Hidup Lompat Katak
Namaku Endang Kurnia. Tapi orang lebih suka memanggilku dengan nama berbeda bunyi huruf vokal atau homofon menjadi Êndang. Huruf pertama depanku “E” bukan “Ê”. Kalau dibaca huruf depan berbunyi sama dengan huruf dalam kata sat’e’, ‘e’nak dimana kebiasaanya Endang itu cocok untuk kaum hawa. Bukan p’e’das, k’e’cap dan seterusnya yang cocok untuk nama maskulin. Tapi sering sekali orang salah mengeja. Panggilan yang sebenarnya tidak terlalu rela ku dengar. Tapi, sepertinya, orang lebih enak menyebut Êndang, ketimbang harus memanggilku dengan Endang.
Sekali lagi, namaku Endang, kenapa menjadi Êndang? Ah, dasar memang!. Sepertinya, realitas kita memang sudah memicu orang semaunya memilih jalan hidup, termasuk memanggil atau menyebut nama orang. Sekedar satu detik untuk mengatup bibir pada huruf ‘E’ saja sudah tidak mau, apalagi untuk melakukan perubahan. Ah, wajar saja kalau kemudian banyak orang terdidik untuk memilih hidup dengan logika lompat katak.
“Logika lompat katak?” tanya ibuku pada suatu ketika.
“Iya, Bu,”
“Apa itu?”
“Ya, kenyataan kita saat ini, Bu. Hidup mau enak, punya uang banyak, nilai kuliah pengen bagus, tetapi kerja keras dan belajar tidak mau. Akhirnya menjalani hidup selalu potong kompas, menyuap, menyogok, membunuh, merampok. Dan Anehnya, Bu. Hidup seperti katak ini bukan saja dilakoni oleh orang bawah, tetapi juga para atasan kita.”
“Ah, masa begitu, Nak?”
“Bener, Bu!” jawabku meyakinkan.
“Kalau tidak percaya, coba ibu liat tv. Politik uang marak sekali, sampai-sampai keluar istilah cicak versus buaya. Dan ada lagi Bu, Gubernur bagi-bagi uang siluman.”
“Lho, itu kan demi kebaikan, Nak.”
“Kebaikan apa, kebaikan untuk LPJ-nya. Besok atau lusa, kita dibuatnya lapar lagi, Bu. Ada juga, mahasiswa yang ingin nilai bagus eh pas ujian tanya sana tanya sini untuk menimbun jawaban tanpa berusaha untuk belajar. Itu sama saja potong kompas, sama seperti hidupya katak. Lompat sana-lompat sini. Jadi mereka itu, Bu, tak ubahnya seperti katak.”
“Hus, jaga mulutmu!” hardik ibuku rada marah.
Ibu, kembali mengupas buah mangga. Aku masih bercerita tentang apa saja, yang aku suka.
Tidakkah Endang Kurnia Lelah Berdosa
Kalau Endang Kurnia masih terus menerus berdusta, terbuat dari apakah lidah ini sehingga teramat hebat merangkai kata-kata indah menutupi kebenaran, menyembunyikan hakikat, mengedepankan kepalsuan.
Padahal sekali saja berdusta, sudah sedemikian lelahnya aku berpikir untuk mencari segudang alasan baru untuk dusta berikutnya, sudah sebegitu kelunya lidah ini terpaksa menari mengikuti irama gendang kepalsuan yang tak hentinya bertabuh.
Jika Endang Kurnia masih mencaci, menghina, menggunjing, berprasangka buruk dan menjelek-jelekkan saudaranya, sekuat apa penciuman dan mulut ini karena pada saat itu aku seperti tengah memakan bangkai saudara sendiri.
Seandainya Endang Kurnia masih tak hentinya berlaku sombong, angkuh dan takabbur, sebesar apa diri ini sehingga sangat lancang menantang kebesaran Robb alam semesta, dan sekuat apa tubuh ini kelak menanggung akibat dari kesombongan.
Sekiranya tetap hidup manusia seperti Endang Kurnia yang enggan menyisihkan sebagian harta yang dimiliki, sementara bertebaran di seluruh penjuru bumi Allah ini anak-anak yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang lemah, apakah aku berpikir bahwa semua itu diperoleh murni dari hasil jerih payahku? Tak pernahkah aku tahu bahwa semua yang ada padanya itu adalah atas kehendak Allah Sang Pemberi Rizki? Yang seandainya Dia berkehendak, dengan sangat mudah pula Dia mengambilnya?
Umpamanya masih hidup orang-orang yang seperti Endang Kurnia gemar berbuat maksiat, bangga dengan dosa-dosanya, setebal apa kulit ini menahan api neraka Allah, sekuat apa tubuh ini menerima adzab Allah yang tak pernah berhenti.
Tidakkah engkau lelah melakukan dosa, wahai Endang Kurnia….???!!
Mereka Sebenarnya Mengajarkan Kita
Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dia
berdusta padamu. Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya. Saat kau memberikan
perhatian, dia tidak menghargainya. Hal yang sangat mengecewakan adalah kau dibutuhkan
hanya pada saat dia dalam kesulitan.
Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu! Sebenarnya hal-hal yang kau alami
sedang mengajarimu. Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu
atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan, sebenarnya dia telah mengajarimu
agar kau tidak berperilaku seperti dia.
Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang kesulitan sebenarnya juga telah mengajarimu
untuk menjadi orang yang arif dan santun, kau telah membantunya saat dia dalam kesulitan.
Hal yang menyakitkan adalah saat kau mencintai seseorang dengan tulus tapi dia tidak
mencintaimu, sebenarnya hal ini sedang mengajarimu untuk RIDHA menerima takdir-Nya.
Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan
orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan. Dan betapa tidak
menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak diperdulikan/dicuekin atau
bahkan dicaci dan dihina. Sebenarnya orang-orang tersebut sedang mengajarimu untuk
melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan
mengajarimu untuk tidak berperilaku seperti itu.
Mungkin ALLAH menginginkan kau bertemu orang dalam berbagai macam karakter yang tidak
menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu
dan kau harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan
sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.
Mencari Kebahagiaan Hidup
“Apakah kita juga, Kurnia?”, ”Juga apa, Endang?”, “Hidup bahagia selamanya?”. Sebuah senyum, separuh sedih, separuh lembut, menyingggung lamat-lamat di sekitar mulutnya. “Mungkin,” katanya, merenung. “Semuanya tergantung.” “Pada apa, Kurnia?”. “Pada dirimu sendiri, Endang” jawabnya hening.
Walaupun usia puncak telah kita lampaui, dinamika kehidupan akan terus berjalan, dan semuanya tergantung padamu. Perjalanan akan terus maju. Kaki kita telah hampir tiba di persimpangan pada jalan eksistensi. Maka yang diperlukan adalah usaha kita untuk tetap eksis. Renungkanlah apa yang telah kita tuntaskan dan bersyukurlah, namun jangan merasa puas dulu. Bertekadlah untuk meraih target lebih banyak lagi, Insya Allah kita akan mendapatkan apa yang telah kita usahkan. Begitulah Allah memberi semangat kepada kita dalam Al-Quran. “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS.33:39).
Kau tahu motto hidupku? “Aku mau”. Dan dua kata sederhana itu telah membawaku melewati gunung kesulitan. Begitulah kata R.A. Kartini. Membuat suatu peradaban dengan tekad dan kemauannya yang patut direnungkan untuk sesiapa yang mau melakukan suatu peradaban demi sebuah kehidupan. Where there is a will, there is a way. Hanya satu kata kuncinya, “mau”.
Lihatkah diri kita, sudahkah kemauan tertanam dalam sanubari terdalam untuk melakukan hal yang dapat meninggikan derajat kita. Karna, tak seorangpun punya hak untuk merendahkan kita, kecuali kita mengizinkannya. Mulailah berpikir positif lantaran pikiran positif memberikan cahaya untuk menatap indahnya kehidupan. Hidup itu lebih mudah dari yang kita bayangkan. Yang harus dilakukan adalah menerima yang mustahil, melakukan dengan tidak merasa diri penting, dan menanggung yang tak tertanggungkan. Ku ingin tahu apa kau dapat hidup dengan kegagalan?. Milikmu dan milikku tetap berdiri di tepi danau. Tidak menarik bagiku siapa yang kau kenal atau caranya kau sampai ke sini. Aku ingin tahu, apakah kau mau beridiri di pusat api denganku dan tidak menciut untuk mundur.
Belajar tentang kehidupan tidak cukup hanya dengan kebahagiaan saja, kegagalan harus kau telan juga. Jangan takut. Karena tiap orang bisa mencapai sukses asalkan ia memiliki tujuh K: Kemauan, Kesempatan, Keberanian, Keberuntungan, Kerja-Keras, Kepercayaan kepada Allah Swt yang telah didefinisikan oleh-Nya di Lauful Mahfudz dengan takdir berbeda bagi tiap orang. Untuk K terakhir adalah Kejujuran. Lantaran tidak ada tempat yang lebih aman untuk bersembunyi selain ruang kejujuran.
Kesemuanya, dilakukan manusia atas nama ‘kebahagiaan’. Makna kebahagiaan hakiki terkandung hanya dalam momentum hari ini. Nikmatilah berkah kekuatan detik ini. Terakhir, aku akan katakan kepadamu sesuatu yang aku temukan sendiri. Bagiku, berjalan kaki jauh, lima atau empat mil sangat membantu. Dan hendaknya kita lakukan seorang diri dan tiap hari. Mulailah berusaha untuk suatu kebahagiaan hidup.
Tentang Diriku
Inilah kisah tentang seorang diriku. Yang tidak mempunyai apa-apa selain tubuhku ini. Sang sosok yang tidak mempunyai tempat dimana-mana selain tempat aku berdiri, duduk atau tidur pada detik ini. Memang sulit bagi seseorang untuk melihat kedalam diri sendiri, karena dengan demikian akan terlihat semua kelemahannya. Aku ingin masuk lagi ke dalam diri agar aku lebih tahu kelemahanku sekaligus memompa kelemahan itu menjadi kekuatan pada diriku. Aku dipesan oleh ibu untuk tidak terpaku pada titik sebagai syariat, tapi harus berusaha melangkah menuju derajat hakikat dan makrifat.
Keterkejutanku pada kata-kata pertama merebak keluar. Kebenaran menghambur dari celah di dalam suara yang tertatih. Dari karang malam kenikmatan manakah ku mampu mereguk kebenaran ini. Sang bawah sadar mendambakan kejujuran. Bawah sadar berhenti berbicara kepada mereka yang menginginkan hal lain, yang bukan kejujuran.
Tanpa gairah, kehidupan sama sekali tidak terhidupi. Gairah seyogyanya hadir dalam tiap diri seorang manusia tanpa terkecuali diriku ini. Baik secara emosional, spiritual maupun fisik. Percayalah pada suara kecil dan hening itu yang mengatakan, “Mungkin saja ini akan berhasil dan karena itu aku akan mencobanya.”. Gemuruh batinku menyeruak untuk menyemangati diri untuk tetap berusaha hidup. Duhai sesiapa yang membaca tentang diriku ini, ku mengundang dirimu: Mari kita ciptakan sungai, membanjiri kota ini dengan bangunan hasrat, dengan api, dengan api revolusi. Selalu bangunlah dari yang tidak ada menjadi ada.
Aku mampu percaya pada yang mungkin. Aku luar biasa memvisualisasikan bukan pada apa yang mungkin dilakukan atau hal-hal yang dapat terjadi, tapi pada apa yang tidak mugkin. Dengan memvisualisasikan yang tidak mungkin maka aku melihatnya sebagai mungkin. Ku coba ingat-ingat akan apa yang ada sebelumnya dan melatih diri untuk menebak apa yang mungkin terjadi. Seluruh kemungkinan.
Dalam diam, ingin aku merenda sejenak. Seperti gerimis perlahan yang menyentuh. Aku tidak bisa lari dari ketakutan. Aku cuma dapat mengubahnya menjadi teman yang mendampingi dalam seluruh petualanganku yang seru. Ku ambil satu resiko sehari, suatu sayatan keberanian yang akan membuatku merasa hebat setelah melakukannya. Maka keadaan memaksaku menjadi berani pada awalnya. Selebihnya, tak kan kujadikan keadaan yang membuatku tak berani. Temanku yang benama ‘ketakutan’ perlahan berubah nama menjadi ‘keberanian’.
Hidup adalah bentuk ketidakpastian, tidak mengetahui apa yang berikutnya terjadi, maupun bagaimana caranya. Bagiku, mengapa mengikuti setapak yang telah dijajaki sementara aku bisa membuka jalan sendiri untuk sebuah kehidupan?.
Diriku yang hanya bermodalkan tubuh mengarungi kehidupan ini dengan tubuh berbagai fasilitas yang ada tentunya. Dengan menerima tanggung jawab menjadi hamba Tuhan sama dengan menerima semua yang terbaik yang ditawarkan kehidupan. Aku selalu berusaha berjalan tegap dan cepat. Manfaatnya selalu menunjukkan rasa percaya diri dan juga meruapakan olahraga buatku sehingga aku selalu merasa sehat. Aku tidak memiliki kesepakatan yang langgeng dan terberi dengan tubuhku. Tidak pula dengan bahasaku. Namun, jika tubuhku memasukinya, mengarunginya, dan hidup di dalam bahasa tersebut, baru aku mampu melihat makna. Bahasa tubuh sangat besar perannya, menggantikan atau menyertai kata-kata. Letak persoalannya adalah seberapa jauh aku mampu menempatkan diri ini di dalam konteks hidup, rasa dan bahasa orang lain?.
Gamang dan ketakutan, aku membisu untuk waktu yang lama sekali. Namun seraya kekurangan makanan berubah menjadi kelaparan, aku dipaksa untuk berbicara. Perbendaharaanku terkunci karena kelaparan bukan akan makanan. Tetapi lapar akan secercah penjernihan qolbu. Dengan nada lirih ku berdoa, “Ya Allah, berilah aku kekuatan untuk tidak dikuasai frustasi dan amarah melainkan memilih cara yang lebih konstruktif dan lebih baik”. Kadang, hal yang paling penting yang aku lakukan sepanjang hari adalah jeda yang aku ambil antara dua nafas panjang atau berpaling ke dalam untuk berdoa lima menit yang singkat untuk lima hari dalam sekali demi kejernihan tubuh dan jiwaku sebagai modal kehidupanku. Inilah sepenggal ceritaku akan kehidupan.
Sesungguhnya Inilah Aku Adanya
Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kebodohan, kemudian Dia beri aku lentera ilmu.
Sesungguhnya aku temui diriku dalam kelemahan iman, fisik dan mental, kemudian Dia beri aku keteguhan dan kekuatan.
Sesungguhya aku dapati diriku dalam kesesatan dan kejahiliyahan, kemudian Dia memberi aku petunjuk.
Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kegelapan, kemudian Dia beri aku cahaya.
Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kebingungan, kemudian Dia beri aku jalan keluar.
Sesungguhnya aku dapati dirku dalam kehinaan dan kerendahan, kemudian Dia beri aku
kemuliaan dan izzah serta iffah.
Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakekat
kemanusiaanya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang lebih baik bagi tanah air di bawah naungan
Islam yang hanif.
Mimpi-mimpiku hari ini adalah kenyataan hari esok. Yang akan aku wujudkan dengan kerjasama dan azzam yang mantap. Kemudian bumi yang merana ini akan aku cerahkan dengan kesegaran embun fikrah yang aku miliki. Yang berkuasa tidak akan selamanya dipucuk pimpinan. Yang lemah tidak akan selamanya di bawah. Yang berjuang akan menuai hasil gemilang dan berkah, aku pun terus bersiap untuk turut ambil bagian dalam perjuangan itu.
Fikrahku ini akan menang jika kita memiliki iman kuat, tulus dan ikhlas, serta semangat yang berkobar dalam berjuang. Seorang pejuang memiliki empat ciri khas, yaitu iman, ikhlas, semangat dan amal. Dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas adalah hati yang suci murni, landasan semangat adalah perasaan yang kuat, sedangkan amal adalah tekat yang selalu segar.
Akan kupegang terus azzamku ini, karena sesungguhnya sholatku, ibadahku, dan matiku hanyalah untuk Allah Swt, Robb semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku ingin termasuk orang-orang yang berserah diri.
Inilah Hidup
Hidup ini memang menyajikan berbagai cerita dan berbagai fenomena yang menakjubkan. Tak terbayangkan. Seorang ayah yang dia hanya bisa bekerja dan bekerja bagi keluarga, kemiskinan yang menimpa mereka itu adalah garis hidup yang mustahil diubah (anggapan mereka).
Di sisi lain, seorang remaja yang hanya memikirkan bagaimana tampil cantik dan menarik. Mereka tak berpikir bahwa hidup ini menuntut orang untuk berjuang, dan ada orang di luar sana yang hanya bisa merenungi dan menerima nasib menjadi orang yang tidak beruntung. Ada juga orang yang hanya bisa memperhatikan, mengamati dan berusaha menghibur mereka yang merasa kurang beruntung.
Inilah hidup. Sekali lagi, inilah hidup. Dunia memang aneh. Allah menciptakan semua ini pasti memberikan pelajaran yang berharga, bagi orang-orang yang berpikir. Islam mengajarkan umat manusia untuk berzuhud terhadap dunia, qonaah (menerima) dan istiqomah sebagai napak tilas di jalan surga. Inilah salah satu fenomena hidup yang sempat terekam oleh mataku…
Ketika kutelusuri jalan menjelang maghrib, kulihat laki-laki 30-an sedang mendendangkan sebuah lagu di sebuah restoran mewah tampak orang-orang di sana ada yang acuh, ada sedikit memberi perhatian. Pernahkah dibayangkan bagaimana perasaan laki-laki itu tatkala melihat orang-orang yang kelihatannya lebih sukses dari dia? Pernahkah terpikir oleh kita apa yang terlintas dalam benaknya takala menyadari mereka lebih beruntung darinya?
Aku juga tak tahu itu, aku juga tak tahu seberapa besar kekuatan kesabaran, keikhlasan dan kepasrahan yang ada di benaknya. Aku juga tak tahu di mana di menyimpan keping-keping kesombongan dan rasa malu. Aku rasa dia sudah mampu berdamai dengan takdir. Dia orang yang tegar di jalan kehidupan. Ya… Merekalah pahlawanku masa kini.
Kata orang pahlawan adalah orang yang rela mengorbankan harta, jiwa dan darah yang dimiliki untuk kepentingan bangsa dan Negara. Pahlawan adalah orang yang tidak membebani Negara dan mampu mengangkat derajat bangasa di mata dunia.
Tapi entah kenapa menurutku pahlawan di masa kini bukan seperti definisinya tepatnya untuk kasus yang satu ini. Pahlawan masa kini bukan lagi orang yang rela mengangkat senjata dan mengorbankan nyawa. Pahlawanku bukan pula para politikus, pejabat pemerintahan ataupun superman, batman dan spiderman. Pahlawanku adalah pahlawan yang rela pergi pagi pulang sore. Dengan berbekal keikhlasan dan keyakinan bahwa nanti sore dia akan membawakan sesuatu untuk keluarganya. Merekalah pahlawna masa kini ku. Yang hidup sederhana, tanpa membenani orang lain. Yang hidup pas-pasan tanpa membebani Negara dan tak mengemis surat pembebasan utang pada Negara.
Inilah aku, sedangkan kamu, kamu siapa?
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (QS. An-Nahl, 16: 30-31
Kaya di dunia ya penting dong
Hidup lompat katak, lucu tapi dalem maknanya. Pengalaman pribadi nih?. Syarat dengan kritikan dengan gaya bahasa sehari-hari.
@ Arif, yupz pengalaman pribadi. Beberapa dosen sering salah manggil namaku… ini nama khan do’a orang tua… setuju ga?
@ Syah Roni, kenapa menolak jadi muslim hartawan…? Asal bisa menjalankan amanah sebagai orang kaya aja…
Teh endang suka nulis ya? Bagus2 lho tulisannya. Oya teteh khan pernah juara 1 karya ilmiah. aku boleh nanya2 ga teh?
Semua orang sepertinya suka nulis, buktinya banyak yg punya facebook,he..
Ya pernah, nanya apa..? jangan yg susah ya…
Kapan ada lomba karya ilmiah lagi? nanti kalau ada tolong kasih tau ya mbak, terus tolong diajarin terus dibimbing terus eh belok ding,,,hehehe