Tafsir Imajinatif

Published 23 September 2015 by endangkurnia

1

Teks itu benda mati. Yang membuatnya hidup adalah bagaimana kita menafsirnya, kemudian bertindak berbasis pada tafsir itu. Orang-orang muslim sekarang berpegang pada kitab yang sama dengan yang dulu dipegang oleh Ibnu Sina dan orang-orang sezaman. Tapi kenapa posisi muslim saat ini di tengah pergaulan dunia berbeda jauh dengan posisi pada masa itu? Ya itu tadi, soal bagaimana orang menafsir dan bertindak.

Apa yang kita dapatkan dari majelis-majelis kajian Quran sekarang? Jadilah muslim yang baik. Hindarilah dosa. Perbanyaklah ibadah. Patuhlah, jangan macam-macam. Lebih jauh lagi, jangan sesat, jangan bid’ah. Baca Quran ya mesti sesuai kaidah, jangan nyeleneh. Jangan sok menafsir Quran, kamu itu tidak cukup ilmu. Serahkan saja pada ahlinya, kita manut saja.

Bagi saya Islam yang demikian sungguh membosankan. Islam itu penuh tantangan. Di abad ke 7 Quran sudah menantang pembacanya untuk keluar dari bumi, menjelajahi langit. Tapi 15 abad berlalu belum ada yang mampu menjawab tantangan itu. Yang menjawabnya duluan adalah orang-orang yang bukan pembaca Quran. Salah satu penyebabnya adalah karena Quran ditafsir sebagaimana saya tulis di atas.

Saya teringat pada episode cerita Maryam. Ketika Jibril memberi tahu bahwa dia akan hamil, dia bingung. “Bagaimana aku bisa hamil, padahal tak seorang pun pernah menyentuhku?” tanya Maryam. Ayat ini kemudian banyak dibahas untuk menafsir ayat soal batalnya wudhu. Awlaa mastumun nisaa’. Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Midah ayat 6 dan surat An-Nisa’ ayat 43, maksudnya apakah “menyentuh” dalam hal ini bermakna literal, atau senggama dengan kaitannya cerita Maryam.

Pada cerita itu malaikat menjelaskan, bahwa dengan kekuasaan Allah tidak ada yang tidak mungkin. Cerita yang sama juga dialami oleh Hajar, istri Ibrahim. “Aku ini sudah tua, bagaimana mungkin aku bisa hamil?” Jibril lagi-lagi bilang, mungkin, dengan kekuasaan Allah. Lalu, apa itu kekuasaan Allah? Kun. Fa yakun. Mungkin orang dulu menafsirnya sebagai mantra sim salabim. Ternyata dalam kajian sains yang disebut kitab suci sebagai kun fa yakun itu adalah sebuah proses panjang, namun bisa dilajari oleh akal manusia. Bahkan bisa dibuat tiruannya.

Dalam dunia kini, perempuan bisa hamil tanpa perlu bersenggama. Orang yang sudah berumur pun juga bisa hamil. Apa yang dulu, puluhan abad lalu dianggap mukjizat, kini bisa wujud melalui tangan manusia. Mungkin waktu ayat itu disampaikan pesannya adalah, bahwa hal itu mungkin saja. Bukan hal yang mustahil. Itu semua kekuasaan Allah. Tapi pembaca pesan sudah kadung takjub, memahami bahwa kekuasaan Allah itu tak mungkin bisa didekati manusia. Jadi orang kemudian memilih untuk pasrah saja, menerima diri sebagai manusia yang lemah.

Menurut saya Quran perlu ditafsir secara lebih imajinatif. Out of the box. Hanya dengan cara itu kita akan bisa mendapatkan gagasan-gagasan yang out of the box pula. Bila tidak, maka mengikuti Quran seolah hanya akan menyeret kita untuk kembali ke abad VII. Tapi sudahlah, jangan repot-repot. Di masa kini membaca Quran tidak dengan langgam Arab saja pun sudah bisa menjadi sebab untuk dilaknat. Boro-boro menafsir. Jadi, lupakan saja gagasan pada tulisan ini.

Penulis adalah ahli yang bukan-bukan.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: