Kemarilah Ling..

Published 10 Januari 2015 by endangkurnia

Aku tak hanya perlu mendengar suaramu. Kemarilah, Ling. Duduk di sampingku. Temani aku melintasi malam.

Ling, sesungguhnya ada yang runtuh di hatiku, kuharap itu keangkuhan. Rasa angkuh yang entah sejak kapan mengendap dan tertimbun di sebuah sudut yang jarang kusinggahi. Aku malu, Ling. Entah pada siapa. Mungkin pada waktu, yang telah menunjukkan padaku bahwa ketika kita berada di atas, maka kapanpun kita memiliki kemungkinan untuk terjatuh.

Keep fight. Itu kalimat yang hingga kini aku pun sering membisiki diriku sendiri untuk selalu menjadi kuat. Aku berjuang dan pada akhirnya mampu mencapai tingkat yang awalnya tak kubayangkan akan berada di sana.

Aku tak sadar bahwa ternyata aku dihantar oleh sebuah bibit arogansi, yang pada suatu penggalan masa akan semakin berkembang, dan menyesatkanku dalam labirin ego.

Ada kecewa, ada rasa terluka, sedih, dan pintasan-pintasan putus asa saat kudapati bahwa segalanya tak lagi sama. Aku seperti terjerembab jatuh dari puncak yang sudah dekat, melawati jalur-jalur yang sebelumnya telah susah payah kudaki. Ada amarah yang membuatku semakin lemah.

Debar di dalam dada semakin menggema di langit malam yang menua. Menyesaki telinga dengan rasa perih yang hampir saja membuatku menangis.

Bernyanyilah, Ling. Sudah lama tak mendengar nyanyianmu. Agar lindap gemuruh ini, agar tak kudengar lagi gaung penuh prasangka yang menguar dari sekawanan gelisah. Atau biarkan saja aku remuk, bukankah rasa ngilu terkadang malah ampuh menghilangkan rasa sakit itu sendiri?

Mungkin setidaknya, Ling. Kini aku kembali tersadar tentang suatu hal, bahwa aku bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa. Ah, iya, semestinya aku mengingatnya sejak aku merapal doa hendak mengayunkan langkah pertama. Ini memang salahku, yang dengan mudah dikuasai keangkuhan. Kini, Ling, biarkan saja aku berurai penyesalan, biarkan saja aku dikekang “ketiada artian”, agar aku kembali mengerti mengapa aku harus rendah hati.

Kegagalan mungkin sesuatu yang mutlak dilalui dalam suatu perjalanan, tapi mengapa sebegini membuatku terusik? Ah sudahlah, sejak awal semua salahku, yang terlalu mengakui “keakuanku”. Biar saja, semoga mentari esok pagi adalah lonceng tanda usainya segala dera yang kurasa.

Kemarilah Ling, temani aku. Kau pun mau kutemani bukan?
Endless Kurnia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: