Cerpen: Musim yang Mati_3 Tamat

Published 29 September 2015 by endangkurnia

14

“Kamu tahu, aku pernah memiliki seorang kawan yang juga ingin menulis novel.”

“Begitu.”

“Tapi, sampai akhir hidupnya, novel itu tidak pernah dia tulis.”

“Kawanmu sudah meninggal?”

“Ya. Bunuh diri. Dia memutar-ulang lagu Leaving On A Jet Plane dari Peter, Paul and Mary di CD player di kamarnya dan meminum 69 butir pil tidur dengan bantuan wiski. Cara mati yang aneh kan?”

“Kok kamu tahu soal itu?”

“Oh, dia menulis surat, semacam pesan terakhir.”

“Apa isi pesannya?”

“Katanya, dia bosan hidup. Satu paragraf surat itu berisi alasan tentang hal itu, satu paragraf berisi bagaimana ia bunuh diri, satu paragraf terakhir, paragraf yang singkat, berisi sebuah kalimat yang sampai sekarang aku tidak tahu apa maksudnya.”

“Kalimat seperti apa?”

“Seperti ini…” kataku. “Aku akan bertemu Tuhan, Tuhan akan menggelitik pinggulku, kalau aku tidak bisa menahan geli, maka aku akan dikembalikan ke dunia dan menjalani kehidupan yang membosankan selama tujuh ratus empat puluh enam tahun sebelum mati untuk yang keduakali.”

“Memang aneh, tapi kalimat itu panjang juga.”

“Menurutmu apa artinya itu?”

“Tidak tahu.”

“Menurutmu, apa kawanku tahu apa yang dia tuliskan itu?”

“Entah ya, menurutku akan jadi tidak bermakna bila ia benar-benar tahu apa yang dia tuliskan.”

“Hmm…”

“Tapi kawanmu itu eksentrik juga ya.”

“Begitulah.”

“Cara hidup tidak bisa dipilih, tapi cara mati bisa … aku membaca itu di sebuah novel.”

“Novel apa?”

“Lupa.”

“Kalau, misalkan, kamu mati, cara seperti apa yang akan kamu pilih?”

“Tidak tahu juga ya.”

“Tapi kalau aku…” kataku tanpa dia bertanya lebih dulu padaku. “Kalau aku, aku ingin mati tanpa menyusahkan orang lain.”

“Memang, biaya pemakaman sekarang mahal ya.”

“Begitulah.”

Aku tidak pernah mengira, keesokan paginya, saat iseng-iseng membaca surat kabar di penjual koran pinggir jalan, aku membaca sebuah berita mengenai kematian seorang novelis. Menurut artikel itu, si novelis ditemukan mati di dalam kamarnya, dengan CD player yang menyala dan terus-menerus menutar lagu Leaving On A Jet Plane. setelah dilakukan visum, diketahui bahwa penyebab kematiannya adalah over dosis pil tidur—aku menduga, jumlah pil tidur yang ditenggaknya adalah 69 butir dan ia pasti meminumnya dengan bantuan wiski. Photo si korban—si novelis itu—di dalam lembar koran tersebut mirip sekali dengan laki-laki kurus yang aku temui di kafe pada malam sebelumnya. Tidak, itu memang dia. Kalau memang benar, ceritaku tentang kawanku itu pasti telah menginspirasinya. Dan memang, dia, laki-laki bernama Musim ini, bercerita bahwa dirinya sedang patah hati.

Musim telah mati…

***
Mengejawantahkan saat tak ada teman diskusi, menciptakan tokoh untuk bercakap-cakap dalam naskah.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: