Berdalil dan Berlogika (Sub: Islam Jangan-jangan)

Published 3 Mei 2015 by endangkurnia

sain

Tulisanku yang berjudul “Islam Jangan-jangan” mendapat beberapa tanggapan berbeda, indah bukan?. Ada orang yang keberatan dengan isi tulisan tersebut, yang lebih menarik sampai kirim pesan di inbox. Aku kutipkan beberapa pesannya.

“Boleh berzina. Yang haram itu punya anak hasil zina karena nasabnya akan rusak..zinanya gak haram. Boleh tidak sholat, krn yang haram itu lupa mengingat Allah..jadi selama mengingat Allah tidak perlu solat. Iya Mbak End?”

“Mbak banyak2 istighfar, banyak2 ngumpul di masjid, ikuti tadarusan, ikuti kajian Islam, bisa jadi karna ngajar di perhotelan kebiasaan hotel terbawa, jgn keseringan di club, pub, cafe apalagi di mall sehingga melahirkan tulisan yg opini dan pemahaman sekuler anda tanpa tau ilmu Islamnya, oke mbak.”

“Di dalam artikel ini tidak ada satupun dalil yg dicantumkan. semuanya atas pendapat sendiri, bagaikan orang2 liberal yg merasa logikanya lebih hebat dibandingkan perkataan Allah & Rasul-Nya.”

Begitulah. Ada yang seenaknya “memperluas” apa yang kutulis, kemudian menuduh seolah itu adalah buah pikiranku. Padahal bukan. Ada juga yang langsung memberi cap ini itu. Intinya, pikiranku ngawur karena tidak menuliskan dalil-dalil, hanya memakai logika semata.

Komentar pertama itu sungguh tipikal. Tipikal orang yang cacat logika. Mungkin karena logika mereka memang jarang digunakan, bahkan sudah mati sama sekali. Hanya orang cacat logika yang akan seenaknya memperluas topik yang aku bahas menjadi seperti itu.

Aku memang tidak mengutip dalil dalam tulisan itu karena memang tidak berniat membuat tulisan fiqh. Ini tulisan untuk renungan saja. Yang membutuhkan dalil, silakan cari sendiri. Kalau Anda jeli mencari maka akan Anda temukan dua golongan pendapat soal musik, satu mengharamkan satu lagi membolehkan. Keduanya disertai dengan dalil-dalil. Jadi sungguh sebuah kesalahan kalau yang aku tulis itu adalah buah pikiranku saja tanpa dasar dari dalil-dalil Quran dan Hadist.

Orang-orang seperti ini hidupnya sungguh bergantung pada dalil. Logikanya tidur. Mereka begitu terpesona oleh dalil, tanpa menyadari bahwa ada banyak pendapat yang menyertakan dalil-dalil yang sesungguhnya tidak bersambung dengan kesimpulan yang diambil. Apa artinya? Artinya bahwa pendapat yang menyertakan dalil sekalipun tidak otomatis persis dengan apa yang dikatakan dalil. Dengan kata lain ada proses logika di antara dalil dan kesimpulan. Sekali lagi LOGIKA. Jadi, yang mereka sangka dalil suci itu sebenarnya adalah produk logika juga.

Mari kita lihat contohnya. Salah satu dalil yang dipakai untuk mengharamkan musik adalah ayat di surat Luqman ayat 6.

“Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS. Luqman : 6)”

Perhatikan, adakah kata musik dalam ayat itu? Tidak. Perkataan “lahwal hadist” dalam ayat itu dimaknai sebagai “perkataan yang tidak berguna”. Tapi kenapa bisa sampai ke musik? Itu adalah tafsir beberapa orang, di antaranya Ibnu Mas’ud. Kita tahu Ibnu Mas’ud hanyalah manusia, bukan Rasul. Jadi ada proses penafsiran, ada proses logika manusia di situ.

Ada banyak lagi ayat yang sering dikutip untuk mengharamkan musik, tapi tak ada satupun yang secara langsung tentang musik. Artinya, yang mengharamkan musik sebenarnya bukan Allah, tapi proses logika yang diambil oleh para penafsir. Jadi, masih mau mencela aku karena berlogika? Dalam hal ini mereka sudah menyembah sejumlah orang, menjadikan tafsir mereka mutlak seperti mutlaknya kata-kata Allah.

Bagaimana dengan hadist-hadist? Salah satu hadist yang sering dikutip adalah:

Akan ada dari umatku suatu kaum yang menghalalkan kemaluan, sutera, khamar dan alat musik. (HR. Bukhari)

Hadist ini terdapat dalam Sahih Bukhari. Tapi banyak juga yang menyatakan ini hadits mu’alaq (sanadnya terputus). Semua jalur periwayatannya melewati satu orang perawi yang banyak diperdebatkan oleh para ulama, yaitu perawi bernama Hisyam bin Ammar.

Yusuf Qardhawi menegaskan bahwa semua dalil yang dipakai untuk mengharamkan musik adalah dalil lemah belaka.

Orang-orang ini juga sangat gemar melakukan klaim bahwa semua ulama sepakat tentang ini. Tidak ada perbedaan pendapat, kata mereka. Mereka sebenarnya hendak memutlakkan saja pendapat yang mereka anut, dengan mengabaikan pendapat lain.

Jadi, memang ada orang-orang yang kelihatannya anti-logika. Mereka mematikan logika mereka sendiri, dan ada juga yang hidup dengan bergantung pada logika orang lain.

Selamat berdalil dan berlogika.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: