Kelak: Guru untuk Anak-anakku

Published 10 Januari 2015 by endangkurnia

guru

Sesekali aku mengisi sebuah acara, tiba di rumah sepulang mengisi training, aku disambut oleh jeritan girang si bungsu Fiqar dilanjutkan pelukan hangat darinya, aku titipkan beberapa jam ia pada ibuku tapi ia seperti menyimpan rindu puluhan tahun padaku.

Usai makan malam, kami berkumpul di ruang duduk. TV aku matikan. Ghifari minta dibimbing menyiapkan pidato untuk acara di kelasnya. Ia diminta memberi ceramah tentang pentingnya menuntut ilmu. Aku tuntun dia untuk menghafal hadist tentang menuntut ilmu. Kemudian aku bimbing dia menuliskan naskah pidatonya di komputer.

Sementara itu Sarah juga tidak sabar. Ia memandangi tabel periodik elemen dengan penuh minat. Banyak pertanyaan yang ia ajukan selama aku membimbing Ghifari. Tapi aku tak bisa meladeninya, karena harus fokus dulu ke Ghifari. Sarah jadi sedikit ngambek.

Lalu Fiqar pun tak mau kalah. Ia duduk di pangkuanku. “Ummah, aku mau latihan nulis,” katanya. Apa boleh buat. Kusuruh Fiqar mengambil kursi dan buku tulis, lalu kudiktekan kalimat-kalimat yang harus ia tulis.

Sambil mendiktekan kalimat-kalimat
untuk Ghifari, aku juga harus melakukan hal yang sama untuk Fiqar.

Selepas itu Fiqar juga menuntut untuk mengetik tulisannya ke komputer. Bah, komputer tak cukup, karena laptop yang satu lagi dipakai Sarah untuk browsing mencari informasi soal tabel periodik. Akhirnya Fiqar mau mengalah, menuliskan kalimat-kalimatnya di tablet saja.

Selesai Ghifari menulis naskah, barulah aku punya waktu untuk Sarah. Pertama aku jelaskan sedikit tentang teori atom berdasarkan teori Rutherford. Lalu aku jelaskan komposisi inti atom, yang terdiri dari proton dan netron. Struktur atom yang
seperti itu membuat atom memiliki ruji yang berbeda-beda. Lalu aku carikan
tabel periodik yang agak lengkap, menunjukkan tidak hanya nomor atom, tapi juga berat, ruji, bilangan ionisasi, dan sebagainya.

Aku perkenalkan bahwa tabel periodik itu memuat banyak informasi, tidak sekedar nomor atom seperti yang selama ini dia kenal.

Peliknya, Sarah menjadi semakin tidak sabar. Ia haus informasi. “Ini apa? Apa maksudnya not observed?”
Ia menunjuk ke atom nomor 117.

“Oh, itu atom yang belum bisa dibuat, tapi sudah bisa diprediksi secara teoretis.”

“Oh, ada atom yang dibuat ya?”

“Iya, itu yang ada gambar orang, itu artinya atomnya buatan manusia.”

Keinginanku untuk menjelaskan struktur atom dan tabel periodik sementara terputus oleh pertanyaan tentang atom buatan. Aku harus sejenak menjelaskan soal atom-atom buatan manusia, perbedaannya dengan atom natural, radiokatif, dan seterusnya. Setelah itu barulah aku menjelaskan susunan elektron-elektron dalam atom, yang menjadi dasar penyusunan tabel periodik.

Aku jelaskan sedikit tentang mekanisme ikatan antar atom ketika atom-atom itu membentuk senyawa. Ada banyak lagi hal yang ingin ditanyakan Sarah. “Sudah malam, sekarang waktunya tidur.”

Ia menurut. Tapi dalam setiap geraknya ia berhenti sejenak, mencoba menawar, bertanya lagi tentang berbagai hal. Tiba-tiba dari balik pintu, seorang lelaki menghampiri kami, mencium Sarah dan tak ketinggalan aku pun dibagi kecupan darinya, ia memberi tanda untuk tidur pada Sarah.

Siangnya ia SMS plus kalimat manis mengabari tidak bisa menemani belajar bareng karna ada meeting mendadak. Ia menemui Ghifari dan Fiqar sedang asyik baca buku. Ia gendong Fiqar di depan, Ghifari gendong belakang. Kulihat ia sudah lelah seharian cari nafkah tapi kasih sayangnya tetap merekah. Ia mengajak tidur anak-anak sambil cek hafalan surat-surat pendek. Aku dan lelaki itu sepakat untuk jadi guru untuk anak-anak sekalipun keterbatasan waktu.

Anak-anak menikmati proses belajar. Mereka menemukan jawaban, lalu
membuat pertanyaan baru. Rasa ingin tahu yang terpuaskan, membangun rasa ingin tahu yang baru, yang lebih besar. Kadang mereka mencari sendiri jawabannya. Sebagian kami bimbing untuk mereka temukan jawaban.

Proses belajar tidak harus dalam suasana buka buku. Kadang sambil berkendara,
makan, atau sambil bermain. Selalu ada hal yang bisa diajarkan kepada anak-anak.
Keluarga kami sepakat: jadi pembelajar sejati sepanjang hayat. Memungut ilmu yang berserakan dimana-mana.

InsyaAllah,
Endless Kurnia 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: