CBR: Kasih

Published 17 April 2015 by endangkurnia

cropped-auroraniceui71.jpg

Ka… aku memperhatikanmu ketika kau sama sekali tak berada dengan keberadaanku. Kuakui kau, lebih dulu menyayangiku sebelum lahirku ke dunia.

Sebenarnya, aku ingin berlari menghambur ke arahmu, tapi ada rasa yang menyekatku. Entah kenapa aku ingin berbalik dan menjauh, kembali menghampiri kesendirianku. Bisa jadi inilah salahku yang tak mengikutimu. Tapi ternyata, itu hal yang lebih tidak mampu kulakukan daripada sekedar membiarkan diriku perlahan dirayapi perasaan yang sulit dijabarkan. Kali itu, aku berhasil membohongi diriku sendiri.

Lalu, seperti sesuatu yang kembali pada naluriahnya, langkah kakiku toh pada akhirnya bermuara padamu, bersama salahku. Hati, tak pernah memiliki hak untuk mengendalikan seluruh gerak, lebih dari otak. Dan ketika namamu telah terbaca sebagai hasil dari tanda sama dengan atas penjumlahan-penjumlahan rindu yang berderet terlalu panjang, logika pun tak lagi butuh mencarimu dalam kubangan-kubangan rasaku untuk mengantar aku menujumu.

Sementara mataku tak tahan ingin menatap wajahmu, aku ingin sekali mengingkari banyak hal, mengotak-atik keadaan, andai aku mampu, Ka. Aku ingin melabuh, aku ingin bermuara, tapi hanya sebagian air saja yang beruntung menemui lautnya. Lantas melebur menjadi kedamaian dan keindahan. Sedang aku merasa telah berubah menjadi sehelai daun kering yang terombang-ambing di tengah ombak. Laut tetaplah laut yang damai dan indah, tapi bukan di situ aku seharusnya. Sehelai daun kering, tidak pernah diijinkan Tuhan menjadi tetes air.

Kau laut, dan aku sehelai daun kering.

Aku mulai berhitung, mengira-ngira, seberapa lama lagi aku akan menyerpih, lebur, dan tak lagi menjadi apapun. Kala itu, aku bahkan tak mampu lagi terombang-ambing, aku telah jauh pergi, menjadi sesuatu yang tak berarti.

Tahukah Ka, kali itu aku terpejam. Sibuk menghalau kecamuk yang berkelindan di dada. Bukankah seharusnya ini mudah? Pulang pada kesendirian. Aku hanya perlu berpura-pura bahwa takdir hanya sedang mendongeng, lantas aku membayangkannya. Sedang pada nyatanya aku tak beranjak sedikit pun dari rasa rinduku.

Ka, perjuangan paling sulit adalah melawan diri sendiri. Aku terdiam cukup lama, hanya untuk berkali-kali berbicara pada hatiku agar aku pergi, mengikuti angin.

Ka, akankah aku bisa masuk ke ruanganmu untuk melepas rindu? Atau memang telah demikian sempit untuk menampung sedikit kisah yang aku punya dengan berjibun dosa. Maka aku seperti kawanan anak burung yang gagal menemukan sarangnya, sedang hari mulai gelap.

Dan tetiba aku kehilangan daya untuk lupa, untuk alpa. Di setiap pijak langkah yang gontai itu, sekujur hatiku sangat rindu saat menyebut namamu dalam sholawat, namamu yang menjadi demikian asing untuk kulantunkan akibat lebih seringnya kunyanyikan lagu tak bermanfaat. Aku berputar-putar, berlari menghindar, mengelabui diriku sendiri, tapi pada akhirnya selalu terbentur kata rindu.

Menahan rindu sampai berairmata, aku tak lagi paham benar maknanya apa. Mungkin aku hanyalah serpih debu yang hinggap di pelataranmu yang berharap tak tertiup kencangnya dosa agar bisa menemuimu. Kau, Kasih, jauh meski sesungguhnya dekat, dan aku mengenali rindu pada tiap otakku mengingatmu.

Aku ingin terus mengenalimu bersama rindu dalam setiap sunahmu, Ka (sih)….

Berharap menjadi kekasihmu, ya Rasulullah.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: