Puisi

All posts in the Puisi category

Tak Kulihat Sutera Disana…

Published 20 Mei 2012 by endangkurnia

Hanya pakaian dunia…

Menutup humanisme

Membungkus resah

Dalam pencarian definisi nyaman

Menyelimut gundah

Saat mata lelah berharap nyenyak

Kegelisahan merong-rong

Kala arogansi bermutasi dalam gen-gen hewanis

Metaforfosis…

Dalam progesifitas kanibalis

Tak abadi

Lapuk…dalam degenerasi

Lusuh.. diatas lantai bermerk kain pel

Terinjak..

Tercampak usang dalam kotak sampah

Terbakar dalam tungku kebosanan

Hangus tak berharga

Punah dalam keharusan prosesi

Sendiri dalam dingin

Berdialog empat mata dengan penjaga tanah

Kala palu raksasa menghantam keras

Memecah sombongnya kepala

Rengkah…

Berkawan tanah dan papan liang

Kala belatung dan cacing tanah bermain

Menggrogot pelan..

Bersama ratapan..yang tak berujung

Tak kulihat Sutera disana..

Hanya kafan dan tulang-belulang kesombongan

cuma kafan…!!!

Ya Rasul, Aku Kangen

Published 20 Mei 2012 by endangkurnia

Diantara kesendirianku
Diantara kelelahanku
Sosoknya selalu tergambar dalam lensa mata ini
Walau ku pejam sampai letih mataku ini
Namun semakin jelas tergambar dalam kesendirianku
Ku tatap langit
Ku pandang senja dan bisikan sang bayu
Tentang jalan yang teramat panjang

Sejuta tanya ku ucap pada rumput yang menghijau
Mungkinkah apa yang kurasakan kau rasakan jua
Mengapa ada batas waktu
Mengapa ada jarak yang memisahkan
Terasa berat kupikul perasaan ini

Ingin kutitipkan sebuah kalimat “Ya Rasul, aku kangen…”
Agar kau pun tenggelam dalam kerinduan akan hadirku

Allahumma sholli ala Muhammad wa ala Muhammad

Untuk: SATU JAM MENULIS SERENTAK MILAD FLP
Endang Kurnia, Koord. Kaderisasi FLP Cirebon
11:17 WIB / 26-02-2012

Aneh…

Published 21 Februari 2012 by endangkurnia

Aneh…
Debat kusir tak sanggup mengurai
Berjuta teori patah!!
Tak terbantahkan…

Ketika hypotesa tak mampu ditegakkan
Diskusi menjadi ompong

Kosong…melompong

Sebab representasi data tak berimbang

Mengambang layang…

Dalam catatan sejarah tak berjilid

Cirebon, 200112, 21:00

Endless Kurnia

Senyuman

Published 13 Januari 2012 by endangkurnia

Hidup adalah keindahan tersendiri

Ia memberimu luka agar kau belajar untuk bertahan,

Ia memberimu duka agar kau belajar untuk tegar,

Ia memberimu cinta agar kau belajar untuk berani dan berkorban pada saatnya.

Bila hidup memberimu luka, kau hanya perlu tersenyum,tanda kau mampu bertahan atasnya

Bila hidup memberimu duka, kau hanya perlu tersenyum mungkin dengan sedikit tangis agar kau bisa melaluinya,

Ketika hidup memberimu cinta, kau hanya perlu tersenyum dan mengambil kesempatan atau mempersilahkannya

Tersenyumlah, tersenyum

dengan begitu kau bisa bahagia dalam hidup

Tersenyumlah, tersenyum

karna setiap kesulitan pasti ada kemudahan

Tersenyumlah, tersenyum

dengan begitu kau tahu ada kekuatan dalam dirimu.

##

Indramayu, 081111, 21.11

Endless Kurnia

ALLAH

Published 5 Januari 2012 by endangkurnia

Allah knows what is best for us
So why we should complain
We always want the sunshine
But He knows there must be rain

We always want laughter
And the merriment of cheer
But our heart will lose their tenderness
If we never shed a tear

Allah tests us often
With suffering and sorrow
He test us not to punish us
But to help us meet tomorrow

For growing trees are strenghtened
If they can stand with the storm
And the sharpness of chisel
Gave the marble its grace and form

Allah tests us often and for every pain
He gives us
Provided we are patient
Is followed by rich again

So whenever we feel like that
Everything going wrong
It’s just Allah’s way to make our spirit strong

¤¤¤
‘Aisyah’s boarding house…
Bandung, 070811
Endless Kurnia

Bisakah?

Published 27 Oktober 2011 by endangkurnia

Padi di sawah tak mampu menghidupkan kami
Mungkinkah aku anak petani
Sekolah bertelanjang kaki

Bisakah aku jadi presiden di negeri ini?
Sedangkan aku makan sehari sekali
Sawahku kering dimusnahkan musim
Mereka tak peduli

Ibu dan bapakku buta huruf
Hanya pandai mengaji
Kasih sayang mereka tak pernah mati

Nanti suatu saat
Aku turut
Matahari bersinar
Aku berjalan menyusuri

Dengan buku sehelai sepapan aku kepit
Utang dari warung oleh ibu
Sekolah terlalu mahal bagi kami

Bisakah aku jadi presiden di negeriku?
Apakah cita-citamu?
Bukankah kau lebih kaya dariku?

12062011
Obrolan dengan gadis kecil lampu merah simpang lima, Semarang

Allah, Boleh ya Aku Menangis

Published 22 Juli 2011 by endangkurnia

Tetes asam berjatuhan
Perih mendidih
Di luka yang menganga
Menjerit luka
Meruntuhkan langit di atas kepala
Kejam…!
Tak berperasaan
Membuka lebar irigasi orbita
Mengalir bandang
Dalam cavum-cavum hampa

Lubrikasi sendi-sendi suci tak mampu bicara
Hanya norma-norma membumbung
Merantai sempit lidah sembilu
Menunduk haru
Ketika beningnya air bermain di ujung jari
Bergelinding…
Diantara sahutan-sahutan berbalas

Allah, aku ingin menangis
Boleh ya aku menangis?
Supaya lempeng-lempeng amarah tetap membeku
Tak bergerak
Diam merangkul sabar
Kala tajamnya luka menghujam hati
Biarkan hati berbungkus tulus
Agar episentrum angkara berubah menjadi nyaman

(Keluhku untuk orang yg berani menyakiti orang yg kusayang, my roommate)
Bekasi, 060711
Endless Kurnia

Bermandikan Cinta

Published 22 Juli 2011 by endangkurnia

Sepanas apa amarah menggarang
Sehaus apa dahaga meradang
Sekeras apa ombak menerjang
Sehebat apa dada terguncang
Tetaplah ibu yang kusayang
Bermandikan cinta yang tiada alang kepalang
Dari Sang Maha Penyayang

Endless Kurnia
Bekasi, 040711

Dendang Hati

Published 22 Juli 2011 by endangkurnia

Hari-hari yang menjadi pilihan gelisah
Seperti membaca sebuah buku harian
Yang begitu menyakitkan
Maka kubiarkan
Desir angin menjelma kelebatan pisau
Maka kubiarkan
Seberkas luka menganga
Maka kubiarkan
Seberat bumi menyangga gunung menggunung
Sesakit karang menahan terpaan ombak
Cinta penyair ketika menemukan pulau hati
Dalam kesenyapan mencuri jalannya sendiri
Ia akan terayu-ayu sampai ajal menjelang

Cinta penyair adalah kepercayaan
Ketika kepercayaan telah pergi
Akan bergelayutan tak menepi
Dari air matanya sendiri

Cinta penyair ketika tertikam
Akan menjelma jadi puisi
Sederet kalimat ratapan
Membiarkan luka itu
Menjelma jadi detak sepi

Penggambaran hati seseorang yg kulihat.
Endless Kurnia
030711

Menaruh Cita dan Cinta (el ‘Aisyah)

Published 22 Juli 2011 by endangkurnia

Telah aku pertaruhkan
Gurauan dan petualangan alam
Ombak laut damai cinta pada-NYA
Silih berganti habitat musnah keracunan
Oleh tangan mereka
Ombak dan arus laut
Menghantar kata sajakku ke tempat jauh
Gelora asmara pada dunia
Kita terpaku
Luluh lantak hati mereka kosong
Biarlah ombak sampai ke pantai
Tuk bermain anak camar
Anak camar itu adalah kita
Biarlah karang terumbu menghiasi taman nirwana
Tempat kita mengenal ombak
Dan perahu nelayan tarian gelombang
Membawa kita terbang
Cahaya lampu malam
Mercusuar itu tak pernah berhenti

Tuk petunjuk kita berlabuh
Seribu bintang di langit adalah peta
Selalu kita bentang tiap hilang kompas
Kala itu aku tak mampu
Menerjemahkan teorimu kawan

Langit biru nan agung
Terhampar tanpa batas
Tak seperti padang rumput
Bima sakti ciptaan Maha Agung
Disitulah kita menaruh cita-cita dan cinta manusia

Endless Kurnia
26 Juni

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.