Catatan Alay Episode 8

Published 10 Januari 2015 by endangkurnia

Dear, salam… Semoga kau belum bosan menerima surat-surat dariku, wanita yang suatu hari nanti akan menggandeng tanganmu dan berjalan selangkah di belakangmu. Kuharap kita satu pemikiran, bahwa lelakilah yang semestinya di depan, untuk menjadi pelindung, untuk menjaga, untuk menjadi perisai. Kadangkala, istilah “ladies first” itu tak terlalu efektif adanya😀

Kau sedang apa di sana? Aku sedang berusaha bangkit dari luka. Ternyata, untuk menemukanmu aku harus melalui terjalnya jurang yang hanya bisa dilewati dengan cara menjatuhkan diri. Aku patah. Mungkin engkau tahu bahwa setiap rasa sakit akan berkesudahan, tapi ngilunya mengabadi bersama waktu. Katanya, ada satu penawar yang jitu, yaitu meringkas masa lalu.

Tak ada mantra atau doa apapun untuk menghilangkan cerita tentang waktu lampau kita, tapi kita bisa meringkasnya dengan membuka lembaran baru, dan itu bersama kamu, saat janji kita untuk mengecap suka duka bersama, direngkuh langit. Mudah-mudahan semua lara akan sirna.

Mungkin di sana, kau tengah kagum pada gadis lain, menaruh hati padanya, memastikan keberadaannya. Mungkin kau tak menyangka bahwa kini ada gadis yang dengan penuh harap sedang menulis untukmu, yang bagaimana pun caranya sungguh berharap kau membacanya, untuk adamu di sini, di sampingku.

Kau percaya keajaiban, Dear? Aku percaya. Sepercaya bahwa Tuhan itu Maha Berkendak dan setiap doa akan dikabulkan pada masanya. Mungkin suatu hari, jika kita duduk berdua lantas membaca surat ini bersama, kau akan tertawa tentang betapa konyolnya aku mengharap seseorang yang bahkan aku tak tahu siapa, seperti berjalan namun tanpa tujuan, kan? Tapi tidakkah kau ingat bahwa setiap misteri selalu memiliki jawabannya?

Ah, maaf karena membuat semua ini begitu rumit. Kau boleh tidak peduli dan menganggapnya angin yang kebetulan berembus lalu akan hilang begitu saja. Kau boleh melewati beberapa kalimat untuk membacanya dengan cepat. Karena tidak semua pesan, akan tersampaikan dengan kata-kata.

Dear, kalau kedua tanganku tak bisa menengadah, aku akan melakukannya dengan lisanku saja. Jika lisanku kehilangan suara, aku akan melakukannya dengan hatiku. Tuhan Maha Tahu kehendak hambaNya kan? Kau hanya cukup menunggu ruang pekatmu mulai diterobosi doa-doa, yang kupanjatkan tanpa kau pinta. Dan semua ingin, semua pesan, semua penantian, akan terjawab tanpa perlu aku menjabarkannya padamu. Begitu, Dear. Di tangan Tuhan, kau dan aku tak perlu cemas pesanku akan salah alamat.

Alayku bersama doaku.
Endless Kurnia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: