From “Galau” to “Move On”

Published 10 Januari 2015 by endangkurnia

Sekiranya mau disadari, satu ayat pun bisa diresapi satu hari penuh, dari tinjauan segala sisi ilmiah yang berikatan dan berkaitan dengannya. Hanya karena kurangnya kita didikan tafsir secara lebih mendalam, atau bahkan nihilnya, imbasnya peremehan terhadap kajian-kajian tafsir, dan kitab-kitab tafsir. Bahkan, sesingkat- singkat kitab tafsir pun jarang dibaca oleh keumuman kita; kecuali jika menemukan kasus panas berkaitan dengan ayat.

Hak al-Qur’an yang telah dirampas oleh dinding bersaratkan sajian-sajian dan kajian-kajian tematik status rekan, perlu direvitalisasi. Kesadaran itu sebenarnya sudah ada. Namun qalbu yang lemah takkan menjadi raja yang berdaya instruksikan seluruh anggotanya untuk memulai dan konsisten. Qalbu yang meski sadar namun kering akan azam dan tekad
kuat ibarat orang yang melinting rokoknya kemudian membakarnya dan hilang atau okelah masih tersisa ampas tak berguna. Ya. Seperti seseorang yang sudah bermodal sadar “Wah, iya, bener juga ya!” tapi kemudian membakar kesadaran itu dengan diam, tidak beranjak, bermalas-malasan dan berangan panjang. Kesemua itu adalah pembunuh ampuh untuk segala macam kemajuan ilmiah.

Bahkan, seorang peminat musik pun, yang sadar akan adanya potensi musikal dalam dirinya, jika diam saja dan hanya menggelembungkan balon khayalan di atas kepalanya, takkan menjadi apa-apa kecuali orang yang kalah sebelum bertarung.
Maka betapa herannya kita melihat para sinden dan penyanyi itu memelihara suara mereka agar tetap menarik. Bahkan, mereka rela bergerak mencari pelumas, obat dan apapun itu ang bisa memelihara suara emas mereka. Ternyata banyak dari kaum muslimin, bahkan sebagian imam masjid sekalipun, boro-boro mau berfikir mencari hal yang bisa meng-upgrade anugerah suara mereka agar bisa melantunkan kalam Rabb-nya lebih indah lagi. Sebagian sudah terpaku akan ‘sudah menjadi imam’.

Seperti sebagian sudah terpaku akan ‘sudah dapat hidayah’ atau ‘sudah ngaji’. Padahal, pekan ini mereka loncat ke dermaga jual beli, pekan depannya mereka loncat ke sarang Khawarij, lalu pekan berikutnya mereka berenang di lautan Tazkiyatun Nafs.

Tanyakan kenapa dan bagaimana? Tanyakan kemudian apa hasil produktif, atau minimal apa yang sudah dipelajari dan disimpan dari loncat-loncatan itu?

Jika seseorang ingin sukses membuat artikel saja butuh kerangka yang runut, jelas dan saling menyambung, maka tanyakan pada arwah gentayanganmu kenapa gelar ‘ngaji’ itu tidak mempunyai kerangka yang hidup; sehingga seolah kau hanyalah makhluk halus yang ‘nowhere to go’ dan ‘nowhere to say’. Hanya menjulurkan lidah api di topik-
topik panas, dan itupun hanya sebagai kompor negro saja.

Harus percaya kau bisa, selama kau prasastikan azammu di qalbu, tawakkalmu pada Rabb-mu, dan sebut nama Dia selagi kau memakai kaos kakimu dari kanan terlebih dahulu.

Dari status galau to move on dengan mempraktekan ngajinya.

Efek haus baca kitab
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: