Negara Kupon

Published 11 Mei 2018 by endangkurnia

Negara kupon apa yang anda pikirkan?
Tentang teroris yang lapar.

Rakyat yang lapar, demonstrasi.
Politikus yang lapar, main situasi-situasi.
Pejabat yang lapar, korupsi.
Keamanan dan intelegen lapar, bersalaman kanan kiri.

Iklan

Jalantara

Published 11 Mei 2018 by endangkurnia

Aku menuju tapi tak pulang
meski dari sana aku berasal.

Aku pergi, berjalan, berlari, tapi
hanya akan singgah. Untuk kembali

Bertekun pada misteri pintu
yang begitu terbuka tak bisa

kututup kembali. Pintu yang
selamanya menganga seperti

sebuah tanya: Benarkah
kau bisa benar-benar pergi?

2018

PELAJARAN IKHLAS

Published 8 Mei 2018 by endangkurnia

“Saya ikhlash, pak,” kata seseorang.

Saya memaklumi itu sebagai ikhlas dalam bahasa Indonesia. Karena ikhlas dalam ajaran Islam itu tak mudah. Hasan al-Bashri berkata, “Seandainya aku dianugerahi 2 rakaat yg kulakukan dengan ikhlas itu sudah cukup bagiku.” Nabi SAW pun bersabda, “Barangsiapa yg mengatakan laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya, ia masuk surga.” Seseorang bertanya, “Bagaimana bentuk ikhlas itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Ketika ia menghalangimu dari segala yang terlarang.”

Maka, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi menyatakan tentang ikhlas:

علامة الإخلاص ان يفنى عنك الخلق فى مشاهدة الحق

Tanda ikhlas adalah ketika makhluk tak lagi tampak dalam menyaksikan al-haqq.

Artinya, jika kita merasa telah ikhlas, kejarlah terus sampai rasa itu tak ada lagi, karena perasaan ikhlas itu pun makhluk juga. Tidak ada dalam hati Anda kecuali Allah, tak ada rasa sedih saat diberi kemiskinan, tak ada rasa menyalahkan dan menyudutkan dalam keadaan apa pun, dan percaya kepada Allah dalam segala urusan. Tak ada harapan kecuali Allah, tak ada yang membuat Anda bahagia kecuali Allah. Jika pun ada orang yang menjanjikan Anda proyek besar, maka bukan janji dari orang itu yang Anda harapkan, hingga dalam shalat pun terngiang-ngiang di telinga dan hati Anda harapan kepada orang itu; tapi Allah yang Anda harapkan.

Ingat Rasulullah Saw

Published 16 April 2018 by endangkurnia

Kenapa kau diam saat ada yang mendzolimimu, menghina kitabmu, menghina agamamu wahai Endang Kurnia?

Karena aku ingat Rasulullah Saw, beliau dilempari batu sampai berdarah, beliau dilempari kotoran saat ibadah, beliau diusir dari kampungnya, beliau kelaparan karna hudaibiyah, leher beliau dihunus pedang, kepala beliau dipukul tombak hingga berdarah, badan beliau terluka karna panah, kepala beliau dipukul pedang hingga masuk ke dalam pelindung kepala dari besi melukai pelipis, mematahkan gigi-giginya.
Semua yang mereka lakukan pada Rasulullah dalam rangka mendzolimi diri Rasul, menghina agama Islam, tidak meyakini kitab bahkan Rabbul Izzati. Pelajari, apa yang dilakukan Rasulullah melawan itu semua? Tidak ada shiroh Nabi Saw nyinyir, tidak ada shiroh Nabi Saw share berita hoaks belum pasti, tidak ada shiroh Nabi Saw balas menghina, balas mendzolimi, tidak ada shiroh Nabi Saw membenci apalagi dendam. Rasulullah berperang mengangkat senjata setelah kesepakatan berperang. Dan yang dilakukan Rasulullah yaitu berdoa dengan ikhlas untuk kebaikan dunia akhirat bagi yang mendzoliminya dengan terus berdakwah santun, berdakwah bil hikmah tanpa lelah. Jadi Rasulullah tidak berdiam diri dan tidak pula membalas ketidakbaikan. Izinkan hamba dipilih oleh-MU untuk meneruskan dakwah Rasulullah Saw, ya Robbal ‘alamiin.

Mengulik Bendera Rasulullah

Published 6 Desember 2017 by endangkurnia

Pada Maulid Nabi 1439 H ini, mari kita belajar sejarah mengenai bendera Al-Liwa’ dan Ar-Rayah itu yang selalu dibawa Rasulullah. Rayah adalah bendera berukuran lebih kecil, yang diserahkan khalifah atau wakilnya kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya.
Rayah merupakan tanda yang menunjukkan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin perang. Liwa, (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam. Mereka meyakini pemahaman itu melalui hadits riwayat Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah.
Menurut Dr H Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD,  alias Gus Nadir, “Dalam sejarah Islam juga beda lagi. Ada yang bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai warna hitam, dan pernah juga putih. Yang jelas dalam konteks bendera dan panji, Rasul menggunakan sewaktu perang hanya untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara”.
Setelah kita mengetahui mengenai Al-Liwa’ dan Ar-Rayah, lantas ada pertanyaan besar dari saya pribadi. Bagaimanakah penulisan dalam bendera? Mari kita belajar mengenai sejarah penulisan al Qur’an. 
Bagi bangsa Arab, tulisan sebetulnya bukanlah hal yang utama. Bangsa Arab pada masa lalu lebih bangga dengan lisan yang pandai menghafal atau bersyair ketimbang menulis indah. Kebudayaan menulis sangat minim dilakukan. Jikalau ada syair yang amat cantik, itu pun hanya ditulis dan akan digantungkan pada Ka’bah. Pun ketika Islam datang. 
Alquran hanyalah disimpan dalam memori para sahabat. Kitabullah baru ditulis setelah banyak hafidz yang wafat di medan pertempuran. Maka, barulah dimulai penulisan Alquran pada masa khalifah Abu Bakr Ash Shidiq dan baru mulai disusun rapi pada masa khalifah Utsman bin Affan.
Tak heran jika pada generasi awal Islam, kaligrafi bukan sesuatu yang diperhatikan. Meski aksara Arab diperkirakan telah muncul seabad sebelum Islam datang, kaligrafi baru muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah. Meski perkembangannya lamban, kaligrafi pun mulai mendapat tempat di hati masyarakat Muslim.
Seni kaligrafi mendapat popularitas dan tempat tersendiri dalam kesenian Islam karena tujuan awalnya untuk memperindah lafal Allah dan didukung oleh ayat Alquran surah 68 ayat 1 dan 96 ayat 4. Kedua ayat tersebut, yakni “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”, surah al-Qalam ayat 1 dan “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”, surah al-Alaq ayat 4. Maka, saat muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah, kaligrafi langsung menjadi primadona kesenian Islam.

Referensi:

Philip K Hitti dalam History of the Arab

Rasulullah Tidak Ridho Umatnya Masuk Neraka

Published 30 November 2017 by endangkurnia

Ketika surga dan neraka telah terkunci, semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka, sesuai dengan amalannya. Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, “Apakah ada umat Muhammad  SAW yang masih tertinggal di dalam neraka?”


Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam. Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselip di neraka Jahanam. Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, “Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri kabar mengenai keadaan kami, umatnya, kepada beliau.”

Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dan pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridho ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walaupun dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas pergi ke neraka. Tapi di dalam perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT.

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah mengingkari ajaran beliau. “Ya Allah, izinkan aku memberi syafa’at kepada mereka itu walaupun mereka hanya punya iman sebesar zarrah.”

Sesampainya Rasulullah SAW di neraka Jahanam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu. Penduduk Jahanam pun berucap, “Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?”

Rasulullah SAW menjawab, “Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian wahai umatku yang mempunyai iman sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya.”

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT. Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW. kepada peribadi yang begitu agung itu?

Rujukan : Kitab Muhammad Insan Kamil karya Sayyid Muhammad Al-Maliki dan Kitab Asy Syifa karya Al Qadhi ‘Iyadh
Semarang, 11 Rabiul Awwal 1439 H

Endless Kurnia

Menulis Sajalah

Published 23 Agustus 2017 by endangkurnia

Apin memberiku lima buah puisi untuk diberi penilaian. Katanya, dia siapkan lima puisi itu untuk dikirim ke redaksi surat kabar nantinya. Dia ingin sekali bisa menembus redaksi halaman sastra surat kabar. Setahu saya, Apin ada beberapa kali puisinya dimuat di surat kabar. Sebenarnya, motivasi menulis puisi untuk dimuat di sebuah atau beberapa harian itu motivasi yang keliru, sebab tanpa perlu dimuat di media massa, puisi juga bisa berdaya di media sosial atau blog seperti yang saya lakukan. Tidak dimuat pun tidak mengapa. Tak perlu gundah. Menulislah saja terus. Atau berhenti pun tak apa. Dan sebenarnya, lebih banyak, dimuat atau tidak puisi di surat kabar, sangat tergantung dari selera redaksinya.

Lima buah puisi Apin, semuanya bertema cinta. Tema yang umum, sebenarnya, dan tidak istimewa. Maka bertaburan kata cinta, rindu, juga hati. Begini puisinya yang pertama:

DIBASUH RINDU 
Kasih, saat cinta ini ku ucapkan dulu
asaku begitu lusuh dibasuh rindu
dalam penantian
tak berkesudahan
malam selalu menyapu ragu
Ketika malam berbintang
aku pun lelap setiap menatap rindu
hingga kini masih tersimpan
di sini
Ya Allah, hanya Engkau
sebagai Pelindung abadi
*** (2016)

Ya. Saya menduga yang disebut sebagai (ke)Kasih di bait pertama kemungkinan besar adalah Allah. (Pernyataan) Cinta yang diucapkan kepada Allah kemungkinan besar berarti Syahadat. Itulah mengapa bait ke tiga yang seperti sebuah bagian dari doa itu muncul. Perlu diingat bahwa puisi memang dulu secara tradisi ada pada puja/pujian/doa, maka puisi yang seperti doa pun tak masalah. Namun akan menjadi masalah ketika berdoa malah seolah bercerita atau bertele-tele. Seperti yang dilakukan Apin ini, dia bercerita tentang perasaannya setelah (menyatakan) cinta yang lusuh penuh kerinduan panjang, dan setiap malam mengingatkannya pada kerinduan aku-lirik pada Allah / Kekasihnya itu.

Mari kita bandingkan puisi itu dengan Doa-nya Chairil Anwar;

Doa Sunyi
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
13 November 1943

Atau bandingkan dengan Mazmur (15) berikut ini;

Mazmur Daud.
TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?
Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela,
yang melakukan apa yang adil
dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
yang  tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
yang tidak berbuat jahat  terhadap temannya
dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
yang  memandang hina orang yang tersingkir,
tetapi memuliakan orang yang  takut akan TUHAN;
yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
yang  tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba
dan tidak menerima suap  melawan orang yang tak bersalah.
Siapa yang berlaku demikian, tidak akan  goyah selama-lamanya.

Perbedaan mencolok antara puisi Apin dengan Doa-nya Chairil atau Mazmur Daud No. 15 adalah Apin menceritakan sesuatu yang ada di antara Aku lirik itu dengan “doa”-nya. Doa yang ada pada puisi Dibasuh Rindu itu hanya ada pada bait ke tiga saja. Dua bait di atasnya adalah sebuah cerita atau pengantar. Chairil menggunakan seluruh larik, dan kalimatnya sebagai dialog intens antara Aku lirik dengan Tuhan. Daud dalam Mazmur 15 itu melakukan “tanya-jawab.” Lalu, apakah “bercerita” itu salah? Puisi jelas bukan dongeng yang perlu dibuka dengan “pada suatu hari…” Puisi sebaiknya langsung mengarah pada inti. Puisi imajisme, kelihatannya seperti memberi pengadeganan atau menjelaskan situasi, tapi coba perhatikan betul apa benar begitu? Atau puisi naratif itu (seolah) bercerita, apakah benar demikian? Puisi, jelas berbeda dengan pantun yang memerlukan sampiran, di mana lebih banyak sampiran itu tidak punya makna.

Jikalau bait terakhir dianggap sebagai inti puisi pada puisi Dibasuh Rindu tadi, masih ada satu persoalan. Ingatlah bahwa kaidah puisi adalah utuh dan kompleks, maka bait terakhir yang sebenarnya hanya satu kalimat yaitu “Ya Allah, hanya Engkau sebagai Pelindung Abadi” itu masih menyisakan pertanyaan untuk dianggap utuh. Pelindung Abadi terhadap apa/siapa? Rindu? Ragu? Kalimat terakhir pada puisi itu juga bisa dikatakan tidak efisien. Kata “sebagai” rasanya bisa dihilangkan saja. “Ya Allah, Engkau Pelindung Abadi” sudah cukup.

Apin, sebagai teman, saya hanya bisa memberi saran — Jika sudah mencintai puisi, jangan tanggung-tanggung, cintai sepenuhnya. Bacalah karya penyair-penyair pendahulumu, sebagai pembanding dari apa yang sudah kautulis. Jangan sedih jika belum dimuat di surat kabar, puisi ditulis bukan untuk dimuat di surat kabar saja. Belajarlah lagi untuk membuat kalimat-kalimat efektif dan efisien, sebab puisi itu sebaiknya padat kata, bukan sebuah cerita yang diindah-indahkan atau sebuah perasaan yang dikemas dalam bunga-bunga bahasa. Jangan terburu nafsu mengejar rima. Rima itu hadiah, kata Hasan Aspahani, sebuah puisi bukan berarti merangkai kalimat dengan akhiran yang berbunyi sama atau mirip.

Pada dasarnya, puisi itu adalah buah pemikiran dan perasaanmu. Pahami lebih dahulu apa yang ingin kaukatakan sebelum menulis puisi. Jika ingin berdoa, berdoalah. Jika ingin memaki, memakilah dengan baik. Kata makian itu seperti puisi juga lho. Ada kata yang digunakan untuk mewakili pihak lain (biasanya kata-kata dari dunia binatang, atau kata-kata yang berkonotasi kedegilan), itu semacam metafora juga, jangan salah! Namun, puisi bukan makian, bukan ungkapan langsung seperti “Lapar, aku ingin makan!” Berpuisilah untuk menggambarkan rasa lapar itu. Berpuisilah untuk menggambarkan keinginan besar untuk makan. Seperti itulah puisi.

Sekali lagi, jangan putus asa kalau naskah-naskahmu belum dimuat di Surat Kabar. Bergembiralah, karena masih ada kesempatan untuk belajar lebih lagi. Sekadar gambaran, sekali pun puisi saya sudah pernah dimuat di Kompas dan Koran Tempo kemarin-kemarin, saya masih belum bisa menembus surat kabar yang lain seperti Indopos, Jawa Pos, Suara Merdeka, dan masih banyak lagi. Percayalah, setiap puisi punya nasibnya sendiri-sendiri.

Menulis sajalah. Anggap saja dimuat itu sebagai bonus.

Salam,

Endless Kurnia