Batas Kemampuan

Published 3 Mei 2015 by endangkurnia

galau

“Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha.” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai batas kemampuannya.

Quran di beberapa ayat memuat sesuatu yang sebenarnya sudah sangat jelas, terang benderang. Misalnya ada ayat berbunyi, setiap sesuatu (yang bernyawa) pasti akan mati. Iya kan? Kita tidak pernah melihat ada yang hidup abadi, seharusnya tidak perlu diberi tahu lagi. Tapi kenapa perlu ditulis di Quran? Ini adalah sebuah pengingat.

Setiap orang tahu bahwa kematian itu pasti.Tapi berapa banyak yang bisa menerimanya? Masih banyak orang yang enggan menerima kenyataan bahwa ia atau orang-orang yang ia sayangi akan atau telah mati. Karena itu Quran perlu mengingatkan terus soal itu.

Demikian pula dengan ayat di atas. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai batas kemampuannya. Ya iyalah. Allah itu Pencipta. Masa iya Pencipta memberi beban berlebih pada ciptaanNya? Bayangkan seorang guru Bahasa Inggris yang memberi materi pelajaran pada muridnya. Guru yang waras tentu tidak akan memberikan materi “tenses” pada anak TK, karena tidak sesuai kemampuan si murid.

Kenapa Allah perlu mengingatkan? Karena sering orang merasa Allah tidak adil. Sering orang bertanya, kenapa Engkau beri aku beban seberat ini ya Allah? Sebagai pencipta dan penguasa, kalau ada yang bertanya seperti itu Allah bisa bilang: Kenapa tidak? Kan Dia yang berkuasa, jadi suka-suka Dia. Tapi Allah bukan Tuhan suka-suka. Ia menegaskan bahwa apapun yang Ia bebankan kepada kita sudah sesuai dengan kapasitas kita.

Jadi jangan mengeluh dengan ujian Allah. Kalau kita merasa berat, itu semata karena kita cengeng saja. Kita belum optimal. Kalau kita sampai kalah oleh suatu cobaan, maka kita sebenarnya sedang menyia-nyiakan nikmat Allah.

Ada pertanyaan menarik, sebenarnya sampai di mana sih batas kemampuan manusia itu? Kita tidak pernah tahu. Kita lebih sering merasa tidak mampu, tidak kuat lagi. Tapi kalau kita lebih jeli mengamati sebenarnya yang sering kita lihat sebagai batas kemampuan kita hanyalah batas virtual yang kita ciptakan sendiri.

Ada orang dengan keterbatasan seperti pianis cilik Korea Lee Hee Ah. Kalau kita lihat fisiknya, jangankan main piano, untuk sekedar hidup saja sepertinya nyaris mustahil bagi dia. Tapi kenyataannya dia hidup, menghibur dan memberi inspirasi kepada jutaan orang, yang kebanyakan adalah orang tanpa keterbatasan seperti dia.

Manusia menyimpan begitu banyak potensi kekuatan. Sebagian besar hanya jadi potensi, tidak pernah diolah menjadi kekuatan nyata. Salah satu sebabnya karena manusia lebih suka menganggap dirinya makhluk terbatas. Dengan begitu ia punya alasan atas apa yang tidak dia kerjakan, atau tidak dia capai.

Let’s struggle, bray…

Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: