CBR: Adakah Rasulullah di Hati?

Published 17 April 2015 by endangkurnia

rasul

Tidak jarang aku mendengar jawaban “Ya” ketika kutanya “Apakah cinta pada Rasulullah?”. Lantas, benarkah ada Rasulullah di hati? Mengapa perlu melibatkan soal hati? Ya, karena yang paling berkuasa dalam diri manusia ialah hati. Untuk menguatkan persepsiku ini maka perlu kusertakan pernyataan dari Imam al-Ghazali yang menegaskan bahwa hati umpama raja yang paling berkuasa dalam diri manusia. Pancaindera dan segala anggota badan bagaikan rakyat yang tunduk dan patuh kepada perintah hati.

Hati adalah tempat cinta bertahta. Cinta itu yang mengawal hati. Jika seseorang mencintai sesuatu, seluruh tenaga, upaya dan fokus dalam hidupnya akan ditumpukan kepada apa-apa yang dicintai. Tidak hanya melulu di mulut cinta Nabi, tidak hanya di tulisan menggoreskan kalimat rindu pada Nabi. Dari bangun tidur sampai tidur kembali mengikuti cara Nabi, insan mulia yang dicintai Alllah.

Memang benar jika kita perlu berhati-hati apabila mencintai dan dicintai. Kita perlu berhati-hati memilih “siapa” dan “apa” yang hendak kita cintai. Lantas mau cari manusia seperti siapa yang pantas dicintai selain Nabi Saw? Lantas mau cari apa selain sunnah Nabi Saw yang mengantarkan cintanya Allah.

Rasulullah Saw bersabda: “Seseorang akan menjadi hamba kepada apa-apa yang dicintainya.” (Al-Bukhari)

Aku akan membagikan cerita yang kudapat dari seorang guru asal Madura, kiyai D. Zawawi Imran. Semoga Allah merahmatinya.

Dahulu di sebuah kota di tempat tinggal kiyai, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan shalat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah ini membuatku bertanya, “Apakah ada Rasulullah di hati?”. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah Swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah Saw?

Dengan malunya, jika aku tak sempat menempatkan Rasulullah di hati padahal Rasul selalu menyempatkan diri mengingat aku, kita, umatnya.

Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: