Merindu

All posts in the Merindu category

Merindu (33)

Published 30 April 2011 by endangkurnia

Duhai kekasih Allah. Mungkin aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yg enggan dan lalai melantunkan sholawat untukmu. Dan aku memang begitu. Aku mungkin tak pantas menulis catatan “merindu” ini untuk mengurai rindu kepadamu karena dosa-dosaku yg menggunung tak terbantahkan dan tak termaafkan. Tetapi izinkanlah aku menyudahi semua itu, kasih. Aku ingin mendekat kepadamu. Aku ingin mendekat pada petunjukmu, ajaranmu.

Jika hari ini aku tiba-tiba kembali melanjutkan catatan ‘merindu’ ini untukmu, bukan karena tiba-tiba aku ingin begitu. Aku merasa telah jauh darimu, kasih. Dan orang-orang di sekelilingku juga begitu. Ini semua karena aku begitu rindu kepadamu.

Bolehkah aku merindukanmu, kasih? Meskipun aku tak pernah berjumpa denganmu. Bolehkah aku merindukanmu? Padahal aku adalah umatmu yg bebal dan bodoh, nista dan penuh dosa. Bolehkah aku merindukanmu? Padahal aku tak pernah sekali menemuimu.

Kasih yang kurindu, jika benar-benar kerinduan tak hanya energi yang mendorong dan menarik kita sekaligus untuk ingin bertemu kembali dg seseorang yg pernah kita temui di suatu tempat pada suatu waktu, maka aku sangat merindukanmu. Meskipun aku tak pernah menemuimu.

Tholama asyku ghoromi ya nurol wujud. For so long I have complained of my lowliness, oh light of existence. Sejak lama aku adukan kerinduanku, wahai cahaya Ilahi.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala alih Muhammad.

Mungkin, lidahku adalah lidah terkaku dan terkelu dalam melantunkan sholawat bagimu. Tapi izinkanlah aku melantunkannya untukmu. Aku benar-benar merindukanmu.
***

Merindu (32)

Published 27 April 2011 by endangkurnia

Aku tak tahu harus melanjutkan darimana lagi bagian catatan ini, kasih. Sebab tentu kau merasa aneh, melihatku – ummatmu yang sama sekali tak pernah kau kenal ini – menulis sebuah catatan untukmu. Dan tentu saja kau akan merasa lebih heran jika saja catatan ini sampai kepada tanganmu dan dibaca olehmu. Tentu kau tak akan mengenal siapa aku. Bagaimana rupaku. Darimana asalku. Selain kau tentu akan tahu bahwa aku adalah salah satu miliar umatmu yang lalai dan bodoh karena seringkali melanggar ajaran dan petunjukmu.

Dunia sudah banyak berubah. Dunia sudah terlampau cepat berubah. Sehingga orang-orang muslim sudah tak lagi peduli pada ajaran kekasih Allah. Mereka mengatakan bahwa merekalah orang-orang beriman yang berdiri di laskar paling depan, nyataya mereka tak mencontohmu. Nyatanya mereka menentukan arahnya sendiri. Nyatanya mereka seenaknya sendiri.

Paham ahmadis, paham liberalis, dan paham-paham lainnya membuatku semakin sedih dan kesedihanku memuncak ketika melihat teman-temanku memberangusnya dengan berteriak penuh amarah “Bunuh… bunuh saja mereka…”. Semakin menderas saja air mataku. Dan ketika kesedihan itu mengental dan semakin menyesak, aku tak bisa membendung kemarahanku. Marah karena melihat teman-temanku itu begitu brutal dan tak mencontoh kepribadianmu.

Catatan ‘merindu’ ini adalah salah satu bentuk curahan isi hatiku kepadamu duhai insan yang kurindu. Sudah tak ada lagi muara tempatku berkeluh kesah selain Robbul Izati, sementara masalah umat terus mengalir dari hulu dengan begitu derasnya. Sudah tak ada lagi sesiapa yang sanggup menggedor dan menjebol tanggul kegelisahan dan keresahanku melihat angkara murka dunia. Maka, atas nama rindu yang terus memaksaku untuk mendekat kepadamu, akan aku lanjutkan catatan ‘merindu’ ini.

***

Merindu (31)

Published 27 April 2011 by endangkurnia

Aku ingin hidup tenang, tapi selalu saja ada kekacauan. Ironis memang ketika si pelaku adalah saudara sendiri, muslim. Parahnya, para tokoh agama pun latah bebuat kekacauan. Ada banyak yg berhaji tapi tetap korupsi. Ada banyak ahli agama, tapi tak tahan untuk menipu yg lain. Ada banyak jenis lainnya yg membuatku kebingungan dgn segala kekacauan ini. Dan yg lebih parah lagi aku hanya bisa menggerutu dgn kekacauan yg ada.

Jumlah muslim yg banyak tapi tak mempunyai kemampuan apa-apa, terombang-ambing, persis seperti buih di atas ombak lautan. Saat ini, aku-kita hidup di tengah masyarakat yg memiliki banyak teori dan hafalan, tapi lupa untuk mempraktikannya. Teori saja tak bisa membuat perut kenyang , perut lapar membutuhkan tindakan nyata: makan.

Sang kekasih telah memberitahukan apa yg menjadi penyebab zaman sekacau ini. “Bila masyarakat sudah membenci orang miskin dan menonjol-nonjolkan kehidupan dunia, serta rakus dalam mengumpulkan harta, mereka ditimpa 4 bencana: zaman yg berat, pemimpin yg lalim, penegak hukum yg khianat, dan musuh yg mengancam.”(HR. Ad-Dailimi)

“Kenapa agama diam saja?”. Maka jawabannya adalah agama ditentukan oleh pelakunya. Barangsiapa mengaku Islam yg tak sebatas Islam KTP. Bila agama diam, berarti para pelakunya sudah lupa pada aturan yg dibuat Ilahi sebagaimana yg dicontohkan sang kekasih hati.

Karenanya, bagi Anda yg mencari lowongan pekerjaan maka bergegaslah melamar lowongan pekerjaan ini. Kesempatan untuk menjadi para pemain dgn produser tiada bandin, Allah. Dimana disutradarai oleh Rasulullah Saw. Segera casting, tempat tak terbatas. Daripada merindu dengan menganggur, bergegas melamar jadi aktor atau aktris favorit.

Merindu (30)

Published 19 Maret 2011 by endangkurnia

Masjid ini telah kutapaki, tak hanya kulihat di gambar besar yang ingin sekali kupunyai itu. Kakiku benar-benar berada di halaman masjid Nabawi. Batinku gemuruh, hatiku berbunga, mulutku tak henti-hentinya mengucap, “Allah… Allahumma sholli ‘ala Muhammad.” tanpa terasa air mata ikut keluar ingin melihat pesona masjid ini.

Dinamakan masjid Nabawi karena sang kekasih seringkali menyebut “Masjidku”. Masjid yang terletak di tengah kota Madinah ini membuatku tak kuasa untuk segera menunaikan sholat sunah tahiyatul masjid. Sang kekasih pernah bersabda, “Sholat di masjidku ini lebih utama daripada sholat seribu kali di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.”

Seusai tunaikan sholat. Hatiku berdegup kencang untuk melangkahkan kaki yang selama ini aku ingin sekali kunjungi, peristirahatan terakhir sang kekasih. Aku teringat pelajaran tarikh Islam semasa madrasah dahulu mengisahkan bahwa masjid ini didirikan oleh pangeran hati dan sahabat-sahabat pada tahun pertama hijrah (622 M) seluas 1050 meter persegi. Persis di sebelah barat adalah rumah sang kekasih dulu yang sekarang rumah itu menjadi makam beliau dan termasuk dalam bangunan masjid.

Akhirnya, aku turuti apa yang telah disabdakan sang pujaan hati yakni, “Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa”. Haru dan bahagia rasanya.

Air mata ini terus mengalir di pipi tanpa kusadari, terus mengalir membasahi. Padahal aku pejamkan mata untuk mengurangi derasnya air mata yang menetes, tapi tak bisa. Akhirnya kuputuskan untuk membuka mata agar bisa berhenti menangis. Amat perlahan kusudahi pejaman ini, mataku terbelalak ternyata aku ada di kamar. Aku sadar bahwa tadi hanya bermimpi pergi ke masjid Nabawi.

Allahu Robbiy, sejenak saja aku ingin melepas rindu yang membelenggu ini. Bisakah?. Apakah aku harus tetap merindu…?

***

Merindu (28)

Published 25 Februari 2011 by endangkurnia

“Would you like to some drink, Sist?” tawar sebuah suara merdu beraksen British yang lengket. Aku tergeragap dan mengucek-ngucek mata. Pelan-pelan, bagai lensa auto focus, pandanganku menajam. Seorang perempuan berkerudung merah berdiri dengan mengibarkan senyum. Tangan kanannya memegang poci kopi dan tangan kirinya memegang poci teh. Kedua ujung poci mengebulkan asap tipis-tipis.

“A cup of tea would be lovely,” sahutku. Aku agak memaksa menggunakan gaya orang British yang katanya suka menggunakan kata ‘lovely’.

“Certainly, Sist”. Dia mencurahkan isi poci putihnya ke cangkirku. Aroma teh cammomile yang nyaman meruap, menyentuh hidungku. Aku seruput minuman hangat ini lambat-lambat.

Penerbangan London – Saudi Arabia dengan British Airways sungguh nyaman. Aku tertidur nyenyak hampir 4 jam. Ya, sekarang aku berada di London, bukan di Melbourne. Istiqomah dengan Cambridge University sebagai tempat menimba ilmu guna menjadi ahli linguist. Kalau saja ahli linguist seperti Jack Richard masih ada, aku akan kenalkan kepadanya tokoh yang paling berpengaruh di dunia dengan sejuta sastra dibalik kata dan perilakunya. Dialah, putra Abdullah, cucu Abdul Muthalib, keturunan Bani Hasyim.

Aku amat tertarik dengan Cambridge University yang sering memproduksi buku-buku linguist. Aku akan bangga membawa mukjizat sang kekasih hati yakni Al-Quranul Karim ke Cambridge Univeristy (CU) lantaran Quran yang full sastra. Aku akan membuat thesis dengan sumber referensi utama dari al-Quran sehingga para professor di CU yang menjadi pembimbing thesisku kelak mau tidak mau akan membaca kalam Allah.

Seperti suksesnya aku membubuhi firman Allah dalam pembuatan skripsi disetiap bab walau sempat berdebat terlebih dahulu dengan dosen pembimbing lantaran aku yang keukeuh menambah ayat Quran sebagai hook sebuah bacaan. “When Qur’an based on English writing so it’s never mind” seorang dosen ahli writing membela skripsiku.

Lalu terdengar pengumuman, “This is the Captain speaking. Kita sekarang terbang di atas ketinggian 35,00 feet. Dalam waktu 2 jam lagi, kita akan mendarat di Madinah. Thank You” pengumuman sang kapten mengalir ke personal earphone di kedua daun telingaku.

Beberapa jam lagi, aku akan menginjakkan kaki ke tempat peristirahatan sang kekasih Allah yang terletak di sebelah timur Masjid Nabawi, masjid sang Nabi. Di tempat itu dulunya terdapat dua rumah, yaitu rumah sang pangeran hati bersama ‘Aisyah dan rumah Ali dengan Fatimah.

Sejak sang kekasih hati wafat pada tahun 11 Hijriah (632 M), rumah beliau terbagi dua. Bagian arah kiblat (Selatan) sebagai pusara sang kekasih dan bagian utara untuk tempat tinggal ‘Aisyah.

Sejak tahun 678 Hijriah (1279 M) di atasnya dipasang Kubah Hijau (Green Dome). Dan sampai sekarang Kubah Hijau tersebut tetap ada. Jadi tepat di bawah Kubah Hijau itulah jasad sang kekasih dimakamkan. Di situ juga dimakamkan kedua sahabat, Abu Bakar (Khalifah Pertama) dan Umar (Khalifah Kedua) yang dimakamkan di bawah kubah, berdampingan dengan makam Habiballah.

Aku semakin tak sabar untuk segera menginjakkan kaki di jazirah Arab. Sesegera mungkin melangkahkan kaki di masjid Nabawi untuk melepas rindu dengan sang kekasih hati di tempat peristirahatannya. Akhirnya aku harus tetap merindu…

***

Merindu (27)

Published 13 Februari 2011 by endangkurnia

Turun dari mobil kopayu tepat di lampu merah Jatibarang mataku melihat seorang santriwati dengan rok hitam panjang, kerudung putih plus seragam lengkap dengan logo Lembah Cimanuk Pesantren Al-Fauzy mengajak ingatanku pada masa orde baru. Di masa-masa itulah aku masih menjabat jadi anak madrasah dari salah satu madarasah yang diperhitungkan di Indramayu, hampir 8 tahun aku menimba ilmu agama di sana. Aku sering di sindir ustadz asal Subang, “Kapan santriwati yang satu ini pakai rok panjang kalau mengaji?”. Sekarang rasanya ingin sekali aku memamerkan diri dengan rok panjang di depan Ustadz Muslimin Ali supaya aku tak malu ketika request cerita sang pujaan hati tanpa harus disindir “Para istri Nabi dan sohabiyah tidak ada yang pakai celana”. Apa kabar ya beliau?.

Aku rindu, rindu dengan orang macam ustadz Muslimin. Dengan tulus menceritakan sang kekasih hati pada santriawati yang antri jajan di kantin. Para ustadz dan ustadazah zaman sekarang terlampau milenium menurutku. Terlalu bangga dengan tokoh barat yang dijadikan tokoh pada pokok ceramahnya. Bukannya tidak sepakat membuka mata pada dunia hanya saja aku cemburu kenapa bukan kekasih Allah saja? Bukankah dari non muslim sampai yang muslim sepakat tokoh yang paling berpengaruh terhadap dunia yakni sang kekasih yang namanya kita bahas ini? Aku yakin jangankan para ustadz atau ustadzah, kita – khususnya aku jika ditanya apakah cinta kepada kekasih Allah? Jawabnya pasti “cinta”. Nihil.

Semakin jarang yang mau menyebut nama insan kekasih Allah itu apalagi menyelipkan namanya dalam sebuah kidung irama. Lantunan sholawat dipandang lagu pinggiran lebih keren daripada lagu pop dan jazz. Orang alim yang mumpuni ilmunya mengklaim bid’ah. Ah, aku semakin merana saja bila melihat kejadian ini. Ingatkah?, “Kul inkuntum tuhibunallah fattabi’uni yuhbibkumullah…”, “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Saw) maka Allah akan menhasihimu…”. Al-Imran: 31.

Bagaimana denganmu? Masih istiqomahkah dengan cerita kekasih Allah itu…?

Merindu 26

Published 13 Februari 2011 by endangkurnia

Kasih, aku membayangkan andai saja dulu kau tak pernah mempertanyakan dan mempersoalkan realitas sosial di sekelilingmu, andai saja dulu kau tak pernah merasa jengah dengan anomali-anomali yang terjadi dalam tubuh masyarakatmu, tentu al-Quran tak akan pernah turun kepadamu, kasih. Tentu.

Aku ingin sangat dekat dengan al-Quran. Sedekat rangkulan Jibril dengan punggung sang kekasih tatkala wahyu itu disampaikan. Aku ingin tak berjarak dengan Quran. Aku ingin tak berkarak dengan al-Quran, dengan mukjizatmu itu. Sungguh aku ingin lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa melalui kalamnya, seperti sabdamu, “Sesungguhnya tidak ada yang lebih utama bagi kalian untuk kembali (mendekatkan diri) kepada Allah melainkan sesuatu yang keluar dariNya, yakni al-Quran” (HR.Hakim)

Aku takut kalau kelak di rumahku, al-Quran hanya menjadi pajangan, tak tersentuh, berada sederet dengan buku-buku lain di rak buku milikku, hampir berdebu dan tak pernah dibaca.

Duhai kasih, jika engkau ada di sini maka engkau akan melihat empat belas abad yang lalu sebelum wahyu turun kepadamu, Nampak kembali dan terulang lagi di sekelilingku; pembunuhan, pemerkosaan, perjudian, penganiayaan, pujaan pada berhala, menjadi pemandangan biasa di sekelilingku.

Aku melihat waktu bergerak mundur, kembali pada masa-masa sebelum sang kekasih hati datang dan membawa wahyu yang mencerahkan. Aku ketakutan, takut menjadi salah satu dari mereka yang jauh dan menyia-nyiakan al-Quran. Padahal aku ingin al-Quran menjadi cahaya penerang bagiku nanti. Untuk menemani catatan ‘merindu’ ini yang dibaca sejumlah orang yang menjadi saksi bahwa kami amat merindukanmu, ya Abaz Zahro…

Merindu (25)

Published 30 Oktober 2010 by endangkurnia

Kali ini, aku ingin mengurai rindu lewat kata-kata ‘laut’. Terinspirasi dari ciptaan Allah – laut, saat aku dihadiahi jalan-jalan di sebuah pelabuhan dari orang-orang spesial. Mereka adalah putri sulung dari Bapak Bunadi dan Bapak Sayana. Semoga Allah meridhoi mereka.

Disaat dua gadis itu mencari tahu rute agar bisa melihat laut dari dekat, aku hanya berdiam diri. Diam untuk sedikit berbincang dengan sang kekasih dalam hati.

“Kasih… Sering aku merasa jarak diantara kita terlalu dan terlalu luas. Seluas lautan yang ombak-ombaknya berdebur melantunkan sholawat atasmu dan birunya selalu mengharu biru sepanjang mataku. Aku berdiri di tepian pantainya dengan tetap memandang lautan itu. Menghayati setiap kerinduan selekat riak air pasang yang memeluk mata kakiku.”

Laut sudah terlihat tapi masih terasa jauh. Dua gadis itu menunjuki aku jalan yang menurut mereka benar agar bisa melihat laut dari dekat. Walaupun gagal kami tetap tertawa menikmati senja pemilik Sang Pencinpta. Tepat pada sebuah persimpangan jalan Deli, kami berhenti. Memakan hasil panganan yang mereka bawa sebagai hadiah untukku. Sampai tiba waktu maghrib kami mencari mushola. Mereka sholat sedangkan aku mendapatkan hadiah dari Allah untuk dispen sholat.

Aku kilas balik kembali perjalanan hidupku selama setahun ini di luar mushola.

Beberapa bulan terakhir ini aku merasa payah. Aku begitu naif, dengan bangga mengaku mencintai kekasih Allah namun amat jarang mengirimkan sholawat untukknya. Hanya pada sholat saat tahiyat saja ku bersholawat, itupun karena rukun sahnya sholat. Diluar itu, aku lupa akan sang kekasih. Bukankah kekasih itu paling sering menyebut kekasih yang dicintainya…?.

Kuputuskan, untuk sering kirim salam rinduku pada sang kekasih, bersholawat.

Namun, terdengarkah setiap lantunan sholawatku menuju sang kekasih? Sholawat yang sebenarnya lebih ingin bercerita tentang hari-hariku yang kesepian ditengah riuh ombak dan suara-suara burung di tepi pantai. Sholawat yang mengisahkan kecemburuanku pada sayap-sayap burung yang terbang berputar-putar di atas kepalaku, memimpikan sayap-sayapnya suatu waktu menjadi milikku sambil mengharap bisa belajar terbang mencari setiap celah untuk memperpendek jarak antara aku dan kekasih hati.

Aku selalu memimpikan suatu hari memiliki sepasang sayap itu. Sayap yang akan mengantarkan diriku ke dekat sang pangeran hati yang menempati permadani hatiku. Sayap yang akan mempersempit jarak aku dengan sang kekasih. Kini aku berusaha menumbuhkan sayap-sayap itu dengan sholawat-sholawatku. Berharap suatu waktu sayap itu tumbuh dari punggungku dan menerbangkan ke dekat sang kekasih.

Kini, aku berusaha menumbuhkan sayap-sayap itu lewat lantunan-lantunan sholawatku, berharap diam-diam bulu-bulunya tumbuh setiap hari dari punggungku, menjelma sayap suatu waktu. Hanya lewat sholawat kularungkan rinduku kepada sang kekasih. Hanya lewat sholawat, karena aku tak punya sayap itu. Biarkan aku tetap merindu dalam balutan sholawat.

“Kita beli es krim yuuuk…” ajak salah seorang dari mereka yang membuyarkan muhasabahku. Kita menikmati menu yang dipesan masing-masing. Saat pulang, kami mereview peristiwa di senja tadi yang terasa manis, maniiiiis sekali sampai rasanya legit – aku menggambarkannya. Walaupun begitu, kenanganan manis ini mampu membuat charger untuk hidupku supaya tidak patah semangat tetap merindu kepada sang kekasih walaupun hanya dengan sholawat.

Kuucapkan terima kasih kepada dua gadis tadi, semoga kita bertemu di tempat yang indah bersama sang kekasih hati nanti. Dan tetaplah merindu.

***

Merindu (24)

Published 19 Oktober 2010 by endangkurnia

Aduhai betapa diriku mendambakan lelaki sempurna itu. Tidak, aku tidak berselera kepada lelaki sekarang yang banyak menggoda dan mengobral janji kepada para wanita. Tidak, aku tidak tertarik dengan lelaki tampan zaman sekarang yang tidak mencerminkan ketampanan hatinya. Aku pun malah muak kepada lelaki yang tampan, kaya dan berilmu agama tapi tak berakhlaqul karimah. Bagi anda yang lelaki, bila tak merasa tak perlu tersinggung.

Aku pun sadar, aku benar-benar sadar bahwa diri ini adalah wanita tak sempurna, bagiku dan bagi anda yang mau marilah bersama-sama belajar mencintai lelaki yang dijuluki abal yatim itu dengan belajar amalkan sunahnya.

Bagaimana tidak aku dibuatnya mabuk kepayang lantaran…

“Perilakunya lembut selembut angin sepoi nan sejuk, wajahnya cerah secerah taman yang menyegarkan, perwujudan segala sifat luhur, kasih sayang, namun tegas dalam sikap, kuat dalam tekadnya” (Kitab Simthud-Duror).

Banyak yang menasehatiku, “Kau tak akan mendapatkan lelaki yang membauat Khodijah bertekuk lutut itu di zaman sekarang”. Semakin sering aku mendengar nasehat itu semakin menggebu rindu yang dirasa.

Apalagi ketiaka ada seorang lelaki zaman sekarang yang dengan percaya dirinya mengatakan padaku “Aku pun bernama Muhammad, mengapa kau tak sedikit pun tertaik denganku? Bukankah Muhammad yang kau cintai telah tiada”. Lelaki itu amat lancang. Lancang sekali.

Mendengar lelaki itu berceloteh aku pun mengatakan padanya “Dauniy… Dauniy unajiy habibi wala ta’dzuluni fa ‘adli harom” yang berarti “Tinggalkan… Tinggalkan aku sendiri bersama kekasihku. Jangan kau usik aku karna itu perbuatan haram”.

Siapapun Anda, tolong izinkan aku bercengkrama mesra, menahan rindu menggebu, memadu kasih dalam catatan ‘merindu’ dengan insan mulia kekasih Allah itu. Aku serahkan pada Allah untuk menentukan kisah cintaku dengan lelaki yang tak ada di dunia itu lagi, tapi masih abadi dalam permadani hati ini dengan terus menerus ku sebut “Allahumma sholli ‘ala Muhammad Wa ‘Ala Aliih Muhammad” sampai akhir hayatku akan tetap merindu.

***

Merindu 23

Published 19 Oktober 2010 by endangkurnia

Serupa sebatang pohon yang akar-akarnya kuat menancap kedalam jiwaku. Ranting-ranting dan daun-daunnya tumbuh menjadi kesadaran-kesadaran dan penyesalan-penyesalan atas diriku dan segala perbuatanku selama ini. Tiba-tiba aku merasa malu. Malu pada sang kekasih Robbul Izzati. Perasaan yang seharusnya ku miliki sejak lama. Perasaan yang selama ini hilang dari diriku sehingga tersesat begitu jauh meninggalkan sunah-sunah sang kekasih.

Dompet hitamku hanya cukup untuk pulang kampung saja siang itu. Satu hari lagi aku harus bertahan di kota Cirebon demi sebuah agenda yang berharap imbalannya dapat berjumpa dengan sang pujaan hati kelak. Perut mulai keroncongan saat malam hari, minta dipenuhi haknya karna seharian nasi tak ikut berkontribusi untuk buatkan energi. Ku coba tidur tapi tak bisa. Minum satu-satunya jalan walau hanya bertahan beberapa menit saja.

Serasa paling menderita, aku berprasangka. Aku berwudlu dan tilawah kemudian memadu kasih dengan pujaan hati. Tanganku tergerak untuk membaca sebuah riwayat yang membuatku malu dan menyesal berprasangka bahwa aku paling menderita. Riwayat itu mulai kubaca.

Pada suatu hari ketika sang kekasih Allah menjadi imam sholat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan beliau antara satu rukun ke rukun yang lian terlihat amat sukar. Dan mereka mendengar suara gemeretak seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser satu sama lain.

Umar bin Khatab yang tidak tahan melihat keadaan kekasih Allah itu langsung bertanya setelah selesai sholat, “Ya habibana, kami melihatmu menanggung penderitaan yang amat berat, apakah engkau sakit?”. Beliau menjawab, “Tidak wahai Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”

“Ya Habiballah, mengapa setiap kali engkau menggerakkan badan, kami mendengar seolah-olah sendi-sendi dalam tubuhmu bergesekan? Kami yakin engkau sakit.” Desak Umar penuh cemas. Akhirnya sang kekasih mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut kekasih Allah yang kempis kelihatan dililit sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu itulah yang menimbulkan suara gemeretak setiap kali beliau bergerak.

“Ya Habiballah ! Apakah bila engkau mengatakan lapar dan tak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya untukmu?”

Lalu sang pujaan hati menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apapun akan engkau korbankan demi utusan Allah. Tetapi apa yang harus kukatakan nanti, apabila aku sebagai pemimpin menjadi beban bagi umatnya? Biarlah rasa lapar ini sebagai hadiah Allah untukku, agar umatku kelak tidak akan kelaparan di dunia, lebih-lebih lagi tiada kelaparan di akhirat kelak.”

“Astagfirullahal ‘adziim, kau begitu mulia duhai pujaan hati…” air mataku meleleh.

Terlebih lagi, riwayat itu bermula ketika ‘Aisyah istri beliau meriwayatkan bahwa beberapa bulan tak pernah masak.

Allahu Robbiy…

Seketika itu aku menangis tersedu-sedu, lapar yang kurasa ini belum seberapa dengan pengorbanan sang kekasih. Beliau yang dalam keadaan lapar masih bisa berdoa untuk umatnya agar umatnya tak merasakan lapar yang amat sangat seperti dirinya di dunia dan akhirat. Aku? Aku hanya menahan lapar ini satu hari satu malam saja sedangkan sang kekasih lebih daripada diriku.

Ampuni hamba ya Robb… Rasa lapar ini menghipnotisku menjadi merindu.

***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.