Merindu (12)

Published 26 April 2010 by endangkurnia

Senja sebentar lagi berangkat gelap, tetapi masjid-masjid masih sepi. Tidak seperti dulu, beberapa tahun yang lalu, saat aku masih kecil dulu. Ketika itu, setiap senja menjelang maghrib, masjid-masjid selalu ramai dipenuhi anak-anak. Mereka semua berkumpul melingkar mic, bersholawat, menyenandungkan puji-pujian atas Al Musthofa, lantang sekali, bersemangat sekali.

Lalu ketika marbut masjid menyuruh mereka berhenti karena adzan maghrib akan segera dikumandangkan, mereka bergegas mencari wudlu. Di luar, bapak-bapak dan orang dewasa lainnya yang baru saja menyusul menuju masjid, tersenyum pada mereka, pada anak-anak pelantun sholawat setiap senja.

Dulu, aku adalah salah satu dari anak-anak itu walau sadar aku adalah satu-satunya perempuan diantara mereka. Aku selalu bersemangat ketika duduk bersama dalam sebuah lingkaran menyenandungkan sholawat meski sebenarnya aku tak tahu apa isi sholawat itu. Jujur, dulu aku tidak pernah tahu mengapa sholawat harus dibacakan, untuk siapa sholawat itu disenandungkan. Aku hanya menghafalnya, dan aku hanya tahu bahwa di dalamnya ada nama sang kekasih hati. Nama yang sering dibicarakan ustadz dan uztadzah yang mengajariku ngaji.

Dikisahkan, ada seseorang melihat satu makhluk yang sangat jelek di padang sahara. Lalu dia bertanya, “Siapakah kamu?’ “Aku amalan jelekmu,” jawab makhluk itu. “Apa yang dapat menyelamatkanku darimu?” “Sholawat kepada utusan terakhir Allah, sebagaimana sabda beliau.
“Shalawat itu berada di atas cahaya, di atas ash-shirath. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku pada hari Jum’at sebanyak delapan puluh kali, Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama delapan puluh tahun.”

Kisah lain, ada seseorang yang tidak pernah bersholawat pada junjungan kita, kekasih Allah. Pada suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan insan kebanggaan Allah. Beliau tidak menoleh kepadanya. Oleh karena itu dia bertanya, “Wahai utusan Allah, apakah Anda marah kepada saya?”
“Tidak,” jawab beliau.
“Lalu mengapa Anda tidak memandang saya?”
“Karena aku tidak mengenalmu” Al Musthofa menjawab.
“Bagaimana Anda tidak mengenal saya, padahal saya termasuk umat Anda? Para ulama mengatakan bahwa Anda lebih mengenal umat Anda daripada seorang ibu mengenal anaknya.”
“Mereka benar, tetapi engkau tidak mengingatku dengan sholawat. Sebab aku mengenal umatku menurut kadar sholawat mereka kepadaku.” Kekasih hati menjelaskan.

Setelah terbangun, orang itu mewajibkan dirinya selalu bersholawat kepada sang junjungan seratus kali sehari. Selang beberapa waktu ia bermimpi lagi bertemu kekasih Allah. Beliau berkata, “Kini aku mengenalmu dan aku memberikan syafaat kepadamu, karena engkau telah menjadi pecinta utusan Allah.”

Tapi kami tak tahu semua itu. Soal mengapa kami semangat bersholawat, bukan karena mengejar pahala dan pengampunan dosa yang dijanjikan dalam hadits. Bukan. Kami tak tahu soal itu. Jujur saja, kami suka sekali berkumpul di senja untuk latihan rebana, sholawat yang menjadi lagu andalan kami. Juga bersemangat karena suara kami akan terdengar ke seluruh kampung melalui toa masjid. Oya, kami juga bersemangat karena kami berkesempatan memegang mic, seperti orang dewasa.

Begitulah kami bersholawat walau kami kini terpisah, setidaknya sholawat tak akan terpisah dari kehidupan kami. Sekarang, sholawat menjadi pelipur dahaga rindu kepada insan yang sekarang menghipnotis diri untuk mencintainya.

“Sungguh, Allah dan para malaikat-Nya, senantiasa bersholawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman bersholawatlah dan ucapkanlah setulus-tulus salam baginya” (QS. Al-Ahzzab:59).
Sholawat menjadi penawar rindu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: