Catatan Alay Episode 10

Published 3 Mei 2015 by endangkurnia

belantara

Salam.. Bagaimana kabarmu? Lama juga ya aku tak menyapamu duhai orang yang belum kuketahui siapa dirimu tapi pasti akan mengucap janji suci atas diriku di depan ayahku, penghulu dan saksi dari manusia, malaikat dan Allah pastinya.

Begini, aku sadar, sesuatu yang didapatkan dengan perjuangan, akan menjadi berarti dan lebih kita jaga daripada yang kita dapatkan secara cuma-cuma. Mungkin begitulah Tuhan mengajari kita tentang setia, menempatkan kita pada labirin yang dalam satu masa membuat kita begitu hebat merangkai tanya, membuat kita meragu, membuat kita melangkahi ingin untuk berputus asa meski semuanya nampak sangat sulit untuk dijalani, membuat kita bertahan dalam gundah.

Menyenangkan saat mengingat bahwa aku akan menjadi yang paling kau inginkan, yang paling kau perjuangkan, dan paling kau jaga agar tak pernah hilang. Menyenangkan saat membayangkan bahwa engkau, lelaki yang kusebut dalam doa-doa, akan menjadi yang aku temui setiap hari, yang akan kupintakan keberkahan, yang akan menjadi muara tempat segalaku akan berlabuh. Tapi, terkadang anganku menyublim karena ragu.

Aku menantikan saat itu, saat kita menjadi sepasang busur dan anak panahnya, yang tanpa salah satunya kita tak akan berharga, serta tak cukup tangguh untuk melawan dunia. Kali lain aku berharap detik memuai, tak perlu menyegera berganti, karena masih terlalu dini bagiku untuk menjadi tempatmu berteduh, sedang aku masih begitu mudah mengumbar keluh.

Aku ingin menjadi seorang wanita yang kuat bagimu, yang dapat menemanimu menjejak setiap jalan takdir yang seringkali menjerumuskan kita ke titik nadir. Aku ingin menjadi samudramu, tempat engkau tak bisa mengingkari jalan pulang, meski berliku medan yang harus engkau tempuh. Aku ingin menjelma matahari pagi yang selalu menjadi harapanmu untuk menyingkap gelap. Aku ingin. Tapi aku masih terlalu lemah.

Dear, meski kaki ingin berlari, hatiku bertitah untuk tetap berjalan pelan. Mengenali setiap terjal perjalanan, mengambil hikmah dari setiap kejadian, belajar tentang kehidupan. Agar pada masanya, saat langkahku menyejajari langkahmu, aku telah tumbuh menjadi seorang dewasa yang tak lagi resah untuk tetap bertahan di sampingmu, bahkan kala badai datang.

Hmm, penantian itu terkadang bisa menjadi sepelik ini ya, Dear? Haha. Menyesatkanku dalam dilema. Tapi bukankah tak ada peluh yang luput dihitung olehNya? Biar saja, peluh dari semua lelah kita tersebab penantian, perjuangan, dan perjalanan panjang yang kita lalui ini, menjadi hujan yang pada masanya akan melengkungkan pelangi di angkasa kita, hingga sesiapapun akan dapat membacanya sebagai keindahan, dan bisa turut berbahagia.

Selamat menanti untukmu, Dear.

Di mana pun engkau, setengah perjalanan, atau nyaris sampai, aku akan menantimu di titik temu, yang telah Tuhan selinapkan keajaiban di sana🙂

Dari aku, yang terjebak dalam labirin rasa menunggu.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: