Buntelan Karung Hitam (3)

Published 26 Mei 2010 by endangkurnia

Habsyi tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru dua bulan yang lalu. Semenjak kami berkenalan, kami baru 2 kali bertemu.”

“Aku tolak lamaranmu. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak terlalu mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas ayah Shaliha, keras.
Ini situasi yang sulit. Shaliha mencoba membantu Habsyi. Bisiknya, “Ayah, dia aktivis lho.”

“Kamu aktivis ya?” tanya pak Fikar, ayah Shaliha.

“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti orba di kampus,” jawab Habsyi, percaya diri.

“Aku tolak lamaranmu. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?”

“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.” Habsyi menjelaskan.

“Aku tolak lamaranmu. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?” bantah pak Fikar.

Shaliha membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”

“Kamu lulusan mana?”

“Saya lulusan ekonomi dari sebuah Universitas Negeri ternama Pak. Universitas itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan SMA ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”

“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja empat tahun lebih, IPnya juga cuma tiga pas Pak.”

“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”
Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”

“Jadi kamu sudah bekerja?”

“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”

“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”

“Lamaranmu tetap aku tolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”

“Rencananya maharmu apa?”

“Seperangkat alat shalat Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Maaf, kami sudah punya banyak banget. Kalau tidak percaya, lihat saja di lemari”.

“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang lima puluh juta rupiah Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kau pikir aku itu matre. Menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan itu datang lagi, “Dia jago IT lho Pak”

“Kamu bisa internet?”

“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”

“Aku tolak lamaranmu. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”

“Tapi saya nge-net cuma ngecek imel saja kok Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Sang gadis berkata, “Tapi Ayah…”

Sang laki-laki paruh baya langsung berkata kepada laki-laki muda, “Kamu kesini tadi naik apa?”

“Mobil Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”

Sang gadis berkata, “Ayahh..”

Sang ayah berkata, “Kamu merasa ganteng ya?”

“Nggak Pak. Biasa saja kok”

“Aku tolak lamaranmu. Mbok yo kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”

“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kamu berpotensi menjadi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”
Mata Habsyi kini berkaca-kaca, Shaliha dan ustadz Hasan beserta istri ikut khawatir.

* * *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: