Cerpen: Musim yang Mati_2

Published 29 September 2015 by endangkurnia

14

“Sering datang ke sini ya?” tanyanya kemudian, ketika telah selesai mengitarkan pandangannya ke sekeliling kafe. Aku tidak tahu, apa dia setuju atau tidak soal cewek cantik itu.

“Begitulah,” jawabku. “Percaya tidak, minggu lalu aku sedang duduk sendirian. Di meja sebelah sana itu—” aku menunjuk salah satu meja secara acak. Sesungguhnya, aku hanya mengarang-ngarang saja. Soal “cewek cantik” itu kuutarakan lebih sebagai penegasan bahwa aku bukan homo, maksudku, kenapa seorang laki-laki tiba-tiba datang menghampiri laki-laki asing, bertanya apakah ia boleh duduk bergabung bersamanya. Aku meneruskan ceritaku—cerita karanganku: “Begitulah, minggu lalu aku duduk sendirian, tiba-tiba aku didatangi seorang perempuan. Cantik. Umurnya sekitar duapuluhlimaan. Dia bertanya, boleh duduk di sini. Dan, apa yang bisa kukatakan selain mengiyakan? Kemudian kami mulai mengobrol—hal apa yang kami obrolkan, aku sendiri sudah lupa, yah, bukan obrolan yang bisa diingat-ingat sih. Ketika kafe akan tutup, dia menawarkan tumpangan, perempuan itu mengendarai mobil Corola warna hitam. Begitulah, aku mendapati diriku berada di dalam mobilnya, dan di tengah jalan dia bertanya apakah aku ingin mampir sebentar ke sebuah motel. Betul loh, dia bertanya seperti itu. Dan, lagi-lagi, apa yang bisa kukatakan kecuali kembali meluruskan permintaan terselubungnya itu. Saat kami akan pesan kamar motel, dia berkata tiba-tiba, ‘Aduh, hampir tengah malam, suamiku pasti sebentar lagi pulang.’ Kacau kan? Akhirnya kukatakan bahwa aku bisa pulang dengan taksi, Dan dia, pulang begitu saja. Sampai saat terakhir kami bahkan tidak mengetahui nama kami masing-masing.”

Setelah mengatakan itu semua, aku meneguk orange juice-ku, dan menunggu bagaimana reaksi laki-laki kurus itu.

“Pengalaman yang cukup seru,” katanya dingin, tanpa reaksi berarti. Aku ingin meneruskan bahwa sebenarnya aku sangat merindukan momen seperti itu: pertemuan dengan perempuan cantik.

“Tidak adakah pengalaman yang lebih seru dari itu? Pengalaman, misalnya dapat menghentikan niat seseorang untuk meledakkan bom di sebuah kafe, atau meledakkan diri di gedung parlemen,” katanya melanjutkan, seolah kisah yang baru saja aku ceritakan tidak lain bualan orang iseng. “Seiseng-isengnya orang, tidak mungkin bisa lebih iseng dari seorang pengarang,” Hei, dia—laki-laki kurus bernama Musim itu—seperti bisa menebak apa yang baru saja aku pikirkan.

“Saya baru saja menerbitkan sebuah novel, ceritanya persis dengan apa yang Anda bicarakan barusan,”

“Kalau boleh tahu, judul novel yang Anda tulis apa?” saya ingin tahu jenis novel yang dia tulis, oleh karena itu saya ingin tahu judul novelnya terlebih dulu.

“Judulnya Negeri Tanpa Musim.”

“Jenis novel seperti apa itu?”

“Novel politik, di sana saya bercerita mengenai sebuah negeri yang kena kutuk setelah penguasanya membunuh hampir separuh warganya.”

“Mengerikan kalau hal tersebut terjadi di negeri ini.”

“Memang sudah terjadi kok.”

“Tanpa musim?”

“Ya, tanpa musim.”

“Musim apa?”

“Musim hujan, musim kemarau, musim tanam, musim tuai.”

“Bahkan musim kesedihan.”

“Bahkan musim kesedihan.”

“Lantas bagaimana orang-orang di negeri tersebut bisa hidup?”

“Di dalam novel saya, saya bercerita orang-orang hidup dari meminum air mata mereka sendiri, hingga yang terjadi adalah komoditi, airmata menjadi komoditi, di televisi, di kehidupan sehari-hari. Tidak ada hari tanpa airmata. Orang-orang tidak bisa hidup tanpa airmata.”

“Kalau ada airmata tentu ada tawa-bahagia.”

“Tentu, tapi tidak mesti.””

“Orang yang sedang bersedih tidak boleh bahagia?”

“Ada sebagian orang yang bahagia dalam kubangan penderitaan. Semacam tangis bahagia.”

“Semacam itu.”

Lalu aku ingat bahwa aku sedang ingin bersama seseorang, seorang perempuan cantik yang sempat membuat hati demikian bersedih, tidak pernah ada perempuan yang membuat hatiku demikian bersedih, yang membuatku menangis-meratap.

“Cinta kadangkala memang begitu.”

“Memang bagaimana?”tanyaku.

“Memang begitu. Seperti yang pernah kita bayangkan tentang sebuah eksperimen, Ada banyak orang gagal dalam melakukan eksperimen pertama.”

“Tapi yang membuat saya bersedih bukanlah perempuan cantik yang menjadi cinta pertama saya.”

“Ngomong-ngomong bisa saya peroleh di mana novelmu? Maaf saya jarang singgah ke toko buku.”
“Novel saya beredar sangat terbatas, tidak semua orang bisa memilikinya.”

“Hmm…” gumamku. Setelah memikirkan sesuatu yang tak jelas di dalam kepalaku, aku berkata kepadanya: “apakah menulis novel itu sulit?”

“Entah ya, aku menuliskannya begitu saja.”

“Begitu saja?”

“Mengalir.”

“Sama sekali tidak memikirkannya terlebih dulu?”

“Semuanya sudah ada di dalam diri saya. Ketika menulis, pada dasarnya sudah ada yang ingin saya ungkapkan. Begitulah.”

“Hebat ya.”

“Tidak juga.”

Aku meneguk kembali orange juice-ku. Laki-laki kurus itu pun meminum minumannya, seperti biasa, dengan sedotan dan sedikit-sedikit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: