Merasakan di Palestina

Published 3 April 2010 by endangkurnia

Aku melayang-layang di bawah permukaan air yang gelap, dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku – suara yang indah, membahagiakan sekaligus mengerikan. Suara adzan dari masjid suatu Negara yang ku datangi ini. Mengerikan apabila masjid dengan suara adzan yang khas akan dihancurkan.

Bumi anbiya yang ku datangi menjadi memoar terindah sekaligus mengerikan. Bagaimana tidak, bumi para Nabi ini merupakan bumi paling indah tapi telah bertahun-tahun berduka, dijajah, dinodai syariatnya. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya si penjajah cari? Aku pun bertanya, kemanakah jutaan muslim melihat bumi kakeknya Nabi Muhammad ini dibantai? Kemana semua?

Sepulang dari sebuah majelis aku dihadang. Ia menghina Robbku, Nabiku. Lantas tersenyum sinis kepadaku dengan bangga menenteng senjata. Perutku mual mendengar ia berbicara.

Aku diseret, nyaris mencapai permukaan tanah, aku tak cukup punya banyak tenaga. Zionis memang tak punya hati nurani, berani-beraninya membantai seorang wanita seperti diriku ini. Tak hanya aku, anak-anak kecil pun jadi sasaran zionis terkutuk itu.

Ia maju selangkah, hingga tinggal beberapa centi. Ia mengangkat senjata dihadapkan menuju kepalaku, mengajakku untuk murtad dan berusaha membuaka jilbab putih yang ku kenakan. Aku menolak. Ia menarik jilbab yang terurai, rupanya jilbab ini ku pakai kencang hingga tak ada aurat yang terlihat.

Ia melangakah mundur dan mulai mengelilingiku. Aku benar-benar mual mendengar ocehannya, ia tahu bahwa aku bukan warga Negara yang ia jajah. Ia mau mempermainkan aku sekaligus mengajakku untuk tidak meng-Esa-kan Robbku. Lututku gemetaran ketikan ia menambahkan peluru senjata lantas menghadapkan tepat di keningku. Aku mencoba untuk mengumpulkan tenaga dengan keyakinan “Innallaha ma ana”.

Aku tak dapat menahan diri – aku mencoba lari. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan. Selemah lututku saat itu. Kepanikan menguasaiku dan aku tersungkur ke tanah. Dalam sekejap ia sudah ada di depanku. Benturan senjata mengenai kepalaku, ia mulai menyakiti. Benturan pertama membuatnya tak puas karna aku masih membaca surat alfatihah, surat yang amat ku suka. Ia mencoba menghentikan bacaanku dengan beberapa pukulan yang mengenai badan dan kepalaku dengan senjata besinya itu. Ia mengoceh, memintaku untuk tidak membaca alfatihah apabila perkataannya di artikan dalam bahasa Indonesia.

Perih rasanya, amat perih. Dari bagian pelipisku keluar darah. Aku mengabaikannya, dengan tangan dan lutut aku merangkak.

Ia langsung menghadangku, kakinya menginjak kakiku.

Ia kembali memintaku berhenti membaca alfatihah.

“Stop…!!!”

“No…” suaraku parau.

Selain sakit di kakiku, aku merasakan robekan tajam di kepalaku. Darah masih menetes dari bagian pelipis. Cairan darah itu mengalir pada pipiku mengotori jilbab putih.

Aku masih tergelak di tanah, tangan kananku meraba-raba, mencari sesuatu. Jemari-jemari kaki aku gerakkan, mengumpulkan tenaga. Tanganku mendapatkan batu. Ku rasa cukup tenaga yang ku punya.
Ku tendang kemaluannya, ia menjerit. Ku lempar batu kecil itu ke mata Zionis dengan melantangkan suara “Allahu Akbar…!!!”.

Ia mengerang kesakitan. Aku bangkit, buru-buru mengambil seribu langkah. Zionis terkutuk itu meluncurkan sebuah peluru tepat di tangan kiriku. Ku tahan rasa ini walau harus berlumuran darah. Aku berlari sekuat tenaga hingga aku berada di halaman masjid Al-Aqsa, saksi bisu isra mi’raj. Tapi amat jarang yang mau jadi saksi untuk bela Negara ini.

Biarlah segera berlalu sekarang, hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari pelipis dan tangan kanan mulai membuatku tak sadarkan diri. Membiarkan tubuh untuk merebahkan diri di lantai masjid. Mataku terpejam.

Terpejamnya mataku membuatku sadar dari tidur bahwa aku pergi ke Palestina, untuk bela Agama. Merasakan apa yang saudara-saudaraku disana rasakan hingga ke mimpi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: