Kali ini, aku ingin mengurai rindu lewat kata-kata ‘laut’. Terinspirasi dari ciptaan Allah – laut, saat aku dihadiahi jalan-jalan di sebuah pelabuhan dari orang-orang spesial. Mereka adalah putri sulung dari Bapak Bunadi dan Bapak Sayana. Semoga Allah meridhoi mereka.
Disaat dua gadis itu mencari tahu rute agar bisa melihat laut dari dekat, aku hanya berdiam diri. Diam untuk sedikit berbincang dengan sang kekasih dalam hati.
“Kasih… Sering aku merasa jarak diantara kita terlalu dan terlalu luas. Seluas lautan yang ombak-ombaknya berdebur melantunkan sholawat atasmu dan birunya selalu mengharu biru sepanjang mataku. Aku berdiri di tepian pantainya dengan tetap memandang lautan itu. Menghayati setiap kerinduan selekat riak air pasang yang memeluk mata kakiku.”
Laut sudah terlihat tapi masih terasa jauh. Dua gadis itu menunjuki aku jalan yang menurut mereka benar agar bisa melihat laut dari dekat. Walaupun gagal kami tetap tertawa menikmati senja pemilik Sang Pencinpta. Tepat pada sebuah persimpangan jalan Deli, kami berhenti. Memakan hasil panganan yang mereka bawa sebagai hadiah untukku. Sampai tiba waktu maghrib kami mencari mushola. Mereka sholat sedangkan aku mendapatkan hadiah dari Allah untuk dispen sholat.
Aku kilas balik kembali perjalanan hidupku selama setahun ini di luar mushola.
Beberapa bulan terakhir ini aku merasa payah. Aku begitu naif, dengan bangga mengaku mencintai kekasih Allah namun amat jarang mengirimkan sholawat untukknya. Hanya pada sholat saat tahiyat saja ku bersholawat, itupun karena rukun sahnya sholat. Diluar itu, aku lupa akan sang kekasih. Bukankah kekasih itu paling sering menyebut kekasih yang dicintainya…?.
Kuputuskan, untuk sering kirim salam rinduku pada sang kekasih, bersholawat.
Namun, terdengarkah setiap lantunan sholawatku menuju sang kekasih? Sholawat yang sebenarnya lebih ingin bercerita tentang hari-hariku yang kesepian ditengah riuh ombak dan suara-suara burung di tepi pantai. Sholawat yang mengisahkan kecemburuanku pada sayap-sayap burung yang terbang berputar-putar di atas kepalaku, memimpikan sayap-sayapnya suatu waktu menjadi milikku sambil mengharap bisa belajar terbang mencari setiap celah untuk memperpendek jarak antara aku dan kekasih hati.
Aku selalu memimpikan suatu hari memiliki sepasang sayap itu. Sayap yang akan mengantarkan diriku ke dekat sang pangeran hati yang menempati permadani hatiku. Sayap yang akan mempersempit jarak aku dengan sang kekasih. Kini aku berusaha menumbuhkan sayap-sayap itu dengan sholawat-sholawatku. Berharap suatu waktu sayap itu tumbuh dari punggungku dan menerbangkan ke dekat sang kekasih.
Kini, aku berusaha menumbuhkan sayap-sayap itu lewat lantunan-lantunan sholawatku, berharap diam-diam bulu-bulunya tumbuh setiap hari dari punggungku, menjelma sayap suatu waktu. Hanya lewat sholawat kularungkan rinduku kepada sang kekasih. Hanya lewat sholawat, karena aku tak punya sayap itu. Biarkan aku tetap merindu dalam balutan sholawat.
“Kita beli es krim yuuuk…” ajak salah seorang dari mereka yang membuyarkan muhasabahku. Kita menikmati menu yang dipesan masing-masing. Saat pulang, kami mereview peristiwa di senja tadi yang terasa manis, maniiiiis sekali sampai rasanya legit – aku menggambarkannya. Walaupun begitu, kenanganan manis ini mampu membuat charger untuk hidupku supaya tidak patah semangat tetap merindu kepada sang kekasih walaupun hanya dengan sholawat.
Kuucapkan terima kasih kepada dua gadis tadi, semoga kita bertemu di tempat yang indah bersama sang kekasih hati nanti. Dan tetaplah merindu.
***