Mengulik Bendera Rasulullah

Published 6 Desember 2017 by endangkurnia

Pada Maulid Nabi 1439 H ini, mari kita belajar sejarah mengenai bendera Al-Liwa’ dan Ar-Rayah itu yang selalu dibawa Rasulullah. Rayah adalah bendera berukuran lebih kecil, yang diserahkan khalifah atau wakilnya kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya.
Rayah merupakan tanda yang menunjukkan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin perang. Liwa, (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam. Mereka meyakini pemahaman itu melalui hadits riwayat Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah.
Menurut Dr H Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD,  alias Gus Nadir, “Dalam sejarah Islam juga beda lagi. Ada yang bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai warna hitam, dan pernah juga putih. Yang jelas dalam konteks bendera dan panji, Rasul menggunakan sewaktu perang hanya untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara”.
Setelah kita mengetahui mengenai Al-Liwa’ dan Ar-Rayah, lantas ada pertanyaan besar dari saya pribadi. Bagaimanakah penulisan dalam bendera? Mari kita belajar mengenai sejarah penulisan al Qur’an. 
Bagi bangsa Arab, tulisan sebetulnya bukanlah hal yang utama. Bangsa Arab pada masa lalu lebih bangga dengan lisan yang pandai menghafal atau bersyair ketimbang menulis indah. Kebudayaan menulis sangat minim dilakukan. Jikalau ada syair yang amat cantik, itu pun hanya ditulis dan akan digantungkan pada Ka’bah. Pun ketika Islam datang. 
Alquran hanyalah disimpan dalam memori para sahabat. Kitabullah baru ditulis setelah banyak hafidz yang wafat di medan pertempuran. Maka, barulah dimulai penulisan Alquran pada masa khalifah Abu Bakr Ash Shidiq dan baru mulai disusun rapi pada masa khalifah Utsman bin Affan.
Tak heran jika pada generasi awal Islam, kaligrafi bukan sesuatu yang diperhatikan. Meski aksara Arab diperkirakan telah muncul seabad sebelum Islam datang, kaligrafi baru muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah. Meski perkembangannya lamban, kaligrafi pun mulai mendapat tempat di hati masyarakat Muslim.
Seni kaligrafi mendapat popularitas dan tempat tersendiri dalam kesenian Islam karena tujuan awalnya untuk memperindah lafal Allah dan didukung oleh ayat Alquran surah 68 ayat 1 dan 96 ayat 4. Kedua ayat tersebut, yakni “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”, surah al-Qalam ayat 1 dan “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”, surah al-Alaq ayat 4. Maka, saat muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah, kaligrafi langsung menjadi primadona kesenian Islam.

Referensi:

Philip K Hitti dalam History of the Arab

Iklan

Rasulullah Tidak Ridho Umatnya Masuk Neraka

Published 30 November 2017 by endangkurnia

Ketika surga dan neraka telah terkunci, semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka, sesuai dengan amalannya. Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, “Apakah ada umat Muhammad  SAW yang masih tertinggal di dalam neraka?”


Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam. Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselip di neraka Jahanam. Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, “Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri kabar mengenai keadaan kami, umatnya, kepada beliau.”

Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dan pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridho ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walaupun dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas pergi ke neraka. Tapi di dalam perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT.

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah mengingkari ajaran beliau. “Ya Allah, izinkan aku memberi syafa’at kepada mereka itu walaupun mereka hanya punya iman sebesar zarrah.”

Sesampainya Rasulullah SAW di neraka Jahanam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu. Penduduk Jahanam pun berucap, “Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?”

Rasulullah SAW menjawab, “Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian wahai umatku yang mempunyai iman sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya.”

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT. Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW. kepada peribadi yang begitu agung itu?

Rujukan : Kitab Muhammad Insan Kamil karya Sayyid Muhammad Al-Maliki dan Kitab Asy Syifa karya Al Qadhi ‘Iyadh
Semarang, 11 Rabiul Awwal 1439 H

Endless Kurnia

Menulis Sajalah

Published 23 Agustus 2017 by endangkurnia

Apin memberiku lima buah puisi untuk diberi penilaian. Katanya, dia siapkan lima puisi itu untuk dikirim ke redaksi surat kabar nantinya. Dia ingin sekali bisa menembus redaksi halaman sastra surat kabar. Setahu saya, Apin ada beberapa kali puisinya dimuat di surat kabar. Sebenarnya, motivasi menulis puisi untuk dimuat di sebuah atau beberapa harian itu motivasi yang keliru, sebab tanpa perlu dimuat di media massa, puisi juga bisa berdaya di media sosial atau blog seperti yang saya lakukan. Tidak dimuat pun tidak mengapa. Tak perlu gundah. Menulislah saja terus. Atau berhenti pun tak apa. Dan sebenarnya, lebih banyak, dimuat atau tidak puisi di surat kabar, sangat tergantung dari selera redaksinya.

Lima buah puisi Apin, semuanya bertema cinta. Tema yang umum, sebenarnya, dan tidak istimewa. Maka bertaburan kata cinta, rindu, juga hati. Begini puisinya yang pertama:

DIBASUH RINDU 
Kasih, saat cinta ini ku ucapkan dulu
asaku begitu lusuh dibasuh rindu
dalam penantian
tak berkesudahan
malam selalu menyapu ragu
Ketika malam berbintang
aku pun lelap setiap menatap rindu
hingga kini masih tersimpan
di sini
Ya Allah, hanya Engkau
sebagai Pelindung abadi
*** (2016)

Ya. Saya menduga yang disebut sebagai (ke)Kasih di bait pertama kemungkinan besar adalah Allah. (Pernyataan) Cinta yang diucapkan kepada Allah kemungkinan besar berarti Syahadat. Itulah mengapa bait ke tiga yang seperti sebuah bagian dari doa itu muncul. Perlu diingat bahwa puisi memang dulu secara tradisi ada pada puja/pujian/doa, maka puisi yang seperti doa pun tak masalah. Namun akan menjadi masalah ketika berdoa malah seolah bercerita atau bertele-tele. Seperti yang dilakukan Apin ini, dia bercerita tentang perasaannya setelah (menyatakan) cinta yang lusuh penuh kerinduan panjang, dan setiap malam mengingatkannya pada kerinduan aku-lirik pada Allah / Kekasihnya itu.

Mari kita bandingkan puisi itu dengan Doa-nya Chairil Anwar;

Doa Sunyi
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
13 November 1943

Atau bandingkan dengan Mazmur (15) berikut ini;

Mazmur Daud.
TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?
Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela,
yang melakukan apa yang adil
dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
yang  tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
yang tidak berbuat jahat  terhadap temannya
dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
yang  memandang hina orang yang tersingkir,
tetapi memuliakan orang yang  takut akan TUHAN;
yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
yang  tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba
dan tidak menerima suap  melawan orang yang tak bersalah.
Siapa yang berlaku demikian, tidak akan  goyah selama-lamanya.

Perbedaan mencolok antara puisi Apin dengan Doa-nya Chairil atau Mazmur Daud No. 15 adalah Apin menceritakan sesuatu yang ada di antara Aku lirik itu dengan “doa”-nya. Doa yang ada pada puisi Dibasuh Rindu itu hanya ada pada bait ke tiga saja. Dua bait di atasnya adalah sebuah cerita atau pengantar. Chairil menggunakan seluruh larik, dan kalimatnya sebagai dialog intens antara Aku lirik dengan Tuhan. Daud dalam Mazmur 15 itu melakukan “tanya-jawab.” Lalu, apakah “bercerita” itu salah? Puisi jelas bukan dongeng yang perlu dibuka dengan “pada suatu hari…” Puisi sebaiknya langsung mengarah pada inti. Puisi imajisme, kelihatannya seperti memberi pengadeganan atau menjelaskan situasi, tapi coba perhatikan betul apa benar begitu? Atau puisi naratif itu (seolah) bercerita, apakah benar demikian? Puisi, jelas berbeda dengan pantun yang memerlukan sampiran, di mana lebih banyak sampiran itu tidak punya makna.

Jikalau bait terakhir dianggap sebagai inti puisi pada puisi Dibasuh Rindu tadi, masih ada satu persoalan. Ingatlah bahwa kaidah puisi adalah utuh dan kompleks, maka bait terakhir yang sebenarnya hanya satu kalimat yaitu “Ya Allah, hanya Engkau sebagai Pelindung Abadi” itu masih menyisakan pertanyaan untuk dianggap utuh. Pelindung Abadi terhadap apa/siapa? Rindu? Ragu? Kalimat terakhir pada puisi itu juga bisa dikatakan tidak efisien. Kata “sebagai” rasanya bisa dihilangkan saja. “Ya Allah, Engkau Pelindung Abadi” sudah cukup.

Apin, sebagai teman, saya hanya bisa memberi saran — Jika sudah mencintai puisi, jangan tanggung-tanggung, cintai sepenuhnya. Bacalah karya penyair-penyair pendahulumu, sebagai pembanding dari apa yang sudah kautulis. Jangan sedih jika belum dimuat di surat kabar, puisi ditulis bukan untuk dimuat di surat kabar saja. Belajarlah lagi untuk membuat kalimat-kalimat efektif dan efisien, sebab puisi itu sebaiknya padat kata, bukan sebuah cerita yang diindah-indahkan atau sebuah perasaan yang dikemas dalam bunga-bunga bahasa. Jangan terburu nafsu mengejar rima. Rima itu hadiah, kata Hasan Aspahani, sebuah puisi bukan berarti merangkai kalimat dengan akhiran yang berbunyi sama atau mirip.

Pada dasarnya, puisi itu adalah buah pemikiran dan perasaanmu. Pahami lebih dahulu apa yang ingin kaukatakan sebelum menulis puisi. Jika ingin berdoa, berdoalah. Jika ingin memaki, memakilah dengan baik. Kata makian itu seperti puisi juga lho. Ada kata yang digunakan untuk mewakili pihak lain (biasanya kata-kata dari dunia binatang, atau kata-kata yang berkonotasi kedegilan), itu semacam metafora juga, jangan salah! Namun, puisi bukan makian, bukan ungkapan langsung seperti “Lapar, aku ingin makan!” Berpuisilah untuk menggambarkan rasa lapar itu. Berpuisilah untuk menggambarkan keinginan besar untuk makan. Seperti itulah puisi.

Sekali lagi, jangan putus asa kalau naskah-naskahmu belum dimuat di Surat Kabar. Bergembiralah, karena masih ada kesempatan untuk belajar lebih lagi. Sekadar gambaran, sekali pun puisi saya sudah pernah dimuat di Kompas dan Koran Tempo kemarin-kemarin, saya masih belum bisa menembus surat kabar yang lain seperti Indopos, Jawa Pos, Suara Merdeka, dan masih banyak lagi. Percayalah, setiap puisi punya nasibnya sendiri-sendiri.

Menulis sajalah. Anggap saja dimuat itu sebagai bonus.

Salam,

Endless Kurnia

TUJUAN TAK BOLEH DIKALAHKAN CARA

Published 20 Juni 2016 by endangkurnia

endless kurnia

Banyak orang yang mementingkan cara daripada tujuan, sehingga tidak sadar bahwa tindakannya itu salah. Misalnya memakai mobil; itu adalah cara yang dipakai orang untuk mengantarkannya ke tempat yang dituju. Tapi, seringkali orang mementingkan caranya alias mobilnya daripada sampai ke tujuan dengan selamat. Orang-orang yang melupakan tujuan biasanya mengendarai mobil kebut-kebutan, tidak mau mengalah di jalanan, dan berlomba-lomba membeli mobil mewah. Mereka lupa bahwa mobil itu hanyalah cara atau wasilah, sedangkan tujuannya adalah sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Mobil mewah itu cuma cara yang tidak boleh mengalahkan tujuan. Artinya, boleh memakai mobil mewah asal sampai ke tujuan dengan selamat. Jangan kebut-kebutan mentang-mentang sedang memakai mobil mewah; karena semewah apapun, tetap saja itu hanya sebuah mobil. Jika berbenturan dengan benda keras lainnya, mobil semewah apapun akan hancur. Apalagi mobil jelek 🙂

Contoh kedua adalah menertibkan suasana siang hari bulan Ramadhan. Tujuannya adalah agar suasana Ramadhan menjadi terkendali. Caranya macam-macam, ada yang melarang orang makan di tempat publik (tempat terbuka), atau mengatur para pedagang makanan agar menutup warung/restorant-nya dengan tirai. Tetapi, seringkali para petugas mementingkan cara, dan melupakan tujuan. Tujuannya yang membuat suasana puasa menjadi terkendali menjadi kalah dengan cara merazia dan, bahkan, menyita barang dagangan para pedagang makanan. Tentu saja ini justru membuat suasana puasa menjadi tidak terkendali. Membuat suasana terkendali itu tugas pemerintah. Peraturan itu adalah cara, sedangkan situasi terkendali itu adalah tujuan. Cara (peraturan) tidak boleh mengalahkan tujuan. Artinya, jika ada peraturan yang merusak tujuan, maka bisa dipastikan bahwa peraturannya salah 100%. Apalagi jika dikaitkan dengan agama Islam. Saya justru mau bertanya, di mana ada ajaran Islam yang memperbolehkan pemerintah merampas harta rakyatnya? (ini mungkin termasuk tindakan razia ala SATPOL PP yang merampas barang orang-orang terazia).

Ada kaidah fiqih yang mungkin tak diketahui oleh pemerintah yang merazia pedagang makanan di siang hari bulan Ramadhan dengan mengatasnamakan Islam:

الأمر بالتصرف فى ملك الغير باطل
“Setiap perintah yang bertindak hukum terhadap hak milik orang lain adalah batal.”

لا ينزع شيء من يد احد إلا بحق ثابت
“Sesuatu benda tidak bisa dicabut dari tangan seseorang kecuali atas dasar ketentuan hukum yang tetap.”
Dan, jika pemerintah mengatasnamakan Islam atas perampasan barang dagangan orang lain (karena alasan berdagang di siang hari Ramadhan), seharusnya pemerintah menujukkan dalil-dalil Islam yang memperbolehkannya! Karena kaidahnya adalah bahwa peraturan pemerintah terhadap rakyatnya seharusnya berdasarkan atas kemaslahatan!

Salam,
Endless Kurnia

BERIMAN PADA KATA-KATA INDAH

Published 7 Juni 2016 by endangkurnia

IMG0010110

Salah satu ciri keawaman adalah beriman kepada kata-kata indah dan segala yang terdengar indah. Yang penting enak didengar dan agak-agak logis walau tanpa didalami, semua hal akan dianggap sebagai kebenaran. Saat mendengar kata egaliter, manusia mana yang tak menyukainya? Karena semua orang kepingin dianggap dan diperlakukan sama. Padahal sejak awal Islam mengumumkan dirinya tidak egaliter saat Allah berfirman kepada malaikat dan jin untuk bersujud kepada Adam as.

Islam bersifat egaliter. Sebagai manusia semuanya sederajat, dalam pengertian bahwa semua manusia memiliki hak-hak yang sama, yang harus dihargai dan dihormati, baik yang menganut Islam dan yang tidak. Perbedaan derajat hanya terletak pada tingkat keimanan dan tingkat pengamalan agana dan hanya Tuhan yang paling mengetahuinya.
Lalu akan engkau bilang apa agama Islam ini? Atau benar thesisnya Ramadhan al-Buthy bahwa sejak lama pemikir Islam sudah dipenjara oleh term-term Barat dan berusaha menyamakan diri dengan mereka. Apakah akan engkau salahkan juga saat Allah menfirmankan Qur’an Surat Al-Syura ayat 23 dimana Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar mengatakan bahwa Nabi SAW tak meminta upah atas perjuangannya membela Islam dan kaum muslimin kecuali agar manusia menyayangi keluarganya? Akankah kau bilang Islam itu demokratis padahal dalam shalat saja kalian tak boleh bermusyawarah dalam memilih imam.

Imam harus lebih pandai daripada jamaahnya dalam Al-Quran, lalu hadits, paling tua, dan terakhir yang paling ganteng. Banyak sekali hukum Islam yang tak enak didengar jika dicoba sandingkan dengan istilah-istilah modern baik yang berasal dari Barat maupun modernisme itu sendiri.

Di Iran, kebiasaan lama Indonesia yang melarang orang-orang makan-minum-merokok di tempat umum di siang hari Ramadhan, sampai sekarang masih dijalankan. Itu bukan tidak menghargai orang yang tak puasa, tapi justru menghargai mereka dengan menyediakan tempat tertutup bagi mereka untuk menyantap makanan dan minuman di siang hari bulan Ramadhan. Memang tidak enak untuk didengar peraturan ini, tapi seingat saya, suasana puasa yang seperti itu memang syahdu distinctive. Namun begitu, merazia warung-warung yang buka di siang hari pada bulan Ramadhan itu juga tak ada kebaikan di dalamnya.

Islam memang agma yang sangat unik. Para penganut dan yang tidak menganutnya memiliki pandangan yang relatif berbeda-beda. Pada hakikatnya Islam hanya satu, namun keunikannya, diantaranya memberikan kebebasan mutlak untuk mempercayainya atau tidak, menimbulkan berbagai paham dalam Islam itu sendiri. Tingkat kepemahaman terhadap Islam sangat bergantung kepada tingkat kecerdasan atau pendidikan dalam pengertian yang luas dan latar belakang lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang.

Satu hal yang sangat ditekankan, meskipun terdapat berbagai paham yang mutlak benar, istilah relatif tidak berlaku di sini, khususnya dalam akidah, keyakinan terhadaop keberadaan Tuhan, sifat-sifat dan kehendak-Nya.

Bukan Sekedar Saling Menghormati

Published 7 Juni 2016 by endangkurnia

bergaul

Manusia adalah makhluk indiviudu sekaligus sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial tentunya manusia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan individu lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dalam menjalani kehidupan sosial dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda warna dengannya salah satunya adalah perbedaan agama.

Namanya juga saling, artinya dua arah. Taraf ini hanya bisa didapat dengan cara proaktif, artinya kita harus mengambil inisiatif memulai. Bila tidak, maka akan terjadi saling menunggu yang tiada ujung.
Saling menghormati itu membutuhkan sikap proaktif tanpa syarat. Selama penghormatan baru kita berikan bila kita dihormati lebih dahulu, maka mungkin saling hormat tidak akan terjadi. Karena pihak sana bisa saja bersikap serupa.
Saling menghormati hanya bisa terjadi bila kita dalam posisi batin senantiasa hormat, tidak peduli pihak sana menghormati atau tidak. Mungkinkah itu terjadi?

Seorang tukang sapu selalu menyapa dengan hormat kepada pejabat tinggi di tempat kerjanya setiap pagi saat sang pejabat tiba di kantor. Tapi sang pejabat sama sekali tak pernah menggubris sapaan itu. Ia berlalu begitu saja seakan tak mendengar sapaan itu, seakan tukang sapu itu tak wujud.

Tukang sapu itu ditanya,”Mengapa kamu tidak berhenti menyapa, padahal sapaanmu tidak pernah ditanggapi?”
“Saya menyapa karena Tuhan menyuruh saya menghormati orang lain, bukan demi agar sapaan saya dibalas,” jawabnya.
Untuk bisa saling menghormati kita perlu berada dalam suasana batin seperti tukang sapu tadi.

Yang paling sering terjadi adalah mulut kita melafalkan keinginan untuk saling menghormati, tapi sikap kita menunggu tanda dari pihak sana. Kalau dia baik, saya baik. Tapi kalau elu jual, gue pasti beli. Boleh jadi pihak sana juga sedang bersikap begitu.

Seperti diajarkan oleh tukang sapu tadi, hormat itu kita berikan, bukan kita tunggu, apalagi kita tuntut. Kita sering menuntut hormat karena kita lebih tua, lebih kaya, jabatan kita lebih tinggi, atau karena jumlah kita lebih banyak. Tapi mari kita ingat, apakah semua itu menjadikan kita manusia yang lebih baik? Tidak. Yang menjadikan kita lebih baik adalah menghormati tanpa syarat.

Sebaik-baik manusia adalah dia yang bisa memberi hormat di saat ia bisa menuntut penghormatan.
Dengan adanya kesadaran akan pentingnya saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat, diharapakan akan terjalin hubungan yang harmonis antar warga Negara yang pada akhirnya akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat dan percepatan pembangunan bagi negeri ini.

Hubungan Jilbab & Hidayah

Published 13 Februari 2016 by endangkurnia

image

Adakah hubungannya antara jilbab
atau hijab dan “hidayah”? Jelas tidak ada, meskipun mungkin saja ada Bu Hidayah atau Mbak Hidayati yang berjilbab.

Apakah perempuan yang
berjillbab atau berhijab dengan
sendirinya sudah mendapatkan
“hidayah”? Belum tentu juga.

“Hidayah” itu tidak ada sangkut
pautnya dengan busana. Hidayah itu urusannya dengan hati, bukan sehelai pakaian.

Banyak umat Islam dewasa ini yang merasa kalau sudah berhijab itu sudah mendapatkan “hidayah” dan menganggap mereka yang belum berhijab itu belum mendapatkan “hidayah”. Banyak pula perempuan Muslimah yang berhijab merasa diri lebih baik, lebih saleh, lebih alim ketimbang mereka yang tidak berhijab. Banyak pula yang merasa diri sudah layak masuk surga hanya
karena tubuhnya sudah dibalut
sehelai hijab. Banyak pula yang
menganggap neraka adalah tempat orang-orang yang tidak berhijab.

Jika ada Muslimah yang merasa diri lebih baik, lebih taat, lebih saleha dan seterusnya hanya karena sudah berhijab disitulah kadang saya merasa sedih. Apalah artinya tubuh kalian yang berhijab itu jika hati kalian tidak ikut “berhijab”? Apalah artinya menutup tubuh luar kalian jika hati dan pikiran kalian tidak ikut ditutupi dari kesombongan, keujuban, kedengkian dan segala penyakit batin lainnya? Alih-alih menganggap perempuan yang tidak berhijab belum mendapatkan hidayah, jangan-jangan justru
kalian sendirilah yang belum mendapatkan “hidayah” itu. Alih-alih merasa diri layak masuk surga, jangan-jangan malah terperosok ke tempat
sebaliknya.

Saudara muslimahmu,
Endless Kurnia