Syiah

Published 3 Mei 2015 by endangkurnia

Ada yang menyodori saya buk terbitan MUI tentang Syiah. Saya baca. Kesimpulan saya, sungguh sayang MUI melibatkan banyak orang pintar, hasilnya cuma buku seperti itu. Tapi akhirnya saya paham. Buku itu dimaksudkan untuk menunjukkan
bahwa Syiah itu sesat, bukan mengajak orang paham tentang apa dan bagaimana Syiah itu.

Di salah satu bagian tertulis tentang golongan atau kategori Syiah. Bahwa ada kelompok Syiah yang hanya sedikit berbeda dari kalangan Sunni. Dalam bahasa buku tersebut “Syiah yang tidak sesat”. Tentu saja, sesuai misi buku itu, ada pula Syiah yang berbeda jauh dari Sunni, atau sesat sangat jauh dari Islam.

Kemudian di buku itu segala praktik kesesatan Syiah dibahas, tanpa penjelasan
memadai, Syiah mana yang begitu. Pada akhirnya pembaca digiring untuk percaya bahwa Syiah identik dengan kesesatan.

Demikian pula halnya dengan Ahmadiyah. Ada Ahmadiyah Qadyan yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad itu seorang nabi. Ada pula Ahmadiyah Lahore yang menganggap
Mirza hanyalah seorang pembaharu (mujaddid). Tapi dalam berbagai “kampanye” orang hanya menyuarakan
satu hal, bahwa Ahmadiyah itu sesat.

Saya pribadi lebih suka bila masyarakat dibiasakan untuk mengenal segala sesuatu dengan baik, kemudian mempertimbangkan sendiri sikapnya. Saya lebih suka menyebut Syiah atau Ahmadiyah itu berbeda dengan Sunni. Lebih penting untuk mengenal seluk beluk perbedaan itu,
di bagian mana kita sama, serta di bagian mana kita berbeda. Tidak kalah penting juga soal kenapa kita berbeda. Lebih penting membuat masyarakat tahu dan paham ketimbang membuat mereka menuding atau merusak.

Saya bukan pembela Syiah. Saya hanya membela hak orang untuk beriman, terlepas dari apapun yang dia imani. Bukankah kita bisa berdampingan dengan orang-orang non muslim? Kenapa kita tidak bisa berdampingan dengan Syiah maupun Ahmadiyah? Apakah karena sama-sama mengaku mengikuti junjungan
yang sama, tapi faktanya kita berbeda,
lantas kita tidak bisa berbagi ruang hidup dengan mereka? Bukankah terlepas dari berbagai perbedaan, persamaan kita dengan Syiah dan Ahmadiyah jauh lebih banyak dari perbedaan?

Saya maklum bahwa hubungan Sunni-Syiah adalah hubungan timbal balik. Kisruh dan kebencian tidak hanya ada di satu pihak. Keduanya saling membenci. Sejarah permusuhan kedua golongan ini sudah berusia 14 abad lebih. Sepertinya banyak orang yang masih ingin memperpanjang sejarahnya, dari kedua kelompok tersebut.
Sejarah hubungan kedua kelompok ini
juga sudah berlumur darah. Masih berlumur darah. Konflik di Syiria maupun Lebanon itu tidak bisa dilepaskan dari persoalan ini.

Pertanyaan buat kita adalah, apakah kita menginginkan kehancuran seperti itu? Saya tidak. Saya sangat menyukai Indonesia yang damai, di mana kita bisa hidup gemah ripah loh jinawi dengan tenang. Maka mempertahankan Indonesia yang damai adalah prioritas utama saya. Menabur bibit-bibit kebencian, menyulut permusuhan, yang kemudian berpotensi menjadi konflik fisik adalah perbuatan berbahaya yang harus dihentikan. Betapapun kita tidak setuju dengan pandangan-pandangan Syiah, juga Ahmadiyah, cukuplah kita sadari bahwa kita berbeda dengan mereka. Kita tidak punya alasan atau hak untuk memusuhi. Karena dengan memusuhi kita menciptakan musuh. Punya musuh boleh jadi akan membuat kita membunuh. Atau
sebaliknya, musuh bisa datang untuk
membunuh kita.

Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: