Episode: Tawaran kerja keluar Negri
Dia adalah seorang gadis jawa bernegara Indonesia, berasal dari keluarga yang terjaga, akan tetapi dia penganut Kristen ortodok yang sangat fanatik.
Seorang “Saudagar” Indramayu menawarkan kepada gadis itu untuk pergi dengan beberapa wanita ke negara Saudi Arabia guna mengambil suku cadang elektrik yang akan dijual di Arab. Ini tujuan yang telah disepakati oleh “saudagar” dan wanita-wanita itu. Ketika mereka tiba disana, si “saudagar” memperlihatkan kepada konco-konconya. Dia menawarkan kepada mereka praktek yang hina dan juga menawarkan bujukan-bujukan, dengan harta yang cukup, hubungan yang luas, sehingga kebanyakan para gadis merasa puas dengan pikirannya. Kecuali gadis ini, ia sangat fanatik kepada Agama nashroninya, maka ia menolak. Si saudagar mentertawakannya dan berkata: “Engkau terbuang di negri ini, tidak ada yang engkau miliki kecuali hanya pakaian di badan dan aku tidak akan pernah memberimu sesuatupun”.
Mulailah gadis itu merasa susah. Ia tinggal di rumah bersama para gadis lainnya. Paspor mereka disembunyikan oleh “si saudagar”. Semua gadis itu sudah terbawa arus oleh trend namun ia tetap menjaga kesuciannya. Setiap hari ia terus mendesak kepada “saudagar” itu agar memberikan paspornya atau ia minta dipulangkan kenegaranya. “Saudagar” itu menolak permintaannya. Pada suatu hari si gadis mencari paspornya di dalam rumah, sehingga ia mendapatkannya. Namun laki-laki itu mengetahuinya lalu merampasnya, kemudian gadis itu melarikan diri dari rumah, ia keluar menuju jalan. Tidak ada yang dia miliki kecuali hanya pakaian di badan, pikirannya menerawang, tidak tahu kemana ia akan pergi, tidak ada keluarga, tidak ada kenalan, tidak punya uang, tidak ada makanan dan tidak ada tempat tinggal. Jadilah si gadis miskin bolak-balik penuh kebingungan.
Tiba-tiba gadis itu melihat seorang pemuda yang berjalan dengan tiga orang wanita. Dia senang dengan kemunculannya. Lalu dia menemuinya, memulai berbicara dengan bahasa Indonesia. Pemuda itu minta maaf karena dia tidak paham dengan bahasa yang digunakan si gadis.
Gadis itu berkata, ”Apakah kamu bisa berbicara dengan bahasa Inggris?
Mereka menjawab “Iya”! Lalu dia gembira, menangis, kemudian berkata: ”Aku adalah seorang gadis dari Indramayu Jawa Barat Indonesia, kisahku begini… Aku tidak punya uang, dan tempat tinggal, aku ingin kembali kenegaraku, aku hanya menginginkan darimu tempat perlindungan saja, kira-kira selama dua atau tiga hari, sehingga aku dapat mengatur rencana bersama keluarga dan saudara yang ada di negeraku”.
Pemuda itu adalah aku. Namaku Ahmad Kholid yang berperawakan seperti orang Indonesia padahal aku adalah tulen orang Arab. Aku mulai berfikir sejenak tentang permasalahannya, bisa jadi ini adalah tipuan atau dia adalah seorang penipu! Gadis itu memandang kepadaku lalu menangis. Akupun minta pertimbangan kepada ibu dan dua orang saudariku. Akhirnya, aku membawanya ke rumah. Gadis itu mulai menghubungi keluarganya, akan tetapi tidak ada yang menjawab. Sinyal di negaranya terputus! Dia coba untuk mengulangi kembali, menelpon keluarganya setiap satu jam. Akhirnya, aku, ibu dan kedua saudariku mengetahui bahwa gadis itu beragama nashroni. Namun kami tetap bersikap lemah lembut terhadapnya dan gadis itu menyukai kami. Kemudian kami menawarkan Islam kepadanya, tetapi dia menolaknya. Ia tidak mau, bahkan pada dasarnya dia tidak suka untuk berdiskusi tentang masalah Agama. Karena dia adalah dari keluarga (ortodok) yang fanatik benci kepada Agama Islam dan kaum muslimin. Kemudian aku pergi ke Islamic Center untuk tujuan berdakwah kepadanya. Aku memberikan kepada gadis itu suatu buku tentang Agama Islam yang berbahasa Indonesia. Gadis itu membacanya lantas tertarik. Beberapa hari telah berlalu, dia mulai perhatian terhadap kajian-kajian ke-Islaman dan antusias terhadap majlis wanita sholihah. Ia takut kembali ke negaranya, karena bisa menyebabkannya kembali ke Agama nashroninya dulu.