Cerpen: Musim yang Mati_1

Published 29 September 2015 by endangkurnia

14

Aku sedang berada di sebuah kafe, duduk sendirian di sebuah meja, suntuk memelototi orange juice di gelas-tinggi yang tinggal setengah lagi isinya dan es batunya telah mencair. Ini bukan sebuah kafe besar seperti dalam film-film Hollywood tempat seseorang duduk ketika baru saja berpisah dengan kekasihnya. Ini jenis kafe yang jauh lebih kecil, tapi tempatnya cukup resik dan pencahayaan lumayan bagus. Tempat ini mengingatkanku pada sebuah cerpen Hemingway. Ah, adakah seseorang yang bisa kuajak mengobrol tentang Hemingway—seseorang yang, sepertiku, barangkali juga tengah duduk seorang diri dan tidak tahu apa yang harus dilakukan?

Tapi, aku sama sekali sedang tidak ingin membahas apapun tentang Hemingway. Yang kuinginkan adalah sebuah obrolan sederhana—tentang apa saja, hal-hal kecil dan sepele. Seseorang selalu butuh membicarakan hal-hal kecil dan sepele, bagaimana pun, di tengah dunia yang selalu menginginkan hal-hal besar—dunia yang membosankan! Yang kuinginkan hanya seseorang yang bertanya, misalkan, seperti ini: “Hei, apa kamu melihat siaran berita jam tiga sore tadi? Pembawa beritanya cantik ya! Dia memakai setelan lacy shirt, dilapisi blazer, dan rok bandage. Betul-betul cantik!” Seperti itu.

Aku mulai mengedarkan mata ke sekeliling kafe, berharap menemukan seseorang seperti yang kubayangkan—kalau bisa, seorang perempuan. Tapi, satu-satunya pengunjung kafe yang duduk sendirian adalah seorang laki-laki kurus, duduk begitu tegak seolah sedang menghadapi wawancara kerja, menyesap minumannya yang berwarna merah—jus strawberry, atau tomat, atau… entahlah—memakai sedotan, sedikit-sedikit, dan tampaknya khusyuk menikmati lagu yang diputar di kafe itu lewat alat pengeras suara.

Aku menghela napas. Tak apalah, kataku kepada diriku sendiri, barangkali aku bisa berbicara kepadanya, mendiskusikan pembaca berita wanita muda, atau tentang sepakbola, atau… apa sajalah! Aku mengambil gelas orange juice-ku dan mendatangi mejanya.

“Boleh duduk di sini?” aku menyapanya seraya meletakkan gelasku di atas mejanya, sebuah tindakan invasi, tentu saja.

Laki-laki kurus itu mengangguk, tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan, jika kau memang orang yang tidak suka macam-macam, selain mengangguk dan mempersilakan orang asing untuk duduk nyaman di sebelahmu.

Malam hari mulai terasa lebih dingin, cahaya lampu di kafe mulai membuat kulitnya serupa siluet yang terlihat dari balik sebuah layar. Aku kok jadi memerhatikan kulit laki-laki kurus di depanku, laki-laki yang entah sedang memikirkan apa, sayangnya aku tidak dikaruniai kemampuan membaca pikiran, kalaupun aku memiliki kemampuan tersebut aku sangsi aku bisa melakukan tindakan yang bermanfaat dengan kemampuan itu, seperti misalnya mencegah niat buruk seorang penjahat, atau jangan-jangan, jika aku memiliki kemampuan membaca pikiran orang, aku akan muak ketika berpapasan dengan manusia, sebab manusia adalah makhluk berpikir.

“Saya pikir Anda sudah lama duduk di sini. Saya pikir saya bisa mengobrol mengenai pertandingan sepak bola yang nanti malam akan berlangsung,” laki-laki di depanku menyesap minumannya, tidak lama kemudian dia bicara, katanya dia bahkan tidak tahu bahwa malam ini akan berlangsung pertandingan sepak bola.

“Kalau begitu, pertandingan apa yang senang Anda tonton?” aku bertanya, berharap dia menjawab pertanyaanku dengan sesuatu yang luar biasa. Tapi dia hanya menanggapinya dengan senyum dan bilang, dia tidak senang menonton pertandingan apa pun.

“Hidup sendiri sudah merupakan pertandingan, apa tidak bosan menonton orang-orang saling berebut kemenangan, menonton orang didera kekalahan.”

“Justru dengan adanya menang-kalah dalam kehidupan, kehidupan tidak terasa menjemukan,” kataku, kemudian aku mengenalkan diriku padanya. Sejak saat itulah aku mengetahui bahwa dia bernama Musim. Aku bertanya, musim apa? Dia menjawab Musim, tidak ada nama belakang. Sambil berkelakar aku berkata, boleh saya menambahkan? Dia menjawab, boleh-boleh saja. Aku menjawab, musim semi.

“Kenapa musim semi?”

“Orang-orang menganggap bahwa musim semi ialah awal dari kebahagiaan.”

Sebentar kemudian, aku menambahkan kata-kataku sendiri, “Tapi, malam ini pasti tidak bisa disebut ‘musim semi’, maksudku, malam ini sama sekali tidak ada sesuatu yang bisa disebut kebahagiaan.”

Laki-laki kurus itu menatapku, alis matanya terangkat, keningnya terkerut. “Kebahagiaan macam apa?”

“Bukan sesuatu yang besar. Seperti misalnya, malam ini tidak begitu banyak cewek cantik.”

Laki-laki kurus itu mengedarkan pandangannya sesaat setelah aku mengatakan hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: