CBR: Kita Abadi

Published 3 Mei 2015 by endangkurnia

1

Tentangmu aku memiliki hal lain yang selalu terceritakan selain kata-kata. Kemarin, pun hari-hari yang lainnya, aku berdiri di garis yang sama. Mengingatmu dengan doa segera berjumpa. Aku hanya tersenyum seulas, merasa sesuatu yang hangat mengalir perlahan dalam diriku manakala sapamu singgah di penantianku, lalu aku hanya lebih banyak diam.
Meringkas luka-luka, menyeka berlaksa air mata, memendam kecewa.

Pun entah telah berapa lembar kertas telah penuh oleh namamu yang menjelma catatan-catatan sederhana. Ini tentang perjalanan rasa, yang jatuh, meninggi, terhempas, dan terkadang tiba-tiba hilang. Aku merasakannya sendiri saja dalam hati yang terdalam, kadang tersudut oleh dera yang menyiksa akibat dosa yang menghalangi jumpa. Tapi seperti pada luka-luka yang lainnya, aku bersandar penuh pada waktu, Pemilik Keabadian. Kau yang mengajarkan percaya pada Pemilik Segala yang memiliki keajaiban untuk mengeringkan duka.

Tapi, biar kali ini saja, izinkan aku menangis ketika hati tak sanggup mengendapkan lebih banyak kecewa. Izinkan aku berbicara, bukan untuk mengiba, aku hanya ingin bercerita. Bolehkah? Toh aku masih setia menanti perjumpaan kita.

Dan, aku tak pernah meninggalkan garis itu. Di muka pintu firdaus bayangmu akan menjadi sebuah kebangkitan rasa. Di muka pintu firdaus aku akan disambut olehmu dengan senyum manismu. Semoga dikabul, duhai pemilik firdaus.

Sesungguhnya, denganmu aku tak pernah menemukan kata tua. Selama apapun perbedaan zaman saling terpental di alur yang berbeda, dan selama apapun aku berusaha menyeka asa, penantian ini tidak akan pernah menjumpa senja tapi di batas surga yang indah.

Maka, kapan pun aku siap menemuimu untuk merengkuh rindu yang kini akan membisu, kau harus tahu, aku selalu ada di deretan perindumu. Selalu. Dan tak pernah beranjak sedikit pun, serta tak akan berubah sedikit pun. Mampukah amal secuil ini mampu antarkan perjumpaan denganmu?

Kita tak pernah bertemu, karena bagiku, “kita” adalah abadi sepanjang hati sanggup mencintai, ridhoi ya Ilahi. Jika pun pernah ada lubang yang membuatku terperosok lantas meringis perih menahan sakit, itulah bagian dari kehidupan rasaku. Biarkan segalanya “hidup” sebagaimana hidup harus hidup. Bukankah aku hanya akan menjadi kuat setelah terluka? Bukankah pagi menjadi sebuah harapan baru setelah kegelapan malam?

Tak perlu resah…
Kau telah menungguku di sana. Tinggal siapkan banyak amal agar sampai ke sana…

Dan mencintaimu adalah bagian dari “aku” yang tak mungkin kupisahkan dari nyawaku.

Aku dan kamu, adalah “kita” yang abadi selama hatiku sanggup mencintai…

Kita.
Muhammad bin Abdullah & Endang Kurnia binti Nurwidi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: