Sihir

Published 17 April 2015 by endangkurnia

1

Zizi, seorang bocah yang sering aku rindukan akan kepolosannya. Bukan polos nggak tahu tapi polos ingin tahu dan itu membuatku belajar untuk banyak tahu tanpa sok tahu. Pembahasan kali ini tentang sihir.

+ Kak, tukang sihir itu beneran ada nggak sih?

– Hmmmm, kamu pengen tanya beneran ada, atau beneran punya kekuatan?

+ Dua-duanya deh.

– Kalau tukang sihirnya mungkin masih ada. Tapi kalau soal dia punya kekuatan atau tidak, kakak tidak percaya.

+ Tapi kan di Quran disinggung soal tukang sihir.

– Ya, misalnya pada cerita Nabi Musa.

+ Ya, itu gimana?

– Itu kan cerita tentang masa lalu, zaman dulu. Zaman dulu orang percaya pada sihir, jadi cerita zaman dulu sering dibumbui dengan cerita-cerita semacam itu.

+ Apa benar ada kekuatan seperti itu?

– Kekuatan seperti itu tidak pernah bisa dibuktikan keberadaannya. Lebih sering hanya berupa cerita dari mulut ke mulut yang dibesar-besarkan. Tidak pernah ada di zaman modern ini orang yang bisa membuktikan bahwa ia punya kekuatan sihir.

+ Tapi kenapa kita disuruh berlindung kepada Allah dari perempuan-perempuan tukang sihir seperti di surat Al-Falaq itu?

– Sihir tersebut terkait dengan niat jahat. Sebenarnya itu poin terpentingnya. Ada niat jahat yang bisa membuat orang was-was tidak tenang. Situasi semacam itu bisa membuat orang jadi celaka.

+ Hmmmmm, kalau gitu ayat itu nggak relevan dong jadinya.

– Bisa relevan bisa tidak. Kalau dari sudut pandang adanya ketakutan seperti kakak jelaskan di atas, ayat tentang sihir itu masih relevan.

+ Tapi kalau kekuatan sihir itu sendiri tidak ada secara nyata, kan tidak berlaku juga dong ayatnya.

– Bisa saja dikatakan begitu.

+ Masak sih ada ayat Quran yang bisa dianggap tidak relevan?

– Ada. Ayat-ayat tentang sejarah adalah rekaman tentang masa lalu. Misalnya anak-anak Nabi Adam pernah disuruh menyediakan kurban di gunung. Itu cerita tentang masa lalu, artinya kita tidak diperintah untuk melakukan kurban dengan cara yang sama.

+ Ooo. Contoh lain?

– Di Quran juga banyak ayat tentang budak. Itu juga sudah tidak relevan.

+ Yang selalu relevan apa dong?

– Nilai. Misalnya tentang keadilan, kesamaan derajat, persaudaraan, perdamaian. Itu selalu relevan.

Bersambung karna kita makan mie instan cup dulu ya.

Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: