<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ENDANG KURNIA Blog</title>
	<atom:link href="http://endangkurnia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://endangkurnia.wordpress.com</link>
	<description>Love Allah...Love to Messenger of Allah...Love the Others...Endless Love</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jan 2012 04:36:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='endangkurnia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/dfcafba544f4cf330dcf35d4a5fff1d6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ENDANG KURNIA Blog</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://endangkurnia.wordpress.com/osd.xml" title="ENDANG KURNIA Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://endangkurnia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berbeda? Biasa!</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/berbeda-biasa/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/berbeda-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 04:36:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari terakhir ini, handphoneku sering berdering menandakan sms dan panggilan masuk. Bukan tawaran bisnis dari investor atau rayuan manis dari ikhwan kesepian tapi deringan handphone itu membahas tentang sebuah perbedaan dalam Islam. Aku yang melihat saja sampai dibuat menangis karena masing-masing pihak ngotot membenarkan pilihannya sampai-samapi melakukan tindakan anarkis jika lihat berita. Karena itulah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=897&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir ini, handphoneku sering berdering menandakan sms dan panggilan masuk. Bukan tawaran bisnis dari investor atau rayuan manis dari ikhwan kesepian tapi deringan handphone itu membahas tentang sebuah perbedaan dalam Islam. Aku yang melihat saja sampai dibuat menangis karena masing-masing pihak ngotot membenarkan pilihannya sampai-samapi melakukan tindakan anarkis jika lihat berita. Karena itulah, aku coba mengurai catatan tentang perbedaan dengan harapan belajar bijaksana menyikapi perbedaan.</p>
<p>&#8220;Jauhkanlah lisan kalian dari kaum muslimin, dan jika salah seorang dari mereka meninggal dunia, maka katakanlah kebaikan tentangnya.&#8221; [HR. Atthabarani dari Sahl ibn Sa'd Assa'idi].</p>
<p>Di antara semua orang yang kamu kenal, mau tak mau pasti ada yang berbeda pemikiran dengannmu. Saat kamu berpikir A, dia berpikir B. Saat kamu berpendapat untuk berjalan ke barat, kawanmu bersikeras untuk menuju arah timur. Potret kecil ini, berlaku bagi semua keadaan: politik, agama, sosial, di segala lini pasti terjadi sebuah perang pemikiran dan pendapat. Dan ini adalah hal lumrah: Kata orang, karena tiap manusia mempunyai otak sendiri, wajar jika berbeda!</p>
<p>Tentu wajar juga, jika dari sini kita melihat orang yang mempertahankan pendapatnya merasa emosi dan marah melawan orang yang tak menyetujuinya. Ini semacam mempertahankan diri, mempertahankan pemikiran, tak ingin di anggap salah. Ya, ini pun naluri sekali, naluri manusia.</p>
<p>Tapi, satu hal yang harus kita pegang erat saat ada seorang yang berseberangan: Tahan mulutmu dari mengecam pribadi! Seorang muslim akan selalu menghormati orang muslim lainnya, apapun perbedaan antara keduanya. Lagipula, di sebuah hadits dikatakan, &#8220;Mengecam seorang muslim adalah sebuah kefasikan!&#8221; [HR. Bukhari dan Muslim]. Tentu, dengan syarat muslim tersebut tak menyalahi aturan akidah yang menyebabkan kekufuran. Lagipula, selama itu hanya perbedaan pemikiran biasa yang tak berhubungan dengan agama, apa gunanya saling mengecam?</p>
<p>Dengan hadits di atas, kamu tentu bisa memahami bagaimana seharusnya kita menghormati sesama muslim, tanpa melihat perbedaan pendapat. Boleh kita berbeda pendapat, tapi tak boleh kita menyakiti hati orang lain, atau menurunkan derajat orang lain, atau malah meremehkannya. Dan lebih jauh lagi, bahkan kita disuruh menyebut kebaikan seorang muslim yang telah meninggal. Setidaknya, itu karena tiga hal: Pertama, karena dengan mengumpat mayit, kamu beresiko menyakiti kwluarga si mayit yang masih hidup! Kedua, apa kamu tahu, bahwa dosa mayit yang kamu umpat mungkin sudah dimaaf? Ketiga, seperti apapun umpatanmu, itu tak menjadi ukuran timbangan amalannya kelak. Malah, umpatanmu akan menjadi pemberat timbangan amal burukmu!</p>
<p>Kalaupun mengecam harus dilakukan, maka kecamlah pemikiran atau pendapatnya, bukan mengecam pribadi muslimnya. Seperti inilah yang terjadi diantara ulama kita dimasa lalu. Mereka biasa berkata dalam kitab-kitab karangan mereka, &#8220;Imam Fulan, semoga Allah meridlainya, berkata &#8216;begini-dan-begini&#8217;, tentu ini adalah perkataan yang sungguh tak benar dan jauh dari Islam&#8230;&#8221; Hei, barusan ia berkata &#8220;Imam&#8221; dan berdoa &#8220;Semoga Allah meridlainya,&#8221; tapi diakhir kalimat ia mengkritik habis! Ya, yang dikritik adalah pemikiran, bukan pemikirnya! Mereka faham, bahwa tak boleh meremehkan seorang muslim pun!</p>
<p>Menghormati muslim lainnya, bisa kita dasarkan pada sebuah ayat yang berkata, &#8220;Barang siapa menghormati syiar-syiar Allah, maka itu adalah dari ketakwaan hati.&#8221; [22:32]. Yupz, setiap muslim membawa kata La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah dalam hatinya, meski berbeda-beda kualitas amalnya. Nah, hormati kalimat tauhid yang ia yakini dalam hatinya! Lagipula, jika kamu mau cek surat 5:54, kamu akan mengetahui bahwa sifat tiap muslim yang dicintaiNya dan mencintaiNya, adalah selalu tawaddhu dengan setiap muslim. Selalu menghormati tiap muslim!</p>
<p>Dan seperti inilah yang dulu terjadi semasa Rasulullah. Suatu ketika, Rasul memerintahkan pasukannya untuk menuju Bani Quraidlah, dan berkata, &#8220;Jangan seorangpun shalat ashar kecuali di Bani Quraidlah!&#8221;. Di tengah perjalanan, sebagian pasukan berpendapat, &#8220;Kita shalat sekarang! Rasul berkata demikian, hanya agar kita mempercepat perjalanan!&#8221; Sebagian lainnya berpendapat, &#8220;Kita harus tetap shalat di Bani Quraidlah, meskipun waktu ashar telah terlewat. Ini perintah Rasul!&#8221; Tanpa cekcok, setiap kelompok pun menjalani pendapat masing-masing, karena setiap kelompok mempunyai dalil masing-masing.</p>
<p>Saat Rasul diberitahu tentang hal ini, beliau pun tak menyalahkan salah satu kelompok pun!</p>
<p>Ya, itu potret perbedaan pendapat dalam agama, yang sama-sama bersandar pada dalil. Sama sekali tak terjadi pertikaian, apalagi saling mengolok. Bagaimana jika hanya perbedaan pandangan antar sahabat?</p>
<p>Jadi, beberapa hal yang harus kita perhatikan:</p>
<p>- Perbedaan adalah hal yang wajar terjadi. Yang tak wajar, jika ada yang ingin menutup mata dari perbedaan itu!</p>
<p>- Boleh terjadi perbedaan, tapi jangan sampai terjadi penghinaan atau olokan. Apalagi berbohong tentang harga diri orang lain.</p>
<p>- Menyakiti hati orang lain, pun bahkan terjadi saat kamu mencemooh orang mati. Atau dari banyak cara lainnya. Hati-hati!</p>
<p>- Menghormati tiap muslim adalah sebuah hal yang timbul dari sebuah ketakwaan.</p>
<p>Coba bayangkan, bila ditengah peperangan dan perbedaan pemikiran yang kini ramai terjadi di kalangan ummat muslim, lantas semua mempraktekkan pemahaman ini. Pasti begitu indah!</p>
<p>Ehm, bagaimana jika kita mulai dari diri kita sendiri? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/artikel/'>Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/897/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/897/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/897/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/897/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/897/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/897/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/897/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/897/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/897/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/897/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/897/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/897/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/897/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/897/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=897&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/berbeda-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nilai Kasih Ibu</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/nilai-kasih-ibu/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/nilai-kasih-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 04:35:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=895</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya. Ongkos upah membantu ibu : 1) Membantu pergi ke Warung: Rp 20.000 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=895&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.</p>
<p>Ongkos upah membantu ibu :</p>
<p>1) Membantu pergi ke Warung: Rp 20.000</p>
<p>2) Menjaga adik Rp 20.000</p>
<p>3) Membuang sampah Rp 5.000</p>
<p>4) Membereskan Tempat Tidur Rp 10.000</p>
<p>5) menyiram bunga Rp 15.000</p>
<p>6) Menyapu Halaman Rp 15.000</p>
<p>Jumlah : Rp 85.000</p>
<p>Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.</p>
<p>1) OngKos mengandungmu selama 9bulan – GRATIS</p>
<p>2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS</p>
<p>3) OngKos air mata yang menetes karenamu – GRATIS</p>
<p>4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu- GRATIS</p>
<p>5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu – GRATIS</p>
<p>6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu – GRATIS</p>
<p>Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS</p>
<p>Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”.Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: “Telah Dibayar” .</p>
<p>Benar kata pepatah : Kasih sayang anak kepada ibu hanya sepanjang galah. Kasih sayang ibu kepada anak sepanjang jalan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/895/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/895/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/895/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/895/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/895/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/895/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/895/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/895/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/895/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/895/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/895/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/895/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/895/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/895/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=895&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/nilai-kasih-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I Like It!</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/i-like-it/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/i-like-it/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 04:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=893</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu aplikasi kecil paling terkenal di dunia, adalah &#8220;Like&#8221; milik Facebook yang disimbolkan dengan sebuah tangan menggenggam dengan jempol lucunya. Banyak sekali situs yang menyediakan tombol sakti Facebook itu untuk semacam &#8220;mendata&#8221; siapa saja dan berapa orang yang menyukai situs mereka. Jujur saja, bahkan jika kita memasang status, upload foto atau video, menautkan link, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=893&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu aplikasi kecil paling terkenal di dunia, adalah &#8220;Like&#8221; milik Facebook yang disimbolkan dengan sebuah tangan menggenggam dengan jempol lucunya. Banyak sekali situs yang menyediakan tombol sakti Facebook itu untuk semacam &#8220;mendata&#8221; siapa saja dan berapa orang yang menyukai situs mereka.</p>
<p>Jujur saja, bahkan jika kita memasang status, upload foto atau video, menautkan link, atau bahkan posting notes, salah satu hal yang menjadi ukuran kesenangan hati kita, adalah berapa cap jempol Like yang terbubuhkan di sana. Hayo loh, ngaku! Hehe.</p>
<p>Cuman, kadang kita lupa bahwa yang lebih penting untuk mendapat Like itu sendiri sebenarnya bukan status atau postingan lainnya, tapi diri kita sendiri. Ya, kita seharusnya mendapat Like sebanyak mungkin dari orang sekitar kita. Karena, Like yang dibubuhkan pada pribadimu dari orang sekitarmu, menunjukkan bagaimana kedudukanmu dalam hati mereka. Semakin banyak yang me-Like-mu, kamu semakin dekat dengan semua orang yang ada disekitarmu. Dan, sebaliknya, semakin sedikit Like untuk seseorang, maka ia semakin mendekat pada sebuah arti hadits, &#8220;Orang terburuk, adalah orang yang dijauhi orang lain agar tak terkena getah keburukannya!&#8221;</p>
<p>Nah, Like juga dibutuhkan oleh kita, kan? Bukan cuman sekedar di postingan saja.</p>
<p>Jika untuk menjaring Like di Facebook kamu mengedepankan kekuatan dan keindahan kata atau alat lainnya (bahkan ada sebuah grup yang ditujukan untuk menjaring jempol saja! Parah!), maka untuk menjaring Like bagi pribadimu, kamu pun mempunyai banyak alat.</p>
<p>Pertama, tentu dengan keindahan akhlak. Sudahlah, saya tak usah mencontohkan bagaimana akhlak yang baik, toh semua sudah tahu. Jika ada matahari terik, kita tak perlu bilang bahwa sekarang masih siang, kan?</p>
<p>Kedua, keindahan penampilan. Itu tak harus dengan baju mahal atau minyak nyongnyong super. Cukup dengan kerapian dan kebersihan, kamu akan mendapat banyak Like dari kawanmu. Kata Rasulullah, artinya, &#8220;Termasuk kemuliaan seorang mukmin disisi Allah, adalah kebersihan bajunya dan keridlaannya dengan apa yang ada&#8221;. [HR. Abu Nuaim].</p>
<p>Ketiga, hal yang tak semua orang memiliknya: Ketampanan atau kecantikan wajah, normalnya ukuran badan. Berbeda dengan dua hal yang diatas, yang bisa kita usahakan, untuk point ketiga ini murni pemberian dari Allah. Mereka yang tampan, cantik, bentuk badannya menawan, tentu banyak mendapat Like–kita tak bisa iri untuk hal ini. Hanya saja, memang hal ini mendukung, tapi jika dua point diatas hilang, point ketiga akan tak berguna sama sekali.</p>
<p>Maka, bagi mereka yang tak mendapat bagian dari point ketiga, jangan rusak imagemu dengan tak melakukan dua point pertama! Jangan sampai dibilang, &#8220;wajah jelek, akhlak jelek!&#8221;</p>
<p>Sekedar memberi tahu, salah satu hal yang bisa menjaring Like untukmu, adalah ketika kamu murah senyum pada setiap orang yang berinteraksi denganmu. Selain karena senyum adalah sedekah, senyum akan menandaimu sebagai orang yang ramah pada tiap orang yang disekitarmu! Sebuah peribahasa daerah dari Makkah berkata, &#8220;Laqini wala tughaddini&#8221;. Arti bebasnya, temuilah aku dengan wajah tersenyum meski kamu tak memberi aku apa-apa. Daripada kamu memberiku sesuatu, tapi wajahmu kusut! Ya, karena yang akan membekas pada hati seseorang, adalah bagaimana caramu menerima seorang yang ingin berbincang denganmu, bukan apa yang kamu berikan pada mereka!</p>
<p>Nah, bersyukurlah jika banyak orang menyukaimu, me-Like-mu. Semoga saja, itu sebuah tanda dari sebuah hadits yang artinya, &#8220;Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berkata pada Jibril, &#8220;Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia!&#8221;. Jibril lantas mencintainya. Jibril pun berkata pada seluruh malaikat, &#8220;Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia!&#8221; Dan malaikat pun mencintainya. Lantas malaikat berkata pada penguni bumi, bahwa Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia!&#8221; Penduduk bumi pun lantas mencintainya.&#8221;</p>
<p>Tapi ingat, bahwa Like dari orang disekitarmu adalah pemberian dari Allah. Syukurilah, dan hati-hati jangan sampai terlepas dari tanganmu!</p>
<p>Dan satu lagi, Allah berfirman yang artinya, &#8220;Katakan (Wahai Rasulullah), jika kalian mencintai Allah maka ikutilah ajaranku! Allah pun akan mencintai kalian dan memaafkan kalian.&#8221; Hei, ini adalah &#8220;Like&#8221; paling agung yang ada di hidup kita!</p>
<p>Sekarang, siap mendapat Like dari orang di sekitarmu? Dan, ingin mendapat cinta dari Allah tidak? Mulailah dengan Bismillah!</p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/artikel/'>Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/893/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/893/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/893/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/893/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/893/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/893/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/893/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/893/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/893/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/893/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/893/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/893/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/893/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/893/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=893&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/i-like-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ditinggalkan Ibu</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/ditinggalkan-ibu/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/ditinggalkan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 04:31:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=891</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku membantah pada keangkuhan, aku membantah pada air mata, pada uraian logis yang kadang magis, aku membantah pada kesedihan. Di dalam sana aku melihat perih, perih yang tak terurai tapi menggumpal. Aku yang berdiri ditengah badai kerinduan jauh dari bunda, melihat sederet redam yang remuk dalam kebisua. Tepat sangat tepat di depan wajahku, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=891&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini aku membantah pada keangkuhan, aku membantah pada air mata, pada uraian logis yang kadang magis, aku membantah pada kesedihan. Di dalam sana aku melihat perih, perih yang tak terurai tapi menggumpal. Aku yang berdiri ditengah badai kerinduan jauh dari bunda, melihat sederet redam yang remuk dalam kebisua. Tepat sangat tepat di depan wajahku, berdiri tegar dengan senyum yang hambar. Kawan, hari yang cerah membutakan lagi mataku dari segumpal rindu tak bertuan.</p>
<p>Sobatku ini, sama layaknya dengan sobatku yang lain dalam teori fisik dia tidak kekurangan sama sekali, tidak, dari segi psikologis dia logis walaupun tidak sangat, dari kecerdasan emosional dia mengagumkan, kecerdasan intelektual tidak memalukan. Lantas dimana yang membuat dia kadang ada tapi tak ada… Kenapa dia?</p>
<p>“Ternyata aku lemah…”</p>
<p>“Tidak aku sangat lemah, katanya saat dia mendatangiku di sebuah taman ketika aku sedang asyik dengan buku ku. Tapi aku ingin kuat, aku ingin sekuat mereka, aku ingin setegar mereka, aku ingin lariku secepat mereka…” tersedu. Kali pertama aku melihat air matanya, belum jatuh sobat masih tergenang dalam lingkaran abadi yang ingin dia kuat-kuatkan.</p>
<p>“Kenapa?” ah bodoh. Kataku (tak terucap)</p>
<p>“Ada apa?” ihhh… klise</p>
<p>Dengan pertanyaan apa aku harus menjawab itu semua?</p>
<p>Dari mana aku harus memulai pertanyaan. Aku tak tahu. Tapi aku yakin, dia tak perlu jawaban dariku, dia hanya ingin menyaksikan ketidak adilan denganku, lebih tepatnya mengajakku. Aku terpaku, ku ingat tentang adegan saat berpisah dengan ibuku, tidak dengan air mata untuk menghentikannya, tapi jiwa tak mengerti apa-apa dan pasti tatapan kosong. Tak setetespun air mataku jatuh, begitu cepat semuanya begitu cepat terjadi sampai tak masuk segalanya dalam logikaku.</p>
<p>“Apa yang bisa ku lakukan untukmu sobat?” akhirnya aku berucap tak ada jawaban aku menunggu, air matanya menjawab “Ada kerinduan yang memuncak dalam nafasku tak tahu harus ku bawa kemana rindu ini?</p>
<p>“Apa yang sedang kau rindukan sahabatku?”</p>
<p>Hhhh… helaan nafas panjangnya terasa berat “Mama…!” dengan menutup wajahnya ia terisak. Satu… ya satu lagi kawan kisah hati di tinggalkan bunda, hampir sama denganku tapi ternyata banyak sekali berbedanya. Ku dekati dia ku genggam tangannya yang berusaha menutup wajah penuh air mata, matanya terbuka. Ku tatap tajam ku cari dimana letak bedaku dengannya, dengan sedikit ragu dia mengatakan pertengkaranya dengan Mamanya. Semua semata gengsi anak yang sudah merasa cukup mampu hidup sendiri. Satu kalimat perih kawan, yang memang tak pantas diucapkan pada wanita yang telah lama merawat kita! “Ma… katanya walaupun mama adalah ibuku, sekalipun aku nggak mau mengemis pada Mama!” dengan tanda seru dibelakang kalimat menegaskan bahwa kalimat itu bersifat perintah pada dirinya sendiri untuk jangan sampai ia mengemis-mengemis walaupun pada Mamanya.</p>
<p>Luar biasa kawan yang dikatakan sahabatku itu pada Mamanya, ku tahan amarahku untuk mengalahkanya karena aku yakin sudah lebih dari 100x dia memaki dirinya sendiri dengan kata-kata mengalahkannya. Bukan hanya kata-kata itu yang luar biasa kawan, tapi dampak yang ditimbulkan luar biasa. Lagi… tidak kurang dari tiga bulan setelah tragedy itu tak satupun pesan singkat sahabatku ini, Rani yang di balas sang Mama, tak satupun telfonya terjawab suara Mama… semua seakan lenyap dan yang lebih menghebohkan sakit yang di deritanya kian hari kian parah, bukan sekedar sakit kepala, sakit gigi apalagi flu tapi leukemia di deritanya… Kawan, aku lelah, aku yang hanya mendengarkan ceritanya saja lelah bagaimana dengan Rani? Tidak sama sekali dia tampakkan penderitaannya, tak seorangpun melihatnya bersedih, pintar dia menutupi, tapi ketahuilah di balik sapa cerianya, di balik tawa palsunya dia menyimpan berjuta sakit tak terperi, kerinduan tak terbendung… temanku ini juga lelah kawan…</p>
<p>Pernah di suatu ketika kutanyakan padanya.</p>
<p>“Sudahkah ibumu menjawab telfonmu?”</p>
<p>“Belum …” hhh… sambil tersenyum kecil dia menambahkan “Aku sampai lupa jika mempunyai seorang ibu” Aku menahan air mata itu agar tidak jatuh.</p>
<p>“Assalamu’alaikum” (jawabku ditelfon, suatu siang).</p>
<p>“Wa’alaikumsalam, Rara?” Tanya di sebrang</p>
<p>“Ya, benar, ini siapa?” timpalku.</p>
<p>“Rara ini aku Ivon, Rani pingsan sewaktu berangkat kuliah tadi keadaannya kritis”</p>
<p>“Rumah sakit mana?” tanyaku.</p>
<p>“Widya Farma” jawab Ivon.</p>
<p>“Aku langsung kesana” tutupku.</p>
<p>Diperjalanan tak ada yang bisa aku pikirkan hanya gundah yang membuatku resah, bukan pertama kalinya kabar ini ku terima tapi entahlah ada yang lain, pesan yang ku dapat dari Ivon… Kritis, dalam bayanganku kritis berarti koma terlambat sedikit saja… ah… aku tak mau membayangkan itu.</p>
<p>“Gimana Rani?” tanyaku pada Ivon setibaku di RS Widya Farma, sudah banyak yang berada disana selain sahabat ada juga Keluarga Rani nenek dan tante-tantenya, disini hanya itu keluarga Rani sebab orang tuanya dan adik-adiknya tinggal di Jakarta.</p>
<p>“Kata dokter penyakit yang diderita Rani bisa disembuhkan dengan cara pencangkokkan sum-sum tulang belakang, hanya itu harapan terbesar, sedangkan yang bisa mendonor sum-sum tulang belakang tersebut hanya keluarga kandung dan yang cocok dengan sum-sum tulang belakang Rani” jelas ivon. Aku tertunduk, separah itukah penyakit yang dideritamu Ran…? Tak seberkas rasa sakitpun kau perlihatkan kepada kami kini dengan cara yang seperti ini kah yang kau inginkan untuk memberitahu kepada kami? Air mataku mulai menggenang. Tiba-tiba dokter keluar.</p>
<p>“Ada yang bernama Rara? “ Tanya dokter</p>
<p>“Saya dok…” aku melangkah kearah dokter.</p>
<p>“Mbak Rani terus menyebut nama Anda, silakan masuk tapi saya harap jangan terlalu lama mengajaknya bicara” perintah dokter.</p>
<p>Akupun masuk, kulihat serba putih, tabung oksigen, kabel infus, alat deteksi jantung lengkap terpasang pada tubuh Rani.</p>
<p>“Ran…” panggilku lembut, Rani membuka matanya perlahan sekali.</p>
<p>“Ra…” hampir tak bisa ku dengar gerak bibirnya pun lambat, pucat.</p>
<p>“Mama… beritahu mama” terbata tak jelas, ku tahan isak ku tak bisa ku bayangkan hari-hari yang selama ini selalu kita lewati bersama akankah purna, aku berusaha untuk tidak berfikir seperti itu, tapi tahukah kau kawan siapa yang tidak akan berfikir sama dengan ku ketika melihat sesosok hidup terbaring lemah tak berdaya dibantu selang-selang oksigen? Selama ini Rani menyembunyikan ini dari orang tuanya dan kini ia ingin aku memberitahukanya, ku ambil HP Rani di tas yang tergeletak di atas meja disamping tempat ia berbaring, ku cari nama Mama di kontak HPnya, dan astagfirullah HPnya bergetar, satu pesan diterima ada tulisan Mama dari identitas pengirim, aku tak percaya… Rani mulai menggelincang seperti ada sesuatu yang membebaninya, ku panggil dokter dan keluarga serta sahabat ikut masuk, dokter memeriksa Rani, Rani mulai tenang setelah di beri suntikan, dokter mempersilahkan siapa saja yang ingin bicara dengan Rani, semua air mata tumpah, aku terpaku lalu keluar dan sedikit bicara pada perawat disebelahnya tapi aku ingat pada pesan di HP Rani yang masih ku genggam, Rani masih membuka matanya. Ku dekatkan HP itu di wajahnya, ku lihat dia membaca pesan itu… matanya berkaca-kaca, semua orang masih tersedu-sedu menatapnya, nenek Rani hampir jatuh tapi ia tak mau pergi dari tempatnya berdiri, Ivon dan tante Rani membopong lengan nenek.</p>
<p>Rani menggerakkan bibirnya ia tersedu dan berkata ”Aku lega… aku tenang… ja..ngan khawatir…” Diam Rani menutup matanya, monitor menggambarkan garis lurus dengan bunyi yang mengiris hati, tangis histeris dari masing-masing kami, nenek tak bisa menangis ia langsung pingsan, aku tak bisa menerimanya aku tatap pesan di HP Rani “Nak…” hanya tulisan yang ku baca, penantian Rani tak lebih dari satu tahun hanya dijawab dengan kata itu, tapi Rani sudah merasa cukup hanya dengan kata itu aku ingin memakinya betapa bodohnya dia menunggu hanya demi kata iu aku tak terima…</p>
<p>Dokter masuk bersama dua perawatnya tapi mengapa ada senyum disana, tak lama kemudian ia angkat bicara “Tenang semuanya Rani hanya tertidur karena pengaruh obat penenang saya berikan tadi” katanya dengan tampang seperti orang yang menang taruhan. Aku masih belum percaya “Lalu mengapa monitor itu…” tak ku teruskan.</p>
<p>“O… itu memang saya yang mematikanya karena Rani sudah tak memerlukan itu. Ku tatap dada Rani masih ada gerakan naik turun… Payah…</p>
<p>***</p>
<p>Menjelang hari ibu</p>
<p>Untuk semua sahabatku yang masih memiliki ibu, salam untuk ibumu dariku&#8230;</p>
<p>Endless Kurnia</p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/891/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=891&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/ditinggalkan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Berjuang, Imeh…</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/selamat-berjuang-imeh/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/selamat-berjuang-imeh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 04:30:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=889</guid>
		<description><![CDATA[Teman-temanku yang lajang mulai berkurang satu persatu. Termasuk teman yang kuanggap super baik ini. Kalo ada yang minta kado kulkas untuk pernikahan selain diminta kehadirannya, maka temanku yang satu ini hanya meminta kehadiran selebritis nggak penting ini di upacara pernikahan mereka&#8230;hehe Halimah Rasyid atau nama bekennya adalah Imeh, teman berbagi suka dan duka selama masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=889&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teman-temanku yang lajang mulai berkurang satu persatu. Termasuk teman yang kuanggap super baik ini.</p>
<p>Kalo ada yang minta kado kulkas untuk pernikahan selain diminta kehadirannya, maka temanku yang satu ini hanya meminta kehadiran selebritis nggak penting ini di upacara pernikahan mereka&#8230;hehe</p>
<p>Halimah Rasyid atau nama bekennya adalah Imeh, teman berbagi suka dan duka selama masa kuliah. Awal dekat dengannya saat PPL di sebuah SMA ternama di Cirebon, katanya. Awalnya diri ini menolak mati-matian (untung bukan mati beneran&#8230;hehe) untuk menerima lapang dada bahwa satu tim dengannya. Ah, dia orang terkenal di English Department di masa angkatanku, dia sering menyapa teman sekelasku yang paling care, Aat, tapi tidak dengannku. Menyebalkan bukan?</p>
<p>Semuanya berubah, ternyata dia teman luar biasa cerdas dan perhatian. Teman yang tenyata berkepribadian keibuan, beruntung deh bias menikahi temanku ini pasti anak-anaknya tidak kekurangan kasih sayang ibunya kelak. Masa PPL itu aku dalam emosi di taraf bawah, aku tengah belajar sabar akan kasih sayang Allah saat itu dan saksinya adalah temanku yang beberapa jam ini akan mengucap ijab qobul. Ya, sengaja aku deadline menulis hanya untukmu, Imeh. </p>
<p>Kepada temanku, aku meminta maaf karena tak bisa membantu prosesi bersejarah seperti yang telah di janjikan sebelumnya untuk menjadi pagar betis. Aku tahu, seharusnya aku meluangkan waktu untuk datang dan memaksakan diri untuk membantu, tapi sayangnya, temanmu ini termasuk keras kepala soal urusan ‘keluarga’, ketidakhadiranku menjadi pagar betis bukan berarti aku tidak peduli akan kebahagiaanmu. Sungguh, aku berdoa supaya kalian berbahagia dengan keputusan kalian untuk berbagi hidup dengan The Right Man itu, maklum aku belum berkenalan dengan si mas mu (hehehe). Tapi dengan tulus, aku mendoakan kalian.</p>
<p>Pesanku pada kalian, sabar ya… hehehehehe serius, di zaman seperti ini, aku tidak yakin cinta bisa mengatasi segalanya. Butuh kesabaran, kepasrahan dan kedisiplinan kuat untuk berbagi hidup dengannya.</p>
<p>Seorang tokoh pada buku yang kubaca yaitu Ken, pernah bertanya pada Vega, apakah itu pernikahan. Lalu Vega menjawab, pernikahan adalah peleburan dua ketakutan untuk menjadi satu keberanian, seperti mantra kuno, racun + racun = obat, nah ini takut + takut = berani. Dua manusia yang takut sendiri lalu melebur jadi satu untuk kemudian menjadi berani.</p>
<p>Hiroko, sahabat N.H Dini, seperti yang diceritakan di Jepun negerinya, Hiroko dan yang karakternya dipinjam untuk novel Hiroko, dengan nama tokoh yang sama, pernah berkata bahwa pernikahan adalah sebuah ruangan dimana yang di luar ingin masuk dan yang di dalam ingin keluar.</p>
<p>Menurutku, pernikahan itu fase hidup yang memang sudah digariskan untuk kalian lewati. Halah, nggak penting banget pendapatku ya…</p>
<p>Aku percaya, segala sesuatunya memang indah pada waktunya dan aku berharap, ini memang waktu kalian dan aku juga berharap waktuku akan tiba pada hari yang indah mendatang, hehehe ngarep…</p>
<p>Bertumbuhlah bersama, pupuklah kesabaran dan komitmen kalian.</p>
<p>Aku terharu….</p>
<p>Sudahlah, makin lama obrolan ini makin mengharu biru. Intinya aku mau bilang: SELAMAT BERJUANG! eits… aku bukannya sinis akan pernikahan, aku hanya menghindari ucapan selamat berbahagia, lagi-lagi karena menurut Vega, kebahagian itu salah satu yang harus diperjuangkan… Setuju nggak?</p>
<p>SELAMAT! Doakan aku juga ya ya ya… <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>###</p>
<p>Endless Kurnia</p>
<p>Cirebon, 3 Desember 2011, 09.15 WIB</p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/889/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=889&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/selamat-berjuang-imeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Serenade Malam (2)</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/serenade-malam-2/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/serenade-malam-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 04:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=887</guid>
		<description><![CDATA[Siang tadi, ketika mencari barang-barang bekas, tanpa sengaja kami melewati rumah makan besar. Dari balik kaca, terlihat orang-orang yang sedang makan. Satu demi satu potongan ayam goreng masuk ke dalam mulut mereka, dan mereka tampak sangat menikmatinya. Namun, tidak tahu mengapa penjaga rumah makan itu tiba-tiba keluar dan marah-marah pada kami. Ia bahkan mendorongku keras-keras [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=887&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang tadi, ketika mencari barang-barang bekas, tanpa sengaja kami melewati rumah makan besar. Dari balik kaca, terlihat orang-orang yang sedang makan. Satu demi satu potongan ayam goreng masuk ke dalam mulut mereka, dan mereka tampak sangat menikmatinya. Namun, tidak tahu mengapa penjaga rumah makan itu tiba-tiba keluar dan marah-marah pada kami. Ia bahkan mendorongku keras-keras sampai aku terjerembab. Kakaku sangat marah melihat aku terjatuh. Ia menyerang orang itu dan menggigit lengannya keras-keras.</p>
<p>“Aaaaaaah&#8230;anak gila!!” Teriaknya.</p>
<p>Saat itu aku melihat tangan orang tersebut melayang ke punggung kakak yang segera tersungkur. Sesaat kami jadi tontonan orang yang lewat, hingga seorang laki-laki yang berpakaian rapi keluar dari rumah makan dan mengusir kami.</p>
<p>“Orang itu jahat, ya Kak.” Kataku sedih. “Kalau aku sudah besar, ia akan aku pukul, supaya punggungnya juga merasa sakit!” Ujarku.</p>
<p>“Adek&#8230;adek.” Ia menggumam. Matanya menatapku ramah. Entah mengapa aku selalu merasa bahwa dibalik matanya tersembunyi bintang-bintang yang selalu bersinar terang.</p>
<p>“Kalau Adek sudah besar, Adek harus jadi seperti matahari. Tidak pernah bosan memberi kebaikan pada siapa pun, bahkan kepada orang-orang yang jahat. Yang cahayanya membuat bulan menyinari malam. Adek pun harus dapat menerangi kegelapan. Adek harus jadi anak yang baik, sabar, dan kuat.” Katanya pelan sambil tersenyum.</p>
<p>Aku tidak pernah mengira bahwa itu adalah saat terakhir ia berbicara panjang lebar kepadaku karena beberapa jam kemudian dalam lelapku, antara sadar dan tidak, aku mendengar tangis pelannya menahan sakit. Tangis yang perlahan-lahan lalu menghilang berganti dengan diam yang tenang. Baru ketika azan subuh terdengar aku terbangun dan mendapatinya tertidur dengan wajah yang pucat. Betapa takutnya aku ketika kulihat di sudut bibirnya terdapat jejak berwarna merah. Serentak aku berdiri dan mengguncang-guncang tubuhnya, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Sama seperti emak waktu itu.</p>
<p>“Kak, Kakak&#8230;!” Aku menatap wajahnya , mungkin mata bintangnya akan bersinar lagi. Tapi Tidak. Mata itu tetap terkatup erat. Aku menggigil.</p>
<p>Aku mundur ketika terdengar suara-suara ribut di depanku. Titik fajar sudah nampak. Sebentar lagi kali ini akan ramai dengan orang. Satu-dua bahkan telah datang dan menatap ke arahku yang beridiri bingung.</p>
<p>“Hei, siapa itu?”</p>
<p>Aku terkesiap. Langkahku menyurut.</p>
<p>“Hei, tunggu&#8230;!”</p>
<p>Aku berbalik dan berlari. Oh, entah kenapa. Aku merasa sangat takut. Mereka mungkin akan menangkap dan memukulku seperti yang mereka lakukan pada kakaku. Aku takut&#8230;.!</p>
<p>“Heeeii&#8230;.!” Terdengar langkah-langkah berat di belakangku.</p>
<p>Aku berlari tanpa arah menyusuri lorong-lorong kampung. Meninggalkan orang-orang yang semakin ramai berdatangan ke kali. Cepat, dan semakin cepat aku berusaha berlari agar mereka tidak sampai menangkapku.</p>
<p>Langit mulai bersemburat jingga. Satu buah bintang besar bersinar. Oh, Ibu aku harus ke mana? Tanpa sadar aku melintasi jalan raya. Suasana subuh. Dan dari balik tikungan aku melihat sinar. Sinar terang. Seperti mata kakakku.</p>
<p>“Kakak&#8230;.!” Aku tertegun sesaat. Lalu tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku melayang dan terhempas keras.</p>
<p>Sayup-sayup kudengar seseorang berkata, “Gila lu, nabrak orang!” Lalu kosong. Tidak terdengar apapun. Badanku terasa sangat sakit dan sulit digerakkan. Aku hanya terbaring diam. Sesaat kemudian sayup-sayup kudengar nyanyian jangkrik dari balik rumput liar yang kian pelan. Samar di langit kulihat dua buah bintang, salah satunya bersinar terang. Aku yakin mereka pastilah emak dan kakaku.</p>
<p>Aku memejamkan mataku. Aku menangis kesepian.</p>
<p>===============</p>
<p>Buat adik-adikku</p>
<p>“generasi Indonesia yang tercabik-cabik di pinggir jalan”</p>
<p>Cirebon, 2 Desember 2011</p>
<p>Endless Kurnia</p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/887/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=887&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/serenade-malam-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Serenade Malam (1)</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/serenade-malam-1/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/serenade-malam-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 04:25:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=885</guid>
		<description><![CDATA[“Ambilkan bulan, Bu&#8230;.” Ia melantunkan lagu tersebut berkali-kali di telingaku. Kadang sampai aku merasa bosan mendengarnya, tapi ia tidak pernah lelah menghiburku. Kakakku tersayang satu-satunya, ia tidak pernah bosan menina-bobokanku dengan lagu tersebut. “Kak, kita tidur di sini sekarang?” tanyaku. Ia tersenyum dan mengangguk. Rambut pendeknya terayun-ayun dan matanya bersinar. “Kita tidur di sini supaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=885&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Ambilkan bulan, Bu&#8230;.”</p>
<p>Ia melantunkan lagu tersebut berkali-kali di telingaku. Kadang sampai aku merasa bosan mendengarnya, tapi ia tidak pernah lelah menghiburku. Kakakku tersayang satu-satunya, ia tidak pernah bosan menina-bobokanku dengan lagu tersebut.</p>
<p>“Kak, kita tidur di sini sekarang?” tanyaku. Ia tersenyum dan mengangguk. Rambut pendeknya terayun-ayun dan matanya bersinar.</p>
<p>“Kita tidur di sini supaya bisa melihat bulan. Adek senang kan melihat bulan&#8230;?” tanyanya kemudian.</p>
<p>“He-eh.” Jawabku pendek. Aku sangat mengantuk. Karenanya, aku segera merebahkan diriku di atas terpal plastik yang ia dapat dari sisa-sisa bangunan yang baru dipugar siang tadi. Aku menatap langit yang terbentang luas. Pendar-pendar perak cahaya bintang kadang tampak mengabur di mataku yang tersapu angin. Suara jangkrik dari balik rumput liar begitu dekat terdengar di telingku. Sesaat kemudian, angin kali berhembus. Aku menggigil kedinginan.</p>
<p>“Dek, Adek kedinginan, ya&#8230;?” tanyanya sambil mengusap keningku. Aku mengangguk pelan. Aku ingin mengatakan padanya tidak apa-apa, tapi bibirku terasa kaku.</p>
<p>“Pakai sarung saja, ya Dek&#8230;.” Ia mengambil tas kecil yang selalu tergantung di bahunya, kemudian mengeluarkan sarung kotak-kotak berwarna merah pudar. Tidak lama kemudian, seluruh tubuh kecilku sudah terbungkus oleh sarung tersebut, sarung satu-satunya peninggalan emak sebelum meninggal.</p>
<p>“Kak&#8230;.” Aku mendesis. “Emak sekarang di mana ya?” Tanyaku.</p>
<p>Ia terdiam mendengar pertanyaanku, mungkin bingung menjawabnya.</p>
<p>“Emak sekarang ada di sana.” Jawabnya kemudian sambil menengadah menatap langit malam. “Adek lihat bintang-bintang itu&#8230;? Nah, bersama merekalah sekarang emak berada.” Lanjutnya.</p>
<p>Aku ganti terdiam. Bayangan emak satu persatu berkelebat di benakku. Tiga bulan. Ya, tepat tiga bulan yang lalu emak meninggalkan kami berdua. Biasanya emak tidak pernah pergi lama-lama, paling hanya untuk berjualan di pasar. Tapi kali itu tidak. Kakakku bilang, walaupun emak tidur, tapi ia tidak akan pernah bangun lagi.</p>
<p>Lalu semuanya berubah tiba-tiba. Para tetangga tiba-tiba saja datang dengan wajah sangar sambil berkata hal-hal yang tidak ku mengerti. Satu-satu mereka mengambil segala barang yang ada di dalam gubuk kami. Radio, kompor, panci, ember, bahkan hingga baju-baju tua ibu. Saat itu kakakku hanya menangis tersedu-sedu di sudut rumah sambil memelukku yang baru pulang bermain layang-layang.</p>
<p>“Dek, kita harus pergi dari sini.” Begitu katanya.</p>
<p>“Huaaaahhhmmm&#8230;.” Aku menguap lebar-lebar. Rasanya mataku berat sekali.</p>
<p>“Kak, tidur yuk, sudah malam.” Ajakku.</p>
<p>Ia hanya tersenyum dan beringsut-ingsut mencoba merebahkan tubuhnya, tapi tiba-tiba&#8230;</p>
<p>“Aduuuuh.” Ia mengaduh kecil saat punggungnya menyentuh tanah.</p>
<p>“Kak, masih sakit punggungnya?” Tanyaku kaget. Terduduk aku memperhatikannya.</p>
<p>“Enggak&#8230;” Ia menggeleng, “Enggak apa-apa kok. Sudah kita tidur saja, yuk.” Jawabnya menghibur.</p>
<p>Dari sudut mataku, aku lihat matanya terpejam sambil meringis. Pasti sakit sekali pukulan orang itu siang tadi, pikirku. Aku mengeluh dalam hati. Ingatanku mengembara lagi.</p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/885/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=885&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/serenade-malam-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karina (4)</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/karina-4/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/karina-4/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 04:24:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=883</guid>
		<description><![CDATA[Aku sudah menaiki sepedaku yang berwarna ungu, sepeda yang menjadi saksi aku tamatkan Sekolah Menengah Atas di samping desa. “Bonceng ya…” pinta Kari. Aku menganggukkan kepala dan berkata, “Ada syaratnya, asal…” Sepertinya Kari sudah hafal maksudku. Dia terbiasa dibonceng dan dia pula yang mengayuh, tugasku hanya pegang setir sepeda saja. Bila dilihat tugasku lebih ringan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=883&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku sudah menaiki sepedaku yang berwarna ungu, sepeda yang menjadi saksi aku tamatkan Sekolah Menengah Atas di samping desa.</p>
<p>“Bonceng ya…” pinta Kari.</p>
<p>Aku menganggukkan kepala dan berkata, “Ada syaratnya, asal…”</p>
<p>Sepertinya Kari sudah hafal maksudku. Dia terbiasa dibonceng dan dia pula yang mengayuh, tugasku hanya pegang setir sepeda saja. Bila dilihat tugasku lebih ringan daripada Kari, tapi menurutku lebih enak Kari karena tempat duduk lebih empuk ketimbang tempat dudukku. Ah, sama saja mungkin.</p>
<p>Sepertinya Kari pasrah kemanapun aku membawanya jalan-jalan.</p>
<p>Panasnya sore ditemani angin berhasil menyingkap kain pada lengan tanganku. Aku masih ingat, waktu sore  seperti ini sering aku habiskan bersama ayahku dulu hanya untuk menghabiskan 1 liter bensin, jalan-jalan tanpa arah tujuan. Bukan berlaku boros, tapi beginilah cara aku dan ayah membuka hati. Dengan sendirinya kami akan mencurahkan beban hidup yang dirasa selama di perjalanan dengan kecepatan yang bisa dikatakan lambat.</p>
<p>“Astagfirullah…” aku terhentak kaget ketika Kari memegang pinggangku.</p>
<p>“Pegang setir dilarang ngelamun…” Kari mengingatkan.</p>
<p>“Sini, aku saja yang kayuh sepeda. Pegangan yang erat” aku perintahkan Kari.</p>
<p>Aku kayuh sepeda dengan sekuat tenaga sehingga membuat pegangan Kari semakin erat dan kudengar teriakan paniknya.</p>
<p>Terasa lelah lantas kemudian berhenti. Aku letakkan sepeda di bawah pohon pisang dan aku duduk di samping sepeda.</p>
<p>“Aku pikir kau akan mengajakku ke bendungan air di tengah sawah, pemandangan disana kan indah. Tempat itu adalah favoritmu yang kau bilang tempat paling romantic tapi gratis. Tapi kok di samping jalan raya sih…?”</p>
<p>“Capek tau&#8230;” aku mengibas-ngibaskan dedaunan ke wajah.</p>
<p>“Ah, payah…” Kari cemberut kemudian duduk di sampingku agak jauh.</p>
<p>Lama kami tak saling bicara. Dan aku masih mengatur nafasku yang tersengal-sengal mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi.</p>
<p>“Rini…” Kari memanggil namaku tanpa menoleh padaku. Aku pun tak menyahut, hanya menatapnya saja.</p>
<p>“Rin…” Kari memanggil namaku lagi. Kali ini ia menatapku, ia baru tahu jika sedari tadi aku tengah memperhatikannya kemudian ia tersipu malu.</p>
<p>Sepertinya Kari sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan sebuah kejujuran.</p>
<p>“Saldo tabunganku habis…” ucap Kari datar.</p>
<p>Aku masih belum berani berkomentar, ingin tahu cerita selanjutnya.</p>
<p>“Uang yang kusimpan di Bank sejak SMA untuk membuat perpustakaan gratis setelah menamatkan S2 saldonya sudah habis. Jangankan perpustakaan gratis, S1 saja belum aku rasakan” guliran bening keluar dari matanya, Kari menangis tanpa sadar sambil menunduk.</p>
<p>Aku menghirup nafas lebih dalam setelah mendengar cerita Kari secara lengkap dan aku buang nafasnya pelan-pelan, amat pelan sehingga tak membuat Kari terusik.</p>
<p>Aku bingung harus berkata apa, jujur aku tak bisa membantu wujudkan mimpinya. Sehingga membuatku bernyali ciut untuk mengatakan sesuatu. Dan aku semakin bersalah tidak mengajaknya ke tempat yang membuatnya merasa tenang. Aku malah berhenti di pinggir jalan raya dengan sebatang pohon pisang ini, jujur lelah bukan kepalang sehingga membuatku berhenti di sini.</p>
<p>“Uang tabungan sudah kugunakan untuk melunasi hutang-hutang ibu dan bapak, sisanya sedikit demi sedikit terkuras untuk keperluan hidupku yang sebatang kara”</p>
<p>Semakin miris saja aku mendengarnya, “Ya Allah….” Aku hanya bisa menjerit dalam hati mendengar penderitaan sahabat yang dua tahun tak kutemui ini. Aku menatap ke atas berharap dapat menatap biru dan putihnya awan tapi sayangnya harapanku tak terpenuhi karena pohon pisang yang ada di sebelahku itu berdaun lebar sehingga menutupi pandanganku menerawang ke atas langit. Tapi aku tetap berusaha mencari celah untuk bisa menatap awan. Namun tetap tak bisa karena pandanganku lurus tak mau melirik ke kanan dan kiri, pandangan lurusku ingin langsung tembus melihat awan. Karena tak kesampaian akhirnya mau tidak mau aku menatap pohon pisang itu. Dan……</p>
<p>“Masya Allah, Ka… Tak ada yang tak mungkin, kun fayakun-nya Allah itu memang ada…” ucapku terpesona.</p>
<p>“Maksudnya…?” Kari terheran-heran dengan ucapanku.</p>
<p>“Ka, teruslah berharap dan berusaha karena jika Allah bilang ‘jadi’ maka ‘jadilah’. Semuanya Allah yang mengatur. Allahu akbar…” aku masih melihat pohon pisang itu dengan takjub.</p>
<p>Rupanya, perkatakaanku membuat Kari duduk mendekat padaku dan bertannya, “Kau sedang apa?”</p>
<p>“Allah yang berkehendak, Ka…” aku masih tetap terpesona.</p>
<p>“Lihat, perhatikan pohon pisang ini. Apa yang terjadi?”</p>
<p>“Allahu akbar…” tak sadar kita takbir secara bersamaan.</p>
<p>“Aku yakin pohon pisang ini tidak bermimpi dapat berbuah mangga. Mau dikatan apa jika Allah berkendak lain. Aku tambah yakin jika Allah berkehendak kau bisa wujudkan mimpi maka terwujudlah, teruslah berharap…” aku berkata mengalir begitu saja.</p>
<p>Aku memberikan senyuman terbaikku untuk Kari sebagai sebuah penyemangat. Kari pun membalas senyumanku dengan mengusap air mata di pipinya.</p>
<p>“Iya, aku akan terus berharap dan berdoa pada Allah…”</p>
<p>Ketika ada seorang bapak lewat mengayuh sepeda dengan menenteng cangkul membuatku berteriak, “Pak berhenti</p>
<p>pak… coba lihat pohon pisang ini, buahnya mangga…”</p>
<p>Bapak bepakaian baju yang kotor akibat lumpur itu dengan enteng mengatakan, “Sudah lama itu…” sambil berlalu lewat di depan kami dan pohon luar biasa ini.</p>
<p>Kari tertawa melihat ekspresiku yang malu bukan kepalang.</p>
<p>“Rin, makasih ya… Kau memang charger buatku” Kari memegang tanganku erat sambil tersenyum.</p>
<p>“Pohon ini akan menjadi saksi aku untuk kembali berdoa dan berusaha tuk memulai lagi wujudkan mimpi. Jujur aku juga baru tahu…”</p>
<p>Aku tersenyum, akhirnya bukan aku saja yang baru tahu pohon pisang luar biasa ini.</p>
<p>“Kau adalah orang kedua setelah ibuku yang akan mersakan gaji pertamaku…” hanya itu yang bisa aku katakan.</p>
<p>Tiba-tiba Kari memelukku, “Semoga kau disayang Allah…”</p>
<p>***</p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/883/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/883/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/883/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/883/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/883/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/883/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/883/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/883/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/883/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/883/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/883/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/883/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/883/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/883/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=883&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/karina-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senyuman</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/senyuman/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/senyuman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 04:23:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Hidup adalah keindahan tersendiri Ia memberimu luka agar kau belajar untuk bertahan, Ia memberimu duka agar kau belajar untuk tegar, Ia memberimu cinta agar kau belajar untuk berani dan berkorban pada saatnya. Bila hidup memberimu luka, kau hanya perlu tersenyum,tanda kau mampu bertahan atasnya Bila hidup memberimu duka, kau hanya perlu tersenyum mungkin dengan sedikit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=881&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup adalah keindahan tersendiri</p>
<p>Ia memberimu luka agar kau belajar untuk bertahan,</p>
<p>Ia memberimu duka agar kau belajar untuk tegar,</p>
<p>Ia memberimu cinta agar kau belajar untuk berani dan berkorban pada saatnya.</p>
<p>Bila hidup memberimu luka, kau hanya perlu tersenyum,tanda kau mampu bertahan atasnya</p>
<p>Bila hidup memberimu duka, kau hanya perlu tersenyum mungkin dengan sedikit tangis agar kau bisa melaluinya,</p>
<p>Ketika hidup memberimu cinta, kau hanya perlu tersenyum dan mengambil kesempatan atau mempersilahkannya</p>
<p>Tersenyumlah, tersenyum</p>
<p>dengan begitu kau bisa bahagia dalam hidup</p>
<p>Tersenyumlah, tersenyum</p>
<p>karna setiap kesulitan pasti ada kemudahan</p>
<p>Tersenyumlah, tersenyum</p>
<p>dengan begitu kau tahu ada kekuatan dalam dirimu.</p>
<p>##</p>
<p>Indramayu, 081111, 21.11</p>
<p>Endless Kurnia</p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/puisi/'>Puisi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/881/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=881&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/13/senyuman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BRAM</title>
		<link>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/05/bram/</link>
		<comments>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/05/bram/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 07:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endangkurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endangkurnia.wordpress.com/?p=879</guid>
		<description><![CDATA[Ba’da salam dan tahmid. Sahabat, kutulis e-mail ini sengaja untukmu seorang. Tentang kita, tentang harapan kita, tentang semua cita-cita dan doa-doa kita. Kita memang pernah membayangkan bahwa kita akan berpisah jarak. Kita pernah meramalkan bahwa kita akan mengalami masa-masa sulit dari perjuangan dakwah kita. Kita sudah ikat janji setia kita bahwa kita tak akan pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=879&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ba’da salam dan tahmid. Sahabat, kutulis e-mail ini sengaja untukmu seorang. Tentang kita, tentang harapan kita, tentang semua cita-cita dan doa-doa kita. Kita memang pernah membayangkan bahwa kita akan berpisah jarak. Kita pernah meramalkan bahwa kita akan mengalami masa-masa sulit dari perjuangan dakwah kita. Kita sudah ikat janji setia kita bahwa kita tak akan pernah berhenti menyebarkan kebenaran yang kita yakini. Kita telah berikrar dengan teguh dan kuat bahwa kita tak akan pernah terpisahkan dalam satu ikatan akidah Islam meski jarak memisahkan kita. Kita telah memahat janji kita di hati kita berdua. Kita telah membenamkan ikrar kita di ruang pikiran kita. Telah pula mematri semua keinginan dan obsesi perjuangan kita dalam desahan nafas kita yang tak lelah menghela lidah untuk serukan kebenaran Islam. Ya, kita akan terus gelorakan perjuangan. Itu sebabnya kita perlu hentakan yakin agar kita tetap bersatu. Sahabat, kini aku yakin dirimu tetap gelorakan semangat juang yang pernah kita gariskan saat kita masih bersama melukis hari-hari indah di kampus perjuangan. Saat kita bersama mengalahkan segala rintangan. Yakinlah, bahwa kita tak pernah benar-benar sendiri dalam perjuangan dakwah ini, dan tak akan pernah sia-sia dalam membela agama Allah. Kita tetap bersama kawan. Percayalah, bahwa hanya Allah Ta’ala pelindung kita. Dialah yang telah memberi kita semangat dan keberanian untuk mengalahkan semua penghalang dakwah. Karena perjuangan yang kita jalani adalah tentang hidup dan mati. Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam, dari sahabat yang tak pernah melupakanmu, Hamzah”</p>
<p>Bram panggilannya, lengkapnya Ibrahim, pria kurus berkumis tipis itu menghela napas panjang dan dihembuskannya perlahan. Matanya masih menatap monitor komputer yang menampilkan isi e-mail dari sahabat lamanya, Hamzah. E-mail yang dikirim dua bulan lalu itu sengaja dibukanya kembali untuk mengobati rindunya pada Hamzah. Ia adalah anak kampus yang paling aktif di kegiatan keislaman. Sama seperti dirinya. Bahkan dirinya dan Hamzah adalah dinamo keberlangsungan kegiatan keislaman di kampus. Meski berbeda latar belakang sosial, Bram dan Hamzah tetap lengket dan tak ada sekat-sekat keraguan membatasi hubungan mereka.</p>
<p>Bram menyeka sudut matanya. Ada air bening yang menetes. Ia berusaha menahannya dengan ujung telunjuknya. Agar air mata kedukaan itu tak jatuh. Bram merasa kerdil saat ini. Bram malu kepada dirinya sendiri dan janjinya kepada Hamzah.</p>
<p>“Kamu tidak tahu bahwa aku kini jadi pecundang,” batinnya bergemuruh.</p>
<p>“Maafkan aku karena selama tiga tahun ini aku telah menipumu. Aku memberikan semua informasi salah tentang diriku,”</p>
<p>Bram gundah gulana dalam batinnya. Ia kemudian menutup e-mail dari sahabatnya itu. E-mail yang sengaja tak di-reply sebagaimana ia sering melakukannya. Sambil mengisinya dengan hal-hal yang heroik tentang perjuangannya di kota kecil tempat asalnya. Semua SMS dari Hamzah dibalasnya dengan kabar gembira tentang kesuksesan dakwahnya. Bram pun berbohong kepada Hamzah saat sahabatnya itu menghubunginya via telepon. Bram benar-benar terpukul dengan kiriman e-mail dari sahabatnya yang masih bersemangat menyerukan kebenaran Islam. Bram tahu, Hamzah tipikal orang yang tak bisa diajak kompromi. Ia teguh benar menggenggam kebenaran.</p>
<p>Sudah tiga tahun ini Bram tinggal di kota kelahirannya sejak ayahnya meninggal dan menyisakan banyak utang. Uang pinjaman dari keluarga dan tetangga untuk mengobati penyakit ayahnya tak berbuah hasil. Biaya opname, operasi tumor paru-paru yang diderita ayah Bram dan semua jenis obat yang dibelinya cukuplah banyak. Bram dan ibunya tak berpikir macam-macam selain kesehatan ayahnya. Namun, usaha tak berjodoh dengan kesembuhan ayah Bram.</p>
<p>Selama tiga tahun itu pula Bram dan Hamzah berpisah. Jarak yang sangat jauh yang membuat mereka tak bisa bersua fisik. Bahkan saat ayah Bram meninggal pun, Hamzah hanya mengirim salam via SMS. Karena saat itu ia tak punya banyak pulsa. Bram tahu dan memakluminya, karena Hamzah saat itu pun sedang kesusahan. Setelah menikah dengan Halimah dan pindah ke kota kelahiran istrinya, Hamzah memulai hidup dari nol. Ia memang tak ingin berharap dari kekayaan ayahnya. Hamzah ingin mandiri dan memilih jalannya sendiri. Bram tahu betul karakter sahabatnya itu. Bram yakin, itulah yang membuat Hamzah lebih bisa bertahan ketimbang dirinya yang mudah rapuh.</p>
<p>Malam yang dingin. Mata Bram menatap langit-langit yang bintangnya berkelipan genit menghiasi lukisan malam yang didominasi pekat. Angin semilir menerpa lembut wajah tirus milik Bram. Ia sedang membayangkan Hamzah tengah bahagia berkumpul bersama anak dan istri tercintanya. Hamzah berani mengambil risiko menikah selepas kuliah dan kemudian hijrah ke kota kecil istrinya. Sementara Bram, masih setia membujang. Meski ibunya berkali-kali memintanya segera menikah. Tapi Bram bergeming. Ia tak akan menikah sampai semua utang ayahnya terlunasi.</p>
<p>“Kamu pasti malu mendapati pekerjaanku saat ini,” Bram menghembuskan nafas resah.</p>
<p>“Aku memang selalu memberikan kabar gembira tentang dakwahku di sini. Tapi itu semua bohong. Aku memang tak sekuat prinsip hidupmu,” nada penyesalan Bram terasa kuat.</p>
<p>Bram memang pantas menyesal dan malu. Gelora perjuangan dakwah saat masih di kampus, terdengar hambar dan sekadar kenangan bagi Bram. Kini semua berganti dengan kerlap-kerlip lampu panggung hiburan dan sorak-sorai penonton. Suara Bram memang masih terdengar dan lantang. Tapi bukan untuk dakwah. Bram menjadi Disk Jockey (DJ) terkenal dan pujaan ABG di sebuah diskotik ternama di kota kelahirannya. Ia tak punya pilihan demi mengumpulkan rupiah untuk lunasi semua utang ayahnya. Terpaksa ia lakukan itu, karena terus diburu para rentenir. Sebab ibunya diam-diam meminjam uang mereka untuk berobat ayahnya.</p>
<p>Awalnya Bram menolak ajakan seorang teman lamanya waktu SMA. Tapi akhirnya ia menyerah dan kemudian mengorbankan idealisme dan perjuangannya. Prinsipnya kalah digerus kondisi yang membuatnya tak punya waktu untuk berpikir lebih panjang dan lebih jernih. Maka, tawaran jadi DJ dari temannya ia terima juga demi utang keluarga bisa terbayar lunas.</p>
<p>Bram malu jika suatu saat Hamzah tahu tentang dirinya saat ini. Tapi Bram mencoba menghibur diri bahwa Hamzah tak mungkin tahu. Bram terpaksa akan selalu berbohong kepada Hamzah jika sahabatnya itu mengirim SMS, telepon, ataupun e-mail.</p>
<p>Ringtone di ponsel Bram berbunyi nyaring menghentikan lamunannya. Pram segera mengambilnya dari atas meja di samping komputer miliknya yang telah lapuk dimakan usia. Bram ragu untuk menerima panggilan itu karena tertera dengan jelas nama Hamzah. Resah di dada Bram. Karena ia harus terpaksa berbohong lagi kepada sahabatnya itu. Bram termenung hingga suara ringtone itu berhenti. Diam. Beberapa saat kemudian, berbunyi lagi ringtone MP3 dari penggalan lagu Bingkai Kehidupan yang telah lama ia pasang di ponselnya sebagai pengingat perjuangan meski sejatinya telah ia tinggalkan jauh makna perjuangan dakwah itu. Dilihatnya identitas si penelepon. Masih Hamzah. Bram diam.</p>
<p>Tak ada suara setelah ringtone itu berhenti. Bram duduk di tepi jendela dan menatap langit malam yang tetap didominasi warna hitam. Bintang-bintang tersebar acak di langit malam dengan kerlipan yang indah dipandang mata. Bram berhenti memandangi langit malam ketika ponselnya kembali berdering. SMS yang masuk ke ponsel Bram. Pengirimnya Hamzah. Tak sabar Bram membuka pesan itu.</p>
<p>“Assalamu’alaikum. Bram, aku kcewa sm kmu. Trnyata kmu slma ini mmbohongiku. Bhkn aku lbih kcewa lg krn kmu tdk malu kpd Allah atas apa yg kmu prbuat. Bram, aku tak btuh pnjlasan dr kamu. Sbb, aku tlah mngetahui aktivitas kmu dr rkaman yg dikrm pnggemarmu ke situs pnyimpanan video, Youtube! Maafkn, krn aku tlh mrasa gagal tdk bs menolongmu. Aku hrap, kmu msh mau brubah. Smga kta bs brtemu di surgaNya kelak. Tp bkn dngn kndisi sprti ini. Kemiskinan jgn mmbuat dirimu mnjadi futur (apalagi kufur), sahabat!”.</p>
<p>Bram lunglai. Seluruh tubuhnya terasa lumpuh dan rapuh.</p>
<br />Filed under: <a href='http://endangkurnia.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endangkurnia.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endangkurnia.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endangkurnia.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endangkurnia.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endangkurnia.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endangkurnia.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endangkurnia.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endangkurnia.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endangkurnia.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endangkurnia.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endangkurnia.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endangkurnia.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endangkurnia.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endangkurnia.wordpress.com/879/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endangkurnia.wordpress.com&amp;blog=7352339&amp;post=879&amp;subd=endangkurnia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endangkurnia.wordpress.com/2012/01/05/bram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ad009f4bc4d067f6c64c74182388bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Endang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
