Gadis Indramayu (2)

Published 12 Maret 2011 by endangkurnia

Episode: Pernikahan…

Kemudian aku menikahinya. Adalah gadis itu sangat berpegang teguh dengan Agama Islam dibanding dengan kebanyakan wanita muslimah lainnya. Suatu hari dia pergi denganku ke pasar dan dia melihat seorang wanita yang berhijab, wajahnya ditutup. Ini adalah yang pertama kalinya dia melihat seorang wanita yang berhijab secara sempurna. Gadis itu merasa aneh dengan bentuk pakaian wanita itu! Dia bertanya kepadaku sebagai suaminya, dan berkata: “Kenapa wanita itu pakaiannya seperti demikian? Apakah dia terserang penyakit yang mengakibatkan wajahnya menjadi buruk? Sehingga ia menutupnya?”

Aku menjawab: ”Bukan, Wanita itu berhijab dengan suatu hijab yang Allah Subhanahu Wata’ala ridhoi bagi hamba-Nya dan yang sesuai dengan perintah Rasul Shollallahu ‘Alaihi Wasallam”.

Dia diam sejenak, kemudian berkata: ”Ya benar, ini adalah hijab Islami yang Allah Subhanahu Wata’ala perintahkan kepada kita”.

Aku bertanya: ”Bagaimana menurutmu?”

Dia menjawab: ”Saat ini apabila aku masuk kedalam pasar mana pun maka seluruh mata pemilik toko tidak henti-hentinya memandang wajahku! Mereka hampir mengamati wajahku sisi demi sisi! Jadi wajahku ini mesti ditutup, hanya untuk suamiku saja yang boleh melihatnya. Dan aku tidak akan pernah pergi ke pasar ini kecuali dengan Hijab seperti itu. Lalu dimana kita dapat membelinya?”

Aku berkata: ”Terus sajalah engkau dengan hijabmu yang sekarang ini, seperti ibu dan kedua saudariku”.

Istriku menjawab: ”Tidak, bahkan aku ingin berhijab sesuai dengan keridhoan dari Allah Subhanahu Wata’ala!”. Hari pun berlalu, tidaklah bertambah pada diri wanita itu kecuali keimanan. Orang disekitarnya menyukai dia. Ia menguasai hati dan perasaanku sebagai suaminya.

Pada suatu hari aku melihat paspor istriku, ternyata masa berlakunya hampir habis dan mesti diperbaharui. Masalah ini adalah sangat sulit, karena mesti diperbaharui di kota tempat kebangsaannya.

Jadi mesti pergi ke Indonesia. Jika tidak maka visanya dinilai tidak mengikuti peraturan. Lalu aku memutuskan pergi bersama istriku, lantaran aku tidak ingin istriku pergi tanpa mahrom.

Kami naik pesawat dengan penerbangan menuju Indonesia dan istriku memakai hijab dengan sempurna.

Dia duduk disampingku. Kemudian aku berkata kepadanya: ”Aku takut kita mendapat masalah disebabkan karena hijabmu ini”.

Ia menjawab: ”Subhanallah…apa engkau ingin aku mentaati mereka yang kafir dan mendurhakai Allah Subhanahu Wata’ala!. Demi Allah..tidak! Terserah apa kata mereka!”

Orang-orang mulai melihat kepada istriku, pramugari pun mulai menghidangkan makanan. Makanan yang disertai dengan minuman keras. Minuman setan laknatullah itu mulai dihidangkan kepada para pembesar. Kata-kata yang tidak pantas diarahkan kepada istriku dari sana sini. Disini bergurau, disana tertawa dan yang ketiga mengejek. Mereka berdiri disamping dan mengejek istriku.Aku memperhatikan mereka. Sayangnya akupun tak paham sedikitpun bahasa mereka dimana kursi yang kami tempati rata-rata orang yang berkebangsaan Indonesia. Adapun istriku hanya tersenyum dan tertawa mendengar caci-maki yang mereka lontarkan. Setelah dijelaskan bahwa mereka menghina istriku, sontak aku sebagai suaminya marah.

Istriku berkata: ”Jangan sedih dan jangan pula sempit dadamu. Ini adalah masalah sederhana dibandingkan dengan apa yang dihadapi oleh para sahabat dan yang diperoleh oleh para wanita sahabat dari musibah dan ujian”. Ia berusaha menyabarkanku sampai pesawat mendarat.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: