Dia Merindukanmu

Published 18 Agustus 2015 by endangkurnia

1

14 abad yang lalu dia telah merindukanmu. Dialah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Tepat sembilan hari menjelang wafatnya turunlah firman Allah yang berbunyi: “Dan peliharalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa
yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak didzalimi.” (Al Baqarah: 281)

Semenjak itu raut kesedihan mulai tampak di wajah beliau yang suci. “Aku ingin mengunjungi syuhada Uhud.”

Beliaupun pergi menuju makam syuhada Uhud, sesampainya di sana beliau mendekati makam para syuhada dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai
syuhada Uhud, kalian telah mendahului kami. Insya Allah kamipun akan menyusul kalian.”

Ditengah perjalanan pulang, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis. Para sahabat yang mendapinginya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Aku rindu kepada saudara-saudaraku.”

Mereka berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Bukan, kalian adalah sahabat sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku.”
(HR. Ahmad)

Alangkah tulus ungkapan itu. Namun tersisa beraga tanya. Kitakah yang dirindukan itu? Bila iya, Sudahkah kita merindukannya? Sudahkah kita beriman sehingga pantas dirindu?

Sudahkan kita menuju proses mencintainya sebagai bukti cinta?

Pantaskah diri yang lalai ini dirindukan Rasulullah?

Duhai diri, alangkah malangnya bila diri ini yang dirindukan akan terusir dari telaga kautsarnya. Alangkah malangnya bila nanti terdengar darinya ucapan, “Siapakah engkau…”

Kita tak dikenali beliau. Kau tau kenapa? Karena kita telah merubah agama yang dibawanya dan mudah mengatakan kafir atas saudara seiman, menyuburkan kebencian di luar kelompoknya.

Wahai dirimu yang dirindu, ikutilah jalan hidup manusia agung yang dulu pernah merindukanmu. Jangan mudah mengatakan sesat dan kafir pada saudara seagamamu, agar kau bisa dikenali manusia pemilik telaga kautsar itu.

Jika kau mencintainya maka berikutnya adalah mencintai umatnya. Betapa beliau mencintai umat melebihi cintanya pada anak dan istrinya.

Buktikan cintamu dengan ittiba’ agar cintamu tak bertepuk sebelah tangan. Ingat selalu firman Allah azza wa jalla: Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Ingat kawan, ditepi telaga kautsar beliau menanti kita.

“Aku akan mendahului kalian di telaga. Aku sebagai saksi atas kalian” dan sesungguhnya—demi Allah— saat ini aku sedang memandang telagaku itu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah menuntun langkah kita nenuju telaga Rasul Allah.

Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: