Filosofi Kecelakaan

Published 10 Januari 2015 by endangkurnia

Ketika aku mengatakan bahwa kecelakaan bukan kehendak Tuhan selalu saja ada yang membantahku. Semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Tuhan, katanya. Kalau kecelakaan itu kehendak Tuhan, apakah berarti Tuhan menginginkan kita celaka? Bukankah Tuhan sendiri berkata bahwa Ia tidak (akan) menzalimi hambaNya?

Kecelakaan itu selalu ada hikmahNya, begitu dalih orang lagi. Lantas, apakah kita harus celaka dulu untuk mendapatkan hikmah? Tidak bisakah kita mendapat hikmah tanpa terlebih dulu celaka? Bagiku hikmah terbesar dari sebuah kecelakaan
adalah bahwa kita belajar sebab-sebabnya. Setelah sekian ratus tahun belajar manusia menyusun ilmu pencegahan kecelakaan, dan dengan itu kecelakaan bisa dihindari. Maka orang atau kelompok yang terus menerus mengalami kecelakaan adalah yang tidak pernah bisa mengambil hikmah dari kecelakaan itu.

Manusia itu lemah, selalu saja ada kelalaian. Bagaimanapun manusia berusaha, tetap saja ia akan luput, lalu celaka. Sementara Tuhan adalah Yang
Maha Kuasa. Maka kecelakaan adalah
wujud nyata dari kekuasaan Tuhan. Seolah Tuhan itu merasa tidak nyaman kalau tidak memamerkan kekuasaanNya dengan mencelakakan hambaNya.

Kecelakaan adalah kehendak Tuhan. Tapi mengapa Tuhan menghendaki kecelakaan? Itu adalah rahasia Tuhan. Kalau rahasia, kenapa engkau bisa mengatakan bahwa itu kehendak Tuhan? Apakah Tuhan membagi
sebagian rahasianya kepadamu? Tidak. Tidak ada rahasia Tuhan di situ. Ilmunya sudah jelas, siapa yang berhati-hati akan selamat, yang ceroboh akan celaka.

Manusia tidak bisa mencegah kecelakaan 100%. Benarkah? Kecelakaan memang bisa dicegah. Aku yang mengajar di sekolah perhotelan dan kapal pesiar, tiap murid yang diterima di kapal pesiar maka wajib mengikuti Basic Safety Training (BST) sebagai usaha dasar keselamatan. BST bukanlah bentuk kepongahan di depan Tuhan, seolah kita lebih berkuasa daripada Tuhan. Bukan. BST adalah wujud kepercayaan bahwa Tuhan menyayangi hambaNya. Tuhan tak menghendaki hambaNya celaka. HambaNya saja yang sering lalai. BST adalah ikhtiar agar manusia tak lalai. Itu filosofinya.

“Aku adalah sebagaimana yang hambaKu sangkakan.”

Kalau engkau menyangka Tuhan itu suka mencelakakan, maka kau tak akan berikhtiar untuk menghindari celaka. Kalau engkau menyangka Tuhanmu penyayang, maka kau akan mencari kasih sayangNya dengan berhati-hati dan menghindari
kecelakaan.

Safety your believing to God.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: