Ngaum di Maya, Ngeong di Nyata

Published 3 Mei 2015 by endangkurnia

Jejaring sosial di Internet adalah wadah terfavorit untuk anak-anak anti sosial. Anak-anak anti sosial, mereka lebih mampu bersosialisasi dengan manusia tanpa bertemu langsung dibandingkan bertemu langsung.

Ekspresi mereka lebih terwujud dengan jejaring sosial. Mereka seperti memiliki dua kepribadian; kepribadian maya yang bisa agresif, atau aktif, atau cerah, dan kepribadian nyata yang sebaliknya, idle, atau pasif, atau mendung.

Tidak semua yang sangat aktif di jejaring sosial berarti anti sosial dan tidak aktif di dunia nyata.

Penyakit ‘ngaum di maya ngeong di nyata’ tidak hanya menjangkiti anak-anak anti sosial. bahkan, bisa juga anak-anak yang
aktif di lapangan terkena penyakit itu karena memang faktor kemayaan.

Kau pernah lihat pria kekar atau bolehlah ceking memakai kacamata hitam? Perhatikan tingkah dia. Lalu bandingkan tingkah dia ketika tidak memakai kacamata hitam itu. Kau akan menemukan perbedaan yang magnificient. Apa perbedaannya?
Ketika dia memakai kacamata hitam, ia
kelihatan lebih percaya diri. Bahkan, tidak sesekali kau akan melihat gesture dan body language yang menunjukkan keangkuhan. Namun jika lepas kacamata hitam itu, ia kelihatan biasa dalam berlagak. Kenapa bisa begitu?

Karena dengan memakai kacamata hitam, dia bisa melihat orang dan mata orang lain, namun orang lain tidak bisa melihat matanya. Ia aman dari tangkapan pandangan orang lain. Pun seperti kicauan dan gonggongan di dunia maya. Ada yang tampil perkasa, kritik sana sini, atau terkesan sangat pintar. Ternyata setelah
ditemukan di lapangan kenyataan, beda sekali. Padahal orang-orang di dunia maya mengira dia orang yang lantang, gagah, atau akan membuat kegetaran tersendiri ketika berhadapan. Atau dinyana ternyata
pintar bicara begini begitu tanpa textbook.

Ternyata…

Itulah kacamata hitam, pelindung hakekat mata pemakainya, namun bisa menerawang mata orang lain.

Dan hal semacam ini tidak bagus bagi
kejiwaan. Jangan sampai aktifitas dunia maya kita lebih identik dibandingkan aktifitas dunia nyata kita yang seharusnya seseorang menilai dari sisi kedua.

Ada kaedah dari Nabi:
“Tidaklah berita itu seperti melihat
langsung.” [H.R. Ahmad]

Ketika kau melihat seseorang begitu
mengagumkan di jejaring sosial, tidak
selalu benar penilaianmu kemudian tentang kesiapaan dia.

Coba bandingkan kau chat di Facebook atau WhatsApp dengan seseorang. Kau tidak melihat dirinya dan ekspresi wajahnya. Kau merasa lebih bebas menulis apa yang terfikir. Kau merasa lebih bebas
berekspresi dengan pilihan2 emoticon
yang mewakili perasaan.

Lalu bandingkan ketika kau chat langsung bertemu dengan seseorang. Kau melihat dirinya dan sebaliknya. Kau menatap matanya dan sebaliknya. Akan terasa ada pembatasan dan usaha berhati-hati dalam berbicara dan berekspresi. dan kau juga akan menyimpulkan bahwa:

Andai, orang yang berselisih mau komunikasi dan rembukan dengan yang mereka selisihi langsung di dunia nyata dan juga sebaliknya.

Andai yang mencap fulan sebagai aliran sesat coba duduk bersama diajak ngeteh atau ngopi bareng dengan si the so called sesat itu…dan juga sebaliknya. Tabayun diterapkan setelah itu ambil keputusan bukan saling hina dan benci atas berita yang belum diklarifikasi. Toh kita ini bersaudara, muslim.

Maka perseteruan semakin mengecil. Ini bukan di kalangan rerumputan seperti kita saja, melainkan di kalangan asatidzah sekalipun. Andai pada mau saling berkunjung. Tapi, kadang anti sosial atau individu yang suka menutup diri di dunia nyata membela diri: “Kita menghajar orang
ga harus ketemu juga keles. Yang penting kau fikirkan hajaran dari kita. Ga usah kabur ke permasalahan kita mau ketemu atau nggak.”

Pembelaan yang menampakkan hakekat
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: