Curhatku Bersama Rasul (CBR): Cinta Allah itu Tujuan, Cinta Rasulullah itu Jalan

Published 10 Januari 2015 by endangkurnia

rasul

Dua kalimat syahadah adalah bukti bahwa cinta kepada Allah dan Rasulullah Saw tidak terpisah. Cinta Allah itu tujuan, cinta Rasulullah itu jalan. Tidak mungkin tercapai tujuan “Lailahaillallah” tanpa mengikut jalan “Muhammad Rasulullah.”

Allah adalah awal dan akhir dari segenap kerinduan manusia. Untuk menjadi sempurna, manusia meniti perjalanan ruhani dalam mencintai dan merindukan Allah. Tetapi, perjalanan yang ditempuh terasa berat, godaan yang menghadang begitu dahsyat, sehingga banyak manusia menjadi sesat. Aku pun tak luput dari salah satu bagiannya. Sadar dan kembali terus begitu siklusnya, fluktuatif.

Untuk itulah aku yang maksiat dan taubat ini, Allah utus seorang manusia sempurna, sebagai pembimbing dan penunjuk jalan
menuju-Nya. Ialah Muhammad Rasulullah, makhluk yang paling utama yang pernah diciptakan Tuhan semesta alam.

Pada diri Rasulullah ada teladan yang paripurna. Amat berbahagia mereka yang sezaman dengan beliau, yang menyaksikan senyum ramah dan kebahagiaan yang terpancar dari muka sucinya. Apa yang harus kita lakukan, ketika waktu memisahkan kita dan Rasulullah padahal kerinduan padanya menggelora dalam diri?
Mungkinkah aku, kita – dengan seluruh
dosa dan nista yang kita lakukan –
memperoleh cinta Ilahi, melalui jalan Sang Nabi?

Keyakinan kita kepada Allah adalah atas curahan ilmu, didikan, bimbingan dan pimpinan Rasulullah. Justru, Rasulullah itu manusia biasa yang sangat luar biasa. Baginda tidak dididik oleh manusia, tetapi dididik oleh Allah Swt.

Kata-katanya tidak pernah sia-sia melainkan terpandu segalanya oleh wahyu. Allah berfirman yang bermaksud: “Rasulullah tidak berkata melainkan wahyu Allah.” (Surah al-Najm 53: 3-4)

Jika hati mencintai kebaikan, maka butalah hati itu jika tidak mencintai Rasulullah… karena Bagindalah insan terbaik dan paling banyak menabur kebaikan. Jika hati mencintai keindahan, maka matilah hati itu jika tidak jatuh cinta kepada keindahan
Rasulullah; senyuman, sapaan, teguran, bujukan, bahkan marahnya sekalipun tetap indah.

Kita masih boleh membayangkan seorang yang pernah mengikat perutnya dengan batu bagi menahan kelaparan ketika berjihad. Baginda insan yang pernah patah giginya oleh serangan dan tusukan senjata musuh. Terkenang, seorang insan yang pernah luka-luka dilontar dengan batu-batu, dilempari najis dan bangkai, terperosok ke dalam duri dan lubang, akhirnya dikepung untuk dibunuh, hanya karena ingin menyampaikan iman dan Islam buat kita semua, manusia.

Kebaikan Rasulullah bukan saja dinikmati oleh generasi yang hidup bersamanya, tetapi melampaui masa, zaman dan keadaan sampai kita pun ikut merasakan kebaikan beliau. Cinta Baginda turut menyentuh hati kita. Cinta tidak semestinya bertemu. Cinta tidak semestinya bersama. Dimensi cinta ialah ukuran rasa, bukan oleh
jarak yang jauh atau masa yang panjang dan pendek. Cinta merombak batasan masa, jarak dan ruang.

Inilah insan yang seharusnya dicintai. Insan yang tidak akan rela tanpa dijanjikan keselamatan buat kita semua, umatnya. Insan telah pergi menemui al-Rafiq al-A‘la (Teman daerah tinggi yaitu Allah) tanpa mewariskan sebarang harta. Bahkan menurut ahli sejarah, ketika itu lampu di rumahnya sudah kehabisan minyak…
Itulah cinta Rasulullah. Itulah yang mesti ada ada dalam jiwa agar kita berpeluang bersama-samanya di dalam syurga. Dan bertanyalah kepada hati kita sendiri, “Adakah Rasulullah di hati kita?”

Bersambung….

Ya Allah… kurniakan padaku hati yang senantiasa mengingatMu dan ikuti kekasihMu.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: