Beberapa hari terakhir ini, handphoneku sering berdering menandakan sms dan panggilan masuk. Bukan tawaran bisnis dari investor atau rayuan manis dari ikhwan kesepian tapi deringan handphone itu membahas tentang sebuah perbedaan dalam Islam. Aku yang melihat saja sampai dibuat menangis karena masing-masing pihak ngotot membenarkan pilihannya sampai-samapi melakukan tindakan anarkis jika lihat berita. Karena itulah, aku coba mengurai catatan tentang perbedaan dengan harapan belajar bijaksana menyikapi perbedaan.
“Jauhkanlah lisan kalian dari kaum muslimin, dan jika salah seorang dari mereka meninggal dunia, maka katakanlah kebaikan tentangnya.” [HR. Atthabarani dari Sahl ibn Sa'd Assa'idi].
Di antara semua orang yang kamu kenal, mau tak mau pasti ada yang berbeda pemikiran dengannmu. Saat kamu berpikir A, dia berpikir B. Saat kamu berpendapat untuk berjalan ke barat, kawanmu bersikeras untuk menuju arah timur. Potret kecil ini, berlaku bagi semua keadaan: politik, agama, sosial, di segala lini pasti terjadi sebuah perang pemikiran dan pendapat. Dan ini adalah hal lumrah: Kata orang, karena tiap manusia mempunyai otak sendiri, wajar jika berbeda!
Tentu wajar juga, jika dari sini kita melihat orang yang mempertahankan pendapatnya merasa emosi dan marah melawan orang yang tak menyetujuinya. Ini semacam mempertahankan diri, mempertahankan pemikiran, tak ingin di anggap salah. Ya, ini pun naluri sekali, naluri manusia.
Tapi, satu hal yang harus kita pegang erat saat ada seorang yang berseberangan: Tahan mulutmu dari mengecam pribadi! Seorang muslim akan selalu menghormati orang muslim lainnya, apapun perbedaan antara keduanya. Lagipula, di sebuah hadits dikatakan, “Mengecam seorang muslim adalah sebuah kefasikan!” [HR. Bukhari dan Muslim]. Tentu, dengan syarat muslim tersebut tak menyalahi aturan akidah yang menyebabkan kekufuran. Lagipula, selama itu hanya perbedaan pemikiran biasa yang tak berhubungan dengan agama, apa gunanya saling mengecam?
Dengan hadits di atas, kamu tentu bisa memahami bagaimana seharusnya kita menghormati sesama muslim, tanpa melihat perbedaan pendapat. Boleh kita berbeda pendapat, tapi tak boleh kita menyakiti hati orang lain, atau menurunkan derajat orang lain, atau malah meremehkannya. Dan lebih jauh lagi, bahkan kita disuruh menyebut kebaikan seorang muslim yang telah meninggal. Setidaknya, itu karena tiga hal: Pertama, karena dengan mengumpat mayit, kamu beresiko menyakiti kwluarga si mayit yang masih hidup! Kedua, apa kamu tahu, bahwa dosa mayit yang kamu umpat mungkin sudah dimaaf? Ketiga, seperti apapun umpatanmu, itu tak menjadi ukuran timbangan amalannya kelak. Malah, umpatanmu akan menjadi pemberat timbangan amal burukmu!
Kalaupun mengecam harus dilakukan, maka kecamlah pemikiran atau pendapatnya, bukan mengecam pribadi muslimnya. Seperti inilah yang terjadi diantara ulama kita dimasa lalu. Mereka biasa berkata dalam kitab-kitab karangan mereka, “Imam Fulan, semoga Allah meridlainya, berkata ‘begini-dan-begini’, tentu ini adalah perkataan yang sungguh tak benar dan jauh dari Islam…” Hei, barusan ia berkata “Imam” dan berdoa “Semoga Allah meridlainya,” tapi diakhir kalimat ia mengkritik habis! Ya, yang dikritik adalah pemikiran, bukan pemikirnya! Mereka faham, bahwa tak boleh meremehkan seorang muslim pun!
Menghormati muslim lainnya, bisa kita dasarkan pada sebuah ayat yang berkata, “Barang siapa menghormati syiar-syiar Allah, maka itu adalah dari ketakwaan hati.” [22:32]. Yupz, setiap muslim membawa kata La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah dalam hatinya, meski berbeda-beda kualitas amalnya. Nah, hormati kalimat tauhid yang ia yakini dalam hatinya! Lagipula, jika kamu mau cek surat 5:54, kamu akan mengetahui bahwa sifat tiap muslim yang dicintaiNya dan mencintaiNya, adalah selalu tawaddhu dengan setiap muslim. Selalu menghormati tiap muslim!
Dan seperti inilah yang dulu terjadi semasa Rasulullah. Suatu ketika, Rasul memerintahkan pasukannya untuk menuju Bani Quraidlah, dan berkata, “Jangan seorangpun shalat ashar kecuali di Bani Quraidlah!”. Di tengah perjalanan, sebagian pasukan berpendapat, “Kita shalat sekarang! Rasul berkata demikian, hanya agar kita mempercepat perjalanan!” Sebagian lainnya berpendapat, “Kita harus tetap shalat di Bani Quraidlah, meskipun waktu ashar telah terlewat. Ini perintah Rasul!” Tanpa cekcok, setiap kelompok pun menjalani pendapat masing-masing, karena setiap kelompok mempunyai dalil masing-masing.
Saat Rasul diberitahu tentang hal ini, beliau pun tak menyalahkan salah satu kelompok pun!
Ya, itu potret perbedaan pendapat dalam agama, yang sama-sama bersandar pada dalil. Sama sekali tak terjadi pertikaian, apalagi saling mengolok. Bagaimana jika hanya perbedaan pandangan antar sahabat?
Jadi, beberapa hal yang harus kita perhatikan:
- Perbedaan adalah hal yang wajar terjadi. Yang tak wajar, jika ada yang ingin menutup mata dari perbedaan itu!
- Boleh terjadi perbedaan, tapi jangan sampai terjadi penghinaan atau olokan. Apalagi berbohong tentang harga diri orang lain.
- Menyakiti hati orang lain, pun bahkan terjadi saat kamu mencemooh orang mati. Atau dari banyak cara lainnya. Hati-hati!
- Menghormati tiap muslim adalah sebuah hal yang timbul dari sebuah ketakwaan.
Coba bayangkan, bila ditengah peperangan dan perbedaan pemikiran yang kini ramai terjadi di kalangan ummat muslim, lantas semua mempraktekkan pemahaman ini. Pasti begitu indah!
Ehm, bagaimana jika kita mulai dari diri kita sendiri?