Wanita Menyongsong Kebangkitan Negara

Published 26 April 2010 by endangkurnia

Ya sudahlah… percuma wanita berusaha lebih keras lagi, ini sudah takdir…
Untuk apa wanita berkiprah memperbaiki negara?! Bukankah sudah ada kaum pria…
Sudah garis tangannya bahwa wanita bertugas di rumah saja, oleh karena itu bukan urusan wanita berkiprah di masyarakat. Begitulah takdir wanita kira-kira…

Kata-kata takdir seorang wanita seringkali membatasi kaum hawa dari melakukan yang terbaik dari dirinya, dan merubah sesuatu yang berada di depannya. Kata ini seolah-olah menjadi legitimasi bagi wanita untuk melakukan aktivitasnya secara minimalis dan menjadi alasan khusus untuk menghindar dan mengelak untuk lebih berkiprah lebih dari seorang ibu rumah tangga. Alasan klasik yang masih menggema di lingkungan masyarakat kita.

Kartini menuntut pendidikan bagi kaum wanita, berarti orientasinya lebih ditekankan pada tingkatan kecerdasan secara individual. Sasaran yang lebih jauh ingin dicapai adalah mengangkat martabat kaumnya, Kartini tidak pernah mempertentangkan wanita dan kaum laki-laki. Dalam salah satu suratnya, ia mengatakan bahwa bagi kaum wanita yang menyukai kemajuan, bukan orang laki-laki yang dilawannya, melainkan pendapat kolot yang turun temurun.

Kesalahan berfikir utama para feminis adalah mereka menjadikan tolak ukur keberhasilan dan kesuksesan bagi pria sebagai tolak ukur keberhasilan dan kesuksesan bagi wanita. Misalnya, para feminis mengatakan seseorang wanita bisa dikatakan berhasil dan sukses jika mereka bisa menghasilkan uang, mempunyai kedudukan tinggi, mempunyai posisi yang tinggi, kuat secara fisik, dan lain-lain. Mereka lupa jika memang pria dan wanita berbeda. Dan hal inilah yang tidak boleh diulangi oleh kaum pria dan wanita dalam menyongsong kebangkitan.

Seperti yang telah kita ketahui, Allah Swt telah melebihkan pria atas wanita dalam hal-hal tertentu, dan melebihkan wanita atas pria dalam hal-hal tertentu pula. Dan hal yang paling baik dilakukan oleh wanita dalam rangka menyongsong kebangkitan adalah dengan berusaha mengembangkan dan mempertajam keahlian mereka dalam hal-hal yang memang telah dilebihkan Allah atas mereka, tanpa mengabaikan kewajiban-kewajiban mereka yang lain. Saya ambil contoh dalam hal politik praktis.

Dalam masalah kepemerintahan umumnya pria lebih baik melakukannya ketimbang wanita, why? because men designed for it, walaupun wanita tentu harus mengerti politik praktis. Dalam kasus mengurus anak dan rumah tangga, umumnya wanita selalu lebih baik daripada pria, dan lebih suka melakukannya, why? because women designed for it, walaupun pria tentu harus mengerti pula cara mengurus anak dan rumah tangga.

Walhasil, peran seorang wanita dalam menyongsong kebangkitan negara sangatlah luar biasa dan mulia. Peran tersebut memang sebuah peran yang luar biasa berat, oleh karena itulah peran ini haruslah ditanggung dan dilaksanakan secara berjama’ah, dan bersama-sama.

Tolok ukur berhasil atau tidak peran wanita dalam kebangkitan mestilah diukur dengan tolok ukur yang Islami dan khusus buat wanita, dan tidak boleh dengan tolok ukur yang lain. Ketika pria dan wanita sama-sama menjalankan peran mereka, maka dengan pembinaan yang intensif, pengopinian yang kontinyu dan pembentukan jaringan yang kokoh, maka akan terjadi peningkatan taraf berfikir dalam masyarakat dan insya Allah negara akan bangkit.

Apabila ancaman fisik terhadap negara telah mewajibkan perempuan keluar untuk turut berjuang, maka analoginya adalah bahwa serangan atau bahaya atas negara secara umum pun akan mewajibkan para perempuan keluar dari rumah untuk ikut berperan serta dalam membela negara dan kemanusiaan.
Ketika kemiskinan dan penindasan HAM merajalela, korupsi menjadi nomor satu, pornografi dan porno aksi menjadi santapan utama media, pendidikan dan pencerdasan bangsa dan perempuan terabaikan, dan lain-lain maka perempuan keluar untuk turut aktif mengentaskan berbagai persoalan tersebut. Inilah saatnya wanita menyongsong kebangkitan Negara.

One comment on “Wanita Menyongsong Kebangkitan Negara

  • kebangkitan dan kehancuran sebuah negara memang sangat bergantung dari wanitanya ( terutama wanita yg berperan sebagai seorang istri )…… ingat dalam kasus Gayus… mustahil istrinya gak mengetahui bahwa suaminya adalah seorang koruptor…. atau ( bukan bermaksud suuzon ) jangan2 istrinya sendiri yg “mendorong” suaminya untuk korupsi….. demi kekayaan, kepuasan, prestise ?

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: