Aku sudah menaiki sepedaku yang berwarna ungu, sepeda yang menjadi saksi aku tamatkan Sekolah Menengah Atas di samping desa.

“Bonceng ya…” pinta Kari.

Aku menganggukkan kepala dan berkata, “Ada syaratnya, asal…”

Sepertinya Kari sudah hafal maksudku. Dia terbiasa dibonceng dan dia pula yang mengayuh, tugasku hanya pegang setir sepeda saja. Bila dilihat tugasku lebih ringan daripada Kari, tapi menurutku lebih enak Kari karena tempat duduk lebih empuk ketimbang tempat dudukku. Ah, sama saja mungkin.

Sepertinya Kari pasrah kemanapun aku membawanya jalan-jalan.

Panasnya sore ditemani angin berhasil menyingkap kain pada lengan tanganku. Aku masih ingat, waktu sore seperti ini sering aku habiskan bersama ayahku dulu hanya untuk menghabiskan 1 liter bensin, jalan-jalan tanpa arah tujuan. Bukan berlaku boros, tapi beginilah cara aku dan ayah membuka hati. Dengan sendirinya kami akan mencurahkan beban hidup yang dirasa selama di perjalanan dengan kecepatan yang bisa dikatakan lambat.

“Astagfirullah…” aku terhentak kaget ketika Kari memegang pinggangku.

“Pegang setir dilarang ngelamun…” Kari mengingatkan.

“Sini, aku saja yang kayuh sepeda. Pegangan yang erat” aku perintahkan Kari.

Aku kayuh sepeda dengan sekuat tenaga sehingga membuat pegangan Kari semakin erat dan kudengar teriakan paniknya.

Terasa lelah lantas kemudian berhenti. Aku letakkan sepeda di bawah pohon pisang dan aku duduk di samping sepeda.

“Aku pikir kau akan mengajakku ke bendungan air di tengah sawah, pemandangan disana kan indah. Tempat itu adalah favoritmu yang kau bilang tempat paling romantic tapi gratis. Tapi kok di samping jalan raya sih…?”

“Capek tau…” aku mengibas-ngibaskan dedaunan ke wajah.

“Ah, payah…” Kari cemberut kemudian duduk di sampingku agak jauh.

Lama kami tak saling bicara. Dan aku masih mengatur nafasku yang tersengal-sengal mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi.

“Rini…” Kari memanggil namaku tanpa menoleh padaku. Aku pun tak menyahut, hanya menatapnya saja.

“Rin…” Kari memanggil namaku lagi. Kali ini ia menatapku, ia baru tahu jika sedari tadi aku tengah memperhatikannya kemudian ia tersipu malu.

Sepertinya Kari sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan sebuah kejujuran.

“Saldo tabunganku habis…” ucap Kari datar.

Aku masih belum berani berkomentar, ingin tahu cerita selanjutnya.

“Uang yang kusimpan di Bank sejak SMA untuk membuat perpustakaan gratis setelah menamatkan S2 saldonya sudah habis. Jangankan perpustakaan gratis, S1 saja belum aku rasakan” guliran bening keluar dari matanya, Kari menangis tanpa sadar sambil menunduk.

Aku menghirup nafas lebih dalam setelah mendengar cerita Kari secara lengkap dan aku buang nafasnya pelan-pelan, amat pelan sehingga tak membuat Kari terusik.

Aku bingung harus berkata apa, jujur aku tak bisa membantu wujudkan mimpinya. Sehingga membuatku bernyali ciut untuk mengatakan sesuatu. Dan aku semakin bersalah tidak mengajaknya ke tempat yang membuatnya merasa tenang. Aku malah berhenti di pinggir jalan raya dengan sebatang pohon pisang ini, jujur lelah bukan kepalang sehingga membuatku berhenti di sini.

“Uang tabungan sudah kugunakan untuk melunasi hutang-hutang ibu dan bapak, sisanya sedikit demi sedikit terkuras untuk keperluan hidupku yang sebatang kara”

Semakin miris saja aku mendengarnya, “Ya Allah….” Aku hanya bisa menjerit dalam hati mendengar penderitaan sahabat yang dua tahun tak kutemui ini. Aku menatap ke atas berharap dapat menatap biru dan putihnya awan tapi sayangnya harapanku tak terpenuhi karena pohon pisang yang ada di sebelahku itu berdaun lebar sehingga menutupi pandanganku menerawang ke atas langit. Tapi aku tetap berusaha mencari celah untuk bisa menatap awan. Namun tetap tak bisa karena pandanganku lurus tak mau melirik ke kanan dan kiri, pandangan lurusku ingin langsung tembus melihat awan. Karena tak kesampaian akhirnya mau tidak mau aku menatap pohon pisang itu. Dan……

“Masya Allah, Ka… Tak ada yang tak mungkin, kun fayakun-nya Allah itu memang ada…” ucapku terpesona.

“Maksudnya…?” Kari terheran-heran dengan ucapanku.

“Ka, teruslah berharap dan berusaha karena jika Allah bilang ‘jadi’ maka ‘jadilah’. Semuanya Allah yang mengatur. Allahu akbar…” aku masih melihat pohon pisang itu dengan takjub.

Rupanya, perkatakaanku membuat Kari duduk mendekat padaku dan bertannya, “Kau sedang apa?”

“Allah yang berkehendak, Ka…” aku masih tetap terpesona.

“Lihat, perhatikan pohon pisang ini. Apa yang terjadi?”

“Allahu akbar…” tak sadar kita takbir secara bersamaan.

“Aku yakin pohon pisang ini tidak bermimpi dapat berbuah mangga. Mau dikatan apa jika Allah berkendak lain. Aku tambah yakin jika Allah berkehendak kau bisa wujudkan mimpi maka terwujudlah, teruslah berharap…” aku berkata mengalir begitu saja.

Aku memberikan senyuman terbaikku untuk Kari sebagai sebuah penyemangat. Kari pun membalas senyumanku dengan mengusap air mata di pipinya.

“Iya, aku akan terus berharap dan berdoa pada Allah…”

Ketika ada seorang bapak lewat mengayuh sepeda dengan menenteng cangkul membuatku berteriak, “Pak berhenti

pak… coba lihat pohon pisang ini, buahnya mangga…”

Bapak bepakaian baju yang kotor akibat lumpur itu dengan enteng mengatakan, “Sudah lama itu…” sambil berlalu lewat di depan kami dan pohon luar biasa ini.

Kari tertawa melihat ekspresiku yang malu bukan kepalang.

“Rin, makasih ya… Kau memang charger buatku” Kari memegang tanganku erat sambil tersenyum.

“Pohon ini akan menjadi saksi aku untuk kembali berdoa dan berusaha tuk memulai lagi wujudkan mimpi. Jujur aku juga baru tahu…”

Aku tersenyum, akhirnya bukan aku saja yang baru tahu pohon pisang luar biasa ini.

“Kau adalah orang kedua setelah ibuku yang akan mersakan gaji pertamaku…” hanya itu yang bisa aku katakan.

Tiba-tiba Kari memelukku, “Semoga kau disayang Allah…”

***