Vertigo

Published 3 Mei 2015 by endangkurnia

Perempuan itu melihat kuntilanak dari kontrakannya. Tubuhnya bercahaya, matanya bercahaya. “Ia tertawa-tawa dan menuding-nudingku,” katanya ketakutan. Ia pun menyelinap di pelukan pacarnya, mencari ketenangan. Tak ada lain yang dapat dikerjakan, sang pacar merangkulnya.

Kuntilanak itu sering terbang di atas mata. Ada beberapa. Kadang meluncur satu-satu seperti peluru kendali, kadang rombongan seperti kembang api. Mereka bergoyang-goyang dan meledak di udara. Tertawanya menembus kepala perempuan itu. Lalu ia coba menjangkau obatnya, tapi vertigo selalu lebih cepat menyerang. Perempuan itu membutuhkan pacarnya. “Setiap kubutuhkan kau harus ada,” katanya merintih pada pacarnya.

Perempuan itu lapor RT, tapi kuntilanak tak mau perduli. Tengah malam mereka selalu menggoda. Tak ada jalan lain, tengah malam perempuan itu harus didampingi pacarnya. “Sudah menikah legal?” tanya RT. Pacarnya berkilah perempuan itu menderita penyakit vertigo dan ia tahu obatnya. Walhasil agar penyakit vertigo tak menular ke tengah masyarakat, RT pun menyarankan perempuan itu mencari kontrakan baru di kampung lain yang bebas kuntilanak.

# Ayo membaca cerdas.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: