SESUATU UNTUK PENULIS STATUS

Published 10 Januari 2015 by endangkurnia

Setelah ‘belagak’ mengamati, aku mempunyai kesimpulan bahwa di bulan ini [Desember], teman-teman FB yang mulai menulis tulisan status panjang berjamak paragraf meningkat.

Dan itu adalah hasil fikiran sendiri. Bukan seperti 2013 atau 2014, di masa ketika semuanya beralasan ‘ilmiah dan
menjauhi sok-tahu’ tetapi mengumpulkan paragraf-paragraf tulisan orang lain di status dengan pragmatisnya. Itu tidak buruk. Bagus. Tetapi menciptakan milik sendiri dengan menggali dari yang dipunyai dalam diri adalah S.E.S.U.A.T.U..

Bahkan frekuensi status panjang bulan ini lebih sering dibanding bulan sebelumnya (November). Kalau sampeyan memang menyadarinya, perbedaan itu sungguh terasa. Sangat bagus jika kita yang punya kesempatan usia ekspresikan sesuatu dengan tulisan; karena teman-teman kita di dunia lain, yaitu penganut Sepilis atau Epilepsi, bisa menulis dan
ekspresikan syubhat dalam fikiran mereka dengan tulisan. Nah, sekarang baiknya kita banyak-banyak membaca, baik itu membaca kitab atau gejala alam, lalu diresapi, dimaknai, digali, diramu, diracik dan dituangkan. Jika ada pembaca yang ter-influence dengan ramuannya, maka itu adalah kesuksesan penulis!

Tidak jadi penghalang dia dan dia yang mengatakan: “Baiknya tidak usah menulis panjang. Sedikit saja. Kalam singkat tapi padat lebih baik dari panjang tapi klowor-klowor ga jelas.”

Nasihat di atas benar, namun kebenaran tidak hanya terletak pada nasihat di atas. Seseorang tidak mungkin menulis
panjang dan padat isinya di awal-awal ia ‘belajar’ menulis panjang. Justru karena ia masih belajar lah, maka ia
belum bisa sebagus itu. Bukankah belajar dan mengasah diri untuk melakukan lebih baik adalah baik?

Mungkin bulan ini kurang padat, namun bisa jadi 3 bulan mendatang – setelah terasah dan berpengalaman-, maka tulisan mereka menjadi sarat akan makna.

Atau ada juga kritik tak membangun [biasanya keluar dari mulut atau jemari orang yang malah tidak bisa melakukan] seperti ini: “Halaah, ente menulis cuma caper [cari perhatian] orang awam saja. Supaya karyanya diminati.”

Dibanding menyerang personality penulis, lebih baik mengoreksi karya penulis, bukan? Tapi, tidak apa-apa: komentator biasanya toh lebih hebat dibanding kreator. Kalau makna ‘cari perhatian’ adalah kepingin tulisannya dibaca, maka sepertinya semua orang pembuat status [baik itu status nukilan, panjang, pendek, titik saja dst] adalah tukang cari perhatian. Tapi, jika sendirinya ‘tidak mampu’ lalu menuduh orang yang berusaha untuk ‘mampu’ sebagai tukang cari perhatian, maka memang benar: “Iri Tanda Tak Mampu”.

[Status ini membahas status panjang secara umum; tidak harus berkenaan dengan yang super ilmiah bertaburan ayat-hadits, tapi seperti apapun yang menjamak paragraf selama tulisan sendiri. Namun usahakan jadikan tulisan adalah S.E.S.U.A.TU. jika tidak bagi semua kalangan, setidaknya bagi sebagian orang!

Selamat berkarya.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: