Merindu (2)

Published 7 April 2010 by endangkurnia

Diantara temaram sinar bulan yang jatuh terpencar ke bumi, semilir angin gurun menerpa kulitku yang ‘item manis’ kata ibu. Pukul sepertiga malam, bersiap-siap memadu kasih dengan sang Pencipta, mengadu kegundahan jiwa nan rindu, bersimpuh memohon keridhoanNya, aku yang penuh dosa berharap dapat menatap sang pujaan hati. Waktu pun bergulir hingga kumandang Subuh.

Hidup ini terasa berat bagiku. Belum lama aku berada di Negeri sang kekasih tapi ada perasaan harus kembali ke tanah air. Aku tak mau pulang ke Negara dimana aku dibesarkan, aku ingin pindah Negara saja sepertinya supaya merasa dekat dengan Negara sang pangeran.

Aku terlanjur suka kepada sesuatu yang berbau Arab; tulisannya, bahasanya, budayanya, makanannya, musiknya sampai orangnya bahkan suatu Negara yang berbau ke arab-araban. Aku langsung terpesona dibuatnya. Mungkin mata hati dan pikiranku terlalu berbinar-binar pada sang kekasih yang memang orang Arab. Dalam kenyataan hidup, aku selalu berinteraksi dengan orang-orang yang ada kaitannya dengan kata ‘arab’. Karyawan fotocopy di kampus, ustadz-ustadz yang mengajariku ngaji, penyanyi favorit, teman chatting, sampai murobi pun ada kaitannya dengan kata ‘arab’. Sekali lagi, ingatanku seringkali tertuju pada sang pangeran. Betapa rindunya…

Didalam masjid Nabawi. Kampung halamanmu telah ku sambangi, kasih. Namun rinduku belum jua reda. Meskipun aku tak pernah berjumpa denganmu, bolehkah aku merindukanmu?.

Dengan berat, kaki melangkah keluar masjid Nabawi. Di tengah perbatasan Madinah, sinar mentari tepat di tengah kepalaku membakar gurun pasir mengantarkan aku pada suatu keputusan. Bagaimana mungkin aku dapat bertahan di kota ini?. Keluarga, bangsa, Agama, tanggung jawab, serta misi berat tengah menungguku. Aku sulit mengambil keputusan. Ragu-ragu. Pergi atau bertahan ?. Sekilas wajah ibu memprovokatori keputusan. Aku harus pulang dahulu, mengabarkan pada ibuku sekaligus meminta restu untuk merantau kembali tinggal di negeri sang kekasih. Setelah itu, aku pun tak lupa mengabarkan pada kawan-kawan yang mengaku mencintai orang yang sama untuk merajut cinta bersama, aku ikhlas dipoligami untuk kasus cinta yang ini.

Akhirnya pesawat berlandas pula di bandara Soekarno-Hatta. Ku temui ibu di rumah. Teringat dengan masa kecilku yang sering dikisahkan ibu. Kumandang adzan Subuh menyambut kelahiranku, saat itulah saksi bisu aku datangi dunia. Ibu dan bidan yang membantu terheran-heran, aku lahir masih dibungkus oleh selaput putih, “bukan ari-ari ataupun usus yang membelit” sanggah Bu bidan. Aku masih memejamkan mata, katanya. “De, jangan tidur… sudah adzan, waktunya sholat Subuh” bisik ibuku. Rupanya ajakan sang Pencipta mampu merobek selaput putih yang membungkus tubuhku tanpa bantuan dari sang bidan lantas menangislah aku. Kumadang adzan kembali terdengar di telingaku yang mungil, ayahku mengazani. Tak ayal pikiranku pun teringat dengan kelahiran sang kekasih.

Ia lahir dalam posisi telungkup dengan meletakan dua belah tangannya dipermukaan bumi dan mengangkat kepalanya menengadah ke langit yang tinggi yang merupakan lambang keagungan dan ketinggian martabatnya melebihi seluruh manusia. Sang kekasih dilahirkan dalam keadan sudah bersih, sudah putus pusarnya atas kekuasaan Allah. Ia lahir di kampung Irash kota Makkah. Dalam usia tiga bulan, beliau sudah bisa berdiri tegak, diusia lima bulan sudah bisa berjalan sendiri dan diusia sembilan bulan beliau sudah bisa berbicara dengan fasih. (Alkitab Barzanzi)

Luar biasa bukan, sang kekasih…?.

Dari Muhammad Jamil Zainu dalam Qutuf min al-Samai al-Muhammadiyah wa al-Akhlaq al Nabawiyah wa al-Adah al-Islamiyah. “Aku melihat seorang lelaki dengan wajah berseri-seri dan bercahaya, berkulit bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya elok rupawan, bola matanya hitam, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan. Jika diam tampaklah kharismanya, jika ia sedang berbicara tampak agung dan santun. Ia adalah orang yang tampak lebih muda dan rupawan jika dipandang dari kejauhan, juga yang paling tampan dan memesona diantara rombongannya. Ucapannya menyejukkan kalbu, perkataan jelas: juga tidak bertele-tele. Beliau adalah orang yang paling menarik dan kharismatik diantara ketiga sahabatnya. Jika beliau berbicara, para sahabat yang menyertainya mendengarkan segala nasehat”.

Itulah pangeranku, kau pun terkesima bukan…?. Aku yakin kau pun akan jatuh cinta padanya, dan aku ingin berbagi denganmu. Merajut cinta untuk sang kekasih bersama dalam balutan rindu.
***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: