Pembredelan Dakwah

Published 3 Mei 2015 by endangkurnia

iman n nalar

Dakwah itu bil hikmah wal mauizatil hasanah wal mujadalah, allatii hiya ahsan.

Dakwah itu harus dilakukan dengan hikmah. Apa itu hikmah? Penjelasannya bisa sangat panjang. Dalam tafsir Ibu Kathir hikmah itu dibuat sederhana, wisdom, atau bijaksana. Kalau kita mau uraikan soal bijaksana ini dalam pengertian bahasa Indonesia pun, akan panjang jadinya. Tapi tanpa penjelasan panjang lebar kita tahu maknanya.

Dakwah juga dengan mauizatul hasanah, dengan pelajaran, perumpamaan, cerita-cerita yang baik. Bahkan ketika harus berdebat sekalipun, jaadil hum billati hiya ahsan. Berdebatlah dengan cara yang ahsan. Hasan itu baik. Kalau ahsan lebih tinggi dari sekedar baik.

Maka media yang mengaku sebagai media dakwah haruslah mencerminkan sifat-sifat itu. Kalau ia menyampaikan informasi, haruslah valid, bukan fitnah atau sekedar kabar kabur. Juga bukan kabar yang dipelintir. Kalau ia beropini, maka opininya haruslah adil, mempertimbangkan berbagai aspek dengan benar. Bukan opini yang sekedar menghasut. Kalau ia mengritik, maka kritik itupun harus kritik yang cerdas dan fair.

Seorang pendakwah pun harus begitu. Ia adalah penyebar kebaikan, bukan penyebar nyinyir. Juga bukan penyebar sikap anti kepada pemerintah yang sah. Konyol sekali kalau seorang ustaz yang mengaku pendakwah justru kerjanya hanya memburuk-burukkan pemerintah, bersikap curiga dan antipati kepada orang, lembaga atau pemerintah. Atau mengajarkan untuk ingkat kepada negara.

Partai dakwah, tentunya adalah partai yang tujuannya baik dan membangun. Bukan sekedar alat sekelompok orang untuk berebut kuasa. Juga bukan alat untuk memperkaya diri.

Maka kalau Anda tidak temukan sifat-sifat itu pada orang, media, partai, atau organisasi yang mengaku berdakwah, maka sesungguhnya mereka itu pendakwah palsu.

Ada ustadz yang menuduh telah terjadi stigmatisasi terhadap Islam. Katanya kalau pakai jilbab lebar otomatis dituduh ISIS. Ini ustadz palsu, karena berkata tidak sesuai fakta. Saya dan teman-teman lain yang berjilbab lebar, tidak ada masalah. Hidup kami biasa saja, tidak ada yang mengganggu kami. Ada beberapa orang yang dicurigai sebagi teroris, bukan karena mereka berjilbab lebar. Tapi karena ada beberapa fakta yang memang menghubungkan mereka dengan kegiatan teroris.

Demikian pula bila ada situs yang dengan bangga menyebut organisasi seperti Al-Qaeda itu sebagai organisasi jihad, sementara ia mencaci pemerintah yang sah di negeri ini sebagai thaghut, maka itu pun bukan media dakwah. Itu cuma media penghasut. Maka saya heran ketika orang ribut terhadap pembredelan media ini. Seolah Islam sedang dibredel. Seolah dakwah sedang dihambat.

Di neegeri ini kita punya banyak organisasi atau lembaga yang lebih pantas untuk disebut mewakili Islam dan dakwah seperti Muhammadiyah, NU, dll. Kalau lembaga seperti ini dibredel, maka saya pun akan yakin bahwa pembredelnya sedang memusuhi Islam dan umatnya.

Pembredelan dakwah.

Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: