Brand Your Self!

Published 17 April 2015 by endangkurnia

sahabat

Branding is learning. Banyak orang yang gagal memahami itu. Orang mengira branding atau pencitraan itu cukup dilakukan dengan memoles CV dan berakting saat wawancara. Itu salah besar!

Adapun marketing, sesekali adalah ndingkluk banting harga, yang penting bisa masuk dulu ke pasar. Setelah mendapat kepercayaan pasar, barulah kita bisa pasang harga layak. Bagaimana mendapat kepercayaan pasar? Lagi-lagi belajar, belajar, dan belajar.

Ada seorang teman, sekarang bekerja sebagai wartawan di media ternama. Ia ingin pindah kerja. Aku katakan, pindah saja. Tapi aku bisa kerja apa selain jadi wartawan? Ooo, banyak. Wartawan itu kerja di media. Maka, ia bisa bekerja sebagai media analyst, media strategist, public relation officer, bahkan marketing. Kedengaran keren, kan? Ya, keren itu karena diberi label keren, sehingga “harga”nya mahal. Tapi sekali lagi, kalau cuma keren di atas CV, itu namanya keren bodong.

Ketika aku selesai kuliah tahun 2011, aku terancam jadi pengangguran. Aku kirim CV ke berbagai perusahaan, tidak ada yang mau menerimaku. Bahkan dipanggil wawancara pun tidak. Kenapa? Karena keahlianku tidak relevan. Aku maunya kerja di perusahaan walau backgroundku pendidikan. Waktu itu mungkin tidak ada perusahaan yang membutuhkan ahli Bahasa Inggris dengan pengalaman nol tahun sepertiku. Untuk apa? Yang laku adalah sarjana yang sesuai dengan concern si perusahaan.

Maka masa itu adalah masa ndingkluk, alias banting harga. Kerja apa saja, yang penting dibayar. Berapa saja, yang penting ada pemasukan. Maka aku lihat pasar, dan menyesuaikan diri dengan pasar. Apa yang laku? Aku jadi English tutor untuk anak-anak TK tiap sore, pagi sampai siang aku jadi pengupas bawang putih sambil menambah vocabulary Bahasa Inggris. Pada suatu hari aku diminta wawancara dan micro teaching di sekolah tinggi bahasa asing Bekasi. Aku diterima disana sebagai dosen vocabulary 1 & 2. Aku mendaftar lanjut study S2 yang sampai sekarang belum terwujud karna selalu ada cerita lain di balik cita-citaku.

Beberapa hari menjalani karir di Bekasi, aku diajak makan siang oleh dekan kampus tempat aku mengajar. “Otakmu itu seperti jaringan elektronik. Kamu sudah punya rangkaian elektronik di situ, kalau kamu ingin fungsi baru, kamu tinggal menggantinya dengan komponen lain, maka ia akan bekerja dengan fungsi yang berbeda. Artinya, kamu sudah terbiasa belajar, dan kamu akan bisa belajar tentang apa saja.”

Aku anggap kalimat-kalimat itu nasihat, bukan pujian. Maka aku akan belajar-belajar-belajar, entah belajar formal, non formal atau formalitas doang.

Pada akhirnya aku diajak ngajar di sebuah sekolah perhotelan dan kapal pesiar. Aku cari tahu tentang kapal pesiar, fantastis bisa keliling dunia gratis dan dibayar puluhan juta. Dalam benakku, aku akan membantu banyak anak lebih sukses daripada aku jika aku mengajar di sekolah itu karna lulusannya disalurkan kerja. Jika aku bertahan jadi dosen aku hanya akan tahu murid sarjana tanpa tahu dia bekerja atau tidak. Aku mengubur cita-cita sebagai dosen demi melihat muridku keliling dunia gratis dan dibayar.

Ilmu barunya adalah aku yang lulusan pendidikan bahasa Inggris harus menambah vocabulary and knowledge about English for Hospitality Industry. Disana pun bidang marketing aku pelajari dari pak direktur. Bertambah lagi ilmuku. Sampai aku ditunjuk untuk membuat kurikulum. Maka aku pun diangkat oleh direktur sebagai Koord Kurikulum.

Aku masih mengerjakan hobiku, mengajar. Disamping aku terus belajar tentang akademik dan kurikulum perhotelan. Tidak hanya itu, marketing pun aku pelajari strateginya. Public Relation pun ikut andil di dalam marketing saat aku promosi. Aku harus bisa berbicara dengan banyak orang yang baru kukenal. Sewilayah 3 Cirebon jadi jajahan untuk proses promosi, ke hotel-hotel Jakarta dan Bandung untuk urus On the Job Training saat magang masih di dalam negeri. Semenjak magang ke luar negeri aku jadi belajar International Public Relation dari direktur. Alhasil aku kecipretan pergi ke luar negeri, Malaysia, guna mengurus On the Job Training. Semoga ada jalan ke negara lain untuk magang murid-muridku, harus terus belajar.

Sekarang aku diamanahi sekolah perhotelan dan kapal pesiar cabang Purwokerto. Ada bertubi-tubi pelajaran yang aku dapatkan. Dari mengetahui proses izin pendirian sekolah, mengatur keuangan, target marketing di tempat asing bagiku sampai proses pembelajaran kampus. Itu semua ilmu yang harus terus aku upgrade. Kini tidak hanya sewilayah 3 cirebon meliputi Cirebon, Kuningan, Majalengka dan Indramayu. Kini sebutan kresidenan Banyumas diantaranya: Purwokerto, Banyumas, Bumiayu, Purbalingga dan Cilcap daerah yang harus kupelajari untuk promosi, bertebaran ilmu yang perlu dipelajari.

Jadi kuncinya cuma 2: yaitu, 1. Siap banting harga untuk bisa masuk ke pasar, dan 2. Belajar, belajar, belajar.

Then, you can brand your self into whatever brand you like.
Endless Kurnia,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: