Hukum Asal

Published 17 April 2015 by endangkurnia

melaut

Kalau Anda belajar fiqh atau ushul fiqh Anda akan selalu berhadapan dengan dalil bahwa “hukum asal segala sesuatu itu adalah mubah, atau boleh”. Apa hukumnya makan? Mubah. Apa hukumnya menikah? Mubah.

Hukum-hukum ditetapkan berdasar pada keadaan. Menikah itu hukumnya bisa wajib, sunat, mubah, makruh, dan bahkan haram. Apa yang membuatnya berbeda? Keadaan. Orang yang sudah mampu disunahkan untuk segera menikah. Yang sudah cenderung dekat pada perzinahan bisa wajib hukumnya menikah. Yang dikhawatirkan tidak punya kemampuan untuk mengemban tanggung jawab makruh menikah. Yang akan berbuat zalim dalam pernikahan, haram menikah.

Jadi kalau kita bicara soal hukum segala sesuatu sebenarnya sulit untuk tergantung pada fatwa dari orang lain. Kita harus membiasakan untuk meminta fatwa pada diri sendiri, seperti diperintahkan Rasul. Salah satu caranya adalah dengan merasakan sendiri. Nyamankah dengan perbuatanku? Kalau tak nyaman, mungkin engkau melakukan dosa, tak peduli bahwa orang lain telah memberimu fatwa bahwa kamu benar.

Tapi aku kan tidak punya ilmu, aku tidak berani berfatwa meski itu hanya untuk diri sendiri. Tidak punya ilmu itu artinya bodoh. Obat bodoh itu belajar. Kalau tidak mau belajar, pertanyaanku: Betah amat lu jadi orang bodoh?

Kalau kita belajar maka kita akan terbebas dari berbagai fatwa aneh yang dikeluarkan oleh orang. Juga bebas dari kesesatan akibat mengikuti fatwa dari ahli yang bukan-bukan macam aku ini.

Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: