Zie

Published 23 September 2015 by endangkurnia

8

Kesepianku menghitung sempit paluh yang tumbuh di laut dadamu setelah tahu bahwa puisi tak lagi mampu memberi doa mujarab untuk bahasa paling luka.

Engkau telah mencicipi asin garam sebelum hujan datang ke lekuk dagingmu dan membiarkan jantungmu hidup pada semesta lain setelah tiba di ujung itu.

Kehadiranku mencium aroma dendang ketika kau mulai menikam laju asmara ke langit tinggi sesaat mataku berubah hijau kecubung di tengah tenang muara. Lalu pada kedalaman yang mana, Zie! kita akan saling jatuh dan tenggelam setelah usia mengawang di angkasa yang tak semestinya.

Zie,
Endless Kurnia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: