi fakta tentang almarhum suaminya, semata agar ia tak memburuk-burukkannya? Tidak.

Pernyataan itu semakin menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang sempurna dalam kemanusiaannya. Rumah tangga yang indah bukanlah rumah tangga tanpa konflik. Suami atau istri yang baik bukanlah suami/istri yang tak berbuat salah. Bahkan Nabi Muhammad pun tidak memuaskan istri-istrinya dalam segala hal.

Ketika mengucap kalimat tadi, Aisyah tidak sedang menilai suaminya dalam detil satu per satu. Ia sedang menilai suaminya secara menyeluruh.

Seorang yang punya kekuasaan luas, dengan pasukan yang siap mati membela dirinya, ia tetaplah seorang laki-laki yang lembut di depan istri-istrinya. Ia masih menjahit bajunya sendiri, dan minta ijin kepada istrinya untuk shalat di malam hari. Ia bahkan pernah tidur di luar rumah karena tidak ingin istrinya terganggu saat ia pulang agak malam. Dengan berbagai ketidakpuasan, berbagai konflik, di mata Aisyah suaminya Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang indah dan mulia. Kita semua bisa menjadi seperti Nabi Muhammad Saw dan Aisyah.

Aku yang tengah belajar seperti Aisyah sambil menanti sosok seperti sang Nabi Saw.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: