Merindu (1)

Published 7 April 2010 by endangkurnia

Saat itu, gemintang mulai terlihat mewarnai langit kelam. Dalam sebuah perjalanan antara Mesir dan Australia, sebuah kereta Melbourne melucut membawaku ke bandara untuk berlandas di jazirah Arab. Usai studi, ku datangi tempat melepas rindu. Seorang sahabat menggodaku di suatu kali, “Sudah kau temukan ikhwan Arab itu…?”. Cepat ku sambar “Stop…”

Tak pedulikan jarak Melbourne menuju Madinah, semua terasa nikmat dibalut cinta. Dalam panas yang mencekam, dalam kesepian yang menghujam, tiba-tiba ku rasakan indahnya sebuah kerinduan. Mungkinkah aku rasakan, indahnya perjumpaan?.

Sampai juga ke tempat tujuan, tapi aku tak tahu tempat ini sama sekali. Ku putuskan untuk duduk melepas lelah sejenak di seonggok batu. Kemudian ada seorang bapak berperawakan Arab berdiri tegap di depanku mengucap “Assalamu’alaikum…” kalimat pertama yang ku dengar darinya ku jawab “ ‘alaikumussalam waromatullahi wabarokatuh”. Aku jawab salam orang itu lengkap dengan gemetaran takut ia menanyaiku dengan bahasa Arab. Hipotesis ku tepat, “Maadza sataf’al?” ia berucap.

Sepertinya orang ini bertanya sesuatu karna depan kalimatnya berbunyi “maa..”. Tapi apa yang mesti aku jawab, pertanyaannya saja tak ku mengerti sedikit pun. Nasehat ustadz Hasan menambahi perasaan menyesal, aku sering dinasehati beliau untuk “belajar bahasa Arab! karna tak cukup belajar bahasa Inggris saja sebagai media dakwah internasional”, pesan ustadz yang sempat menawari beasiswa studi S2 di Mesir dengan jurusan Psikologi pendidikan asal IPK, bahasa Arab dan bahasa Inggrisnya bagus.

Aku bengong, hanya bisa mengatakan “Afwan…”. Kata yang sering ku ucap saat di lembaga dakwah kampus. Lelaki yang menurutku sudah berumur itu rupanya bingung, ia mengernyitkan dahi. “Jangan-jangan ia maknai kata ‘afwan’ dengan terima kasih” pikirku.

Ia kembali bertanya, “tatakallam bil ‘arobiy?”. Semakin repot saja ia bertanya apa, tapi ku mendengar jelas ia menyebut kata arab, entah ia bertanya berasal dari Arab atau dapatkah berbahasa Arab, tapi tak mungkin ia menyangka aku orang Arab walau ada seorang teman menggoda aku seperti ada keturunan Arab lantaran bulu mataku yang lentik dan alisku yang lebat, katanya. Teringat aku pernah menghafal sebuah percakapan semasa belajar bahasa Arab dulu maka ku keluarkan jurus jitu. “Maa akdir atakallam katsir al ‘arobiyah, ana Indonesia wal ana tatakallam bil-inkliziyah…’., entah kalimatnya benar atau tidak tapi yang jelas ia mengangguk dan berucap “khoir”.

Ku berikan selembar kertas padanya, dengan nama orang yang ku maksud. Orang yang membuatku merindu. “Well let us go !”. Ia mengajak, untunglah ia bisa berbicara bahasa Inggris.

Dalam perjalanan, ternyata lelaki bijak itu bisa bicara bahasa Indonesia pula. Kenapa tidak sedari tadi bicara bahasa Indonesia saja agar tidak gemetaran dan tak perlu mengucur deretan keringat di leherku. Ku sapa ia paman Abu.

Aku tiba disana pada malam hari. Malam itu sebagaian warga tertidur pulas dibuai mimpi. Setelah sehari mereka kecapaian melakukan kesibukan sehari-hari mungkin. Sebagian lagi, ku lihat ada yang ber’itikaf di masjid. Ternyata budaya ‘itikaf disini tidak hanya terjadi saat Ramadhan tiba. Kemudian paman Abu pamit karena telah berhasil mengantarkan aku ke tempat tujuan.

Ku tunaikan sholat tahiyatul masjid yang telah lama aku impikan berada di masjid ini, bangunannya kokoh sekokoh sejarah mencatat peradaban Islam. Setelah salam, ku bergegas ke tempat peristirahatan orang yang dirindukan selama ini, tepat di sebelah halaman utama masjid. Air mata mencair tiba-tiba. Aku bukan seperti warga asing, kaki ku melangkah pasti tanpa bertanya dimana tempat yang ku maksud. Rupanya kerinduanlah yang memantapkan langkahan demi langkahan kaki tanpa perlu melalukan waktu.

Kerinduan yang tertanam dalam hati bukan seperti kerinduan teman lama yang tak saling menyapa dalam waktu yang sangat lama. Bukan pula kerinduan seorang kekasih yang kehilangan harum cium dalam pelukan kekasihnya yang pergi ke negeri entah. Bukan pula sekedar kerinduan anak kepada orangtuanya saat dingin menyergapnya pada malam yang gigil di negeri yang jauh, atau sebaliknya. Lebih dari itu semua. Kerinduanku serupa kerinduan padang pasir tandus yang luas dan kerontang pada oase. Serupa kerinduan butir-butir pasir yang terbakar nyala fatamorgana kepada titik-titik hujan. Serupa kerinduan bukit-bukit pasir yang haus pada seteguk air ketika langit begitu terbuka dan mempersembahkan terik yang paling menggila, bahkan melebihi itu semua.

Waktu berjalan merambat pelan. Bumi enggan beringsut dari tidurnya. Malam yang tenang dan damai menyimak kerinduanku yang terpendam dimana mengalir lewat hembusan napas dan bisikan-bisikan lirih. Segalanya tampak tenang lantaran bersedia menjadi background pertemuan dengan kekasih. Aku berbisik lirih, aku takut suaraku memecahkan keheningan malam. Kata-kata yang teramat pelan mengalir tersendat, terbawa angin malam menuju arah tempat sang pangeran. “Aku merindukanmu… Amat rindu kasihku…”.

Usai mengucurkan air mata kerinduan, berkemas untuk pergi ke Mekkah tempat dimana ada kaitan dengan sang kekasih. Ku datangi pula tempat peristirahatan yang ku anggap sebagai ibu mertua di kota Abwa’. Menceritakan padanya betapa gadis yang bernegara Indonesia ini amat mencintai putra kebanggaannya. Menyempatkan diri untuk mendatangi tempat-tempat yang pernah dijadikan memadu cinta olehnya. Ku titip pesan pada semua tempat, “Kapan akan menemuiku…? Atau aku yang akan menemuinya…?”.

***

Iklan
%d blogger menyukai ini: